Disunatin


“Min… Bilangin Pak Ustadz yak, besok ane gak ngaji dulu”, kata Ali kepada Amin.

“Emang ente mau kemana Li?”, tanya Amin kemudian.

“Besok ane mau ke Rumah Sakit…”, jawab Ali.

“Lah, emangnya siapa yang sakit?”, tanya Amin penasaran.

“Gak ada yang sakit… cuma ane mau disunatin”, jawab Ali cepat.

“Oooh… mau sunat. Kalo itu mah ane udah pernah ngalamin”, kata Amin.
“Kan waktu ane bayi, umur berapa hari, Abi minta ke dokter supaya ane disunat…”, sambung Amin.

“Emang gimana sih rasanya disunat?”, tanya Ali ingin tahu sambil sedikit khawatir.

“Bayangin aja… Ane sampe gak bisa jalan 1,5 tahun!!!”, sergah Amin.

In Syaa Allah


Kita sering kali berkata “In syaa Allah” namun jarang ada yang mengerti ketika kata In syaa Allah itu diucapkan maka konsekuensinya 99,9% kita harus menepati janji.
Nah, orang Indonesia sering banget melakukan “God Logic Error”, kesalahan berlogika karena beranggapan kalau sudah membawa-bawa nama Tuhan, maka tentu apapun itu tidak bisa membuat orang yang mengucapkannya bisa disalahkan.
Kata In syaa Allah sebenarnya hanya digunakan untuk menyatakan suatu janji yang disertai tekad atau upaya, tetapi mungkin masih ragu akan keberhasilannya, karena semua atas ijin Allah, namun janji itu tetap menekankan sebuah kepastian/keberhasilan, maka kadarnya 99,9% PASTI!
Kesalahan yang banyak dilakukan orang Indonesia dengan kata ini, seolah-olah kita boleh ingkar janji dan tidak perlu meminta maaf karena sudah mengucapkan kata ini.

Padahal, orang yang ingkar janji mempunyai tiga kewajiban. Pertama, melakukan konfirmasi atau pemberitahuan bahwa dia terpaksa tidak bisa menepati janji. Kedua, harus ada alasan yang kuat. Ketiga, tidak mengulangi kesalahannya lagi.

Selain telah membuat orang lain kecewa sebenarnya kita juga telah membuat Allah kecewa karena ketika kita mengucapkan kata itu berarti kita telah melibatkan Allah, dan jika kita tidak menunaikan janji kita maka sama saja kita menganggap Allah yang telah membuat kita tidak bisa memenuhi janji itu. Nah lho!

Semoga saya dan Anda tidak termasuk orang-orang Indonesia… eh salah, tidak termasuk orang yang demikian… :p

Romantisnya Rasulullah SAW


Tahukah Anda betapa romantisnya Rasulullah? Inilah beberapa riwayat yang menceritakannya.

Orang yang pertama kali mengimani beliau sebagai Rasul Allah adalah seorang perempuan. Dialah Khadijah bint Khuwailid Ra.

Jauh setelah Khadijah wafat, beliau masih sering memberikan hadiah ataupun pemberian kecil kepada sahabat-sahabat Khadijah, sebagai kenang-kenangan atas cinta pada Ibundanya semua orang Mukmin.

Salah satu contoh yang menunjukkan betapa berartinya Khadijah di hati Rasulullah SAW adalah peristiwa yang terjadi di tahun 8 Hijriah, 11 tahun setelah wafatnya Khadijah. Pada hari pembebasan Mekah (Futuh Makkah), Rasulullah SAW menunjuk Zubair ibn Awwam untuk memimpin sekelompok pasukan Muhajirin dan Anshar. Beliau menyerahkan panji pasukan dan memerintahkan Zubair untuk menancapkannya di Hujun, sebuah dataran tinggi di Mekah. Beliau berpesan, “Jangan tinggalkan tempat engkau tancapkan panji ini hingga aku mendatangimu”. Sesampainya di Hujun, Abbas ibn Abdil Muththalib berkata kepada Zubair, “Wahai Zubair, di sinilah Rasulullah memerintahkanmu untuk memancangkan panji pasukan”. Di Hujun itulah terletak makam Khadijah. Tempat itu yang dipilih Rasulullah SAW sebagai pusat komando dan pengawasan pasukan Islam pada perang pembebasan Mekah. Dari sana pula beliau memasuki kota Mekah, pada hari ketika kaum muslimin berhasil mengalahkan kaum kafir Quraisy, ketika orang-orang memeluk Islam secara berbondong-bondong, ketika agama tauhid menghancurkan kemusyrikan. Pada hari yang bersejarah itu, Ka’bah dan Masjidil Haram dibersihkan dari berhala-berhala. Saat itu pula Rasulullah SAW membacakan ayat, “Dan katakanlah, ‘Kebenaran telah datang dan yang batil telah lenyap’. Sungguh, yang batil itu pasti lenyap”. (Al-Isra’ 17: 81). Dari makam orang yang paling dicintainya itulah Rasulullah SAW akhirnya memenangkan peperangan dan membebaskan Mekah.

Pada riwayat yang lain, suatu ketika Rasulullah SAW sedang duduk dalam sebuah ruangan bersama Sayyiidatina Aisyah Ra. sambil memperbaiki sepatunya. Suasananya romantis sekali. Aisyah memandangi wajah Rasul yang yang selalu diberkahi dan dilihatnya bulir-bulir keringat nampak keluar dari dahinya. Aisyah merasa takjub dengan keagungan beliau sehingga ia pun menatapnya begitu lama hingga akhirnya Rasul menyadari akan hal itu. Tanyanya pada Aisyah, “Ada apa?”

Dia menjawab, “Jika Abu Bukair Al-Huthali, sang penyair, melihatmu, ia akan segera tahu bahwa puisi yang ditulisnya itu pasti untukmu.” Rasulullah SAW bertanya, “Apa yang dia katakan?” Aisyah menjawab, “Abu Bukair mengatakan bahwa jika kamu melihat keindahan rembulan, ia terang benderang dan menerangi dunia bagi semua orang yang melihatnya.”

Kemudian Rasulullah SAW bangkit dan berjalan menuju Aisyah, mengecup dahinya diantara mata, dan berkata, “Demi Allah ya Aisyah, demikian juga kamu, seperti itu bagiku dan bahkan lebih….” (Diriwayatkan dalam Al-Dala’el Nubuwa oleh Imam Abu Nu’aim dengan sana dari Imam Bukhari dan Imam Ibnu Khuzaina).

Rasulullah juga memberikan nama kesayangan pada Sayyidatina Aisyah, Ra. Hummaira (yang kemerah-merahan), namun selain itu ia nemiliki julukan yang tak kalah bagusnya seperti habibah habib Allah, “yang terkasih dari kekasih Allah” ataupun Shiddiqa bint Ash-Shiddiq, gelar yang diturunkan dari Ayahnya Abu Bakar Ash-Shiddiq.

Dari Ibnu ‘Assakir meriwayatkan Sayyidatina Aisyah Ra. berkata bahwa Rasulullah SAW mengatakan kepadanya. “Aku tidak takut untuk mati, (karena) tahu bahwa kamulah istriku di surga”.

Bayangkan emosi Aisyah saat itu, setelah mendengar kata-kata yang menjamin keamanan, cinta dan kedamaiannya dalam kehidupan ini dan di akhirat kelak.

Suatu ketika Sayyidatina Aisyah Ra. bertanya pada Rasulullah SAW, “Seperti apa cintamu untukku?” *Seperti simpul tali”, jawabnya -yang berarti bahwa cinta beliau pada Aisyah kuat dan aman.

Dalam banyak kesempatani setelah itu, Aisyah bertanya lagi padanya, “Bagaimana simpul talinya?” dan Rasulullah SAW pun selalu menjawab, “‘Ala haaliha! -masih sama seperti biasanya!”

Di beberapa negara Muslim, bahkan sampai saat ini, sepasang kekasih membuat simpul tali sebagai simbol dari cinta dan kesetiaan manakala mereka harus terpisah jarak dan waktu.

Anas bin Malik menceritakan, “Saya melihat Rasulullah SAW, membuatkan untuk istrinya (Safiyah) bantal dengan jubahnya untuk pelana (pada untanya). Beliau kemudian berlutut di samping untanya dan kemudian memberikan lututnya (yang lain) agar Safiyah memijakkan kakinya, supaya Safiyah dapat naik (ke atas unta)”. (Sahih Al-Bukhari)

Maka siapa lagi jika bukan Rasulullah SAW sebaik-baik contoh dàn tauladan dàlam mencinta bagi kita, umatnya?

Disarikan kembali oleh Fajar Wisesa dari berbagai sumber.

 

JONGOS Bukan Petugas Partai


Kata Jongos aslinya berasal dari kata Jongens dalam Bahasa Belanda yang artinya pemuda. Entah karena terselip lidah atau apa maka kata Jongens tadi berubah menjadi Jongos. Seperti juga Holland yang berubah menjadi Walanda dan kemudian berubah baku menjadi Belanda.

Kembali kepada kata Jongos, KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia) memberi arti jongos/jo·ngos/ n adalah pembantu rumah tangga (laki-laki); pelayan; bujang. Kata ‘jongos’ juga sering digunakan sebagai bahan olokan dan memang bermakna jelek di masyarakat. Namun begitu jongos tidak melulu berarti buruk apalagi jika itu berhubungan erat dengan pengabdian kepada bangsa dan negara.

Seorang pemimpin negara adalah orang yang terpilih -The Special One. Maka ia terpilih sebagai sebaik-baiknya “JONGOS”, pelayan terbaik. Semakin tinggi jabatannya, MAKA SEHARUSNYA semakin baik pelayanannya, semakin hebat kualiatasnya sebagai pelayan dan pengabdi bagi masyarakatnya, bagi warganya.

Namun Inilah ironi bagi negeri ini, pemimpinnya tidak memahami perannya sendiri. Dia itu “JONGOS” TERBAIK DAN SEBENAR-BENARNYA “JONGOS” BAGI INDONESIA, bukan malahan menjadi “jongos” untuk golongannya. Dia seharusnya memberi contoh menjadi SEBENAR-BENARNYA “JONGOS” tanpa harus bermental JONGOS.

Operasi Badai yang Kokoh (‘Ashifatul Hazm)


Banyak orang bicara ‘Ashifatul Hazm sebagai bentuk invasi Saudi terhadap kedaulatan Yaman. Mereka bicara dengan data yang sedikit dan kadang dicampur berita rumor.

Contohnya persoalan Yaman adalah masalah dalam negeri Yaman. Padahal masalah Yaman sudah menyeret begitu banyak perhatian negara-negara teluk (GCC). Persoalan Yaman sudah dibicaran jauh-jauh hari di tahun 2011. Bahkan oleh mereka yang merasa mengerti tentang demokrasi. Dan yang lebih menggelikan adalah isu tentang Israel yang membantu Saudi dalam operasi ini, rumor yang pertama kali dihembuskan oleh Teheran, Iran

Pemerintahan Presiden Abd Rabbo Mansour Hadi adalah pemerintah yang sah dari hasil pemilu yang diakui dunia. Sampai akhirnya pèmerintahan Hadi dikudeta oleh milisi Houthi dengan bantuan rezim penguasa lama, diktator Ali Abdullah Saleh yang jelas-jelas memboikot pemilu yang sah.

Banyak pengamat mencoba mengalihkan masalah ini sebagai langkah Saudi untuk mengamankan jalur pendistribusian minyak di Bab El Mandeb. Sesempit itukah? 

Saudi mendapat undangan resmi dari Presiden Hadi untuk mengambil langkah militer mengeyahkan hegemoni Houthi yang menteror seluruh Yaman semenjak September 2014. Presiden Hadi sendiri pernah diserang di kediamannya. Selain itu, ancaman Houthi terhadap 2 kota suci di Makkah dan Madinah, telah membuat Saudi tak punya pilihan lain untuk melaksanakan Operasi ini dengan dukungan negara teluk lainnya

Houthi yang didukung oleh Iran -yang malu-malu anjing- juga telah memprovokasi Saudi pada tahun 2009. Mereka kini dengan pengecutnya meletakkan persenjataan anti udara di atas gedung-gedung sekolah dan Madrasah di Yaman. 

Operasi ini masih akan terus berlanjut, sampai pemerintahan Yaman yang sah kembali berdaulat.

‪#‎justsaying‬