Romantisnya Rasulullah SAW


Tahukah Anda betapa romantisnya Rasulullah? Inilah beberapa riwayat yang menceritakannya.

Orang yang pertama kali mengimani beliau sebagai Rasul Allah adalah seorang perempuan. Dialah Khadijah bint Khuwailid Ra.

Jauh setelah Khadijah wafat, beliau masih sering memberikan hadiah ataupun pemberian kecil kepada sahabat-sahabat Khadijah, sebagai kenang-kenangan atas cinta pada Ibundanya semua orang Mukmin.

Salah satu contoh yang menunjukkan betapa berartinya Khadijah di hati Rasulullah SAW adalah peristiwa yang terjadi di tahun 8 Hijriah, 11 tahun setelah wafatnya Khadijah. Pada hari pembebasan Mekah (Futuh Makkah), Rasulullah SAW menunjuk Zubair ibn Awwam untuk memimpin sekelompok pasukan Muhajirin dan Anshar. Beliau menyerahkan panji pasukan dan memerintahkan Zubair untuk menancapkannya di Hujun, sebuah dataran tinggi di Mekah. Beliau berpesan, “Jangan tinggalkan tempat engkau tancapkan panji ini hingga aku mendatangimu”. Sesampainya di Hujun, Abbas ibn Abdil Muththalib berkata kepada Zubair, “Wahai Zubair, di sinilah Rasulullah memerintahkanmu untuk memancangkan panji pasukan”. Di Hujun itulah terletak makam Khadijah. Tempat itu yang dipilih Rasulullah SAW sebagai pusat komando dan pengawasan pasukan Islam pada perang pembebasan Mekah. Dari sana pula beliau memasuki kota Mekah, pada hari ketika kaum muslimin berhasil mengalahkan kaum kafir Quraisy, ketika orang-orang memeluk Islam secara berbondong-bondong, ketika agama tauhid menghancurkan kemusyrikan. Pada hari yang bersejarah itu, Ka’bah dan Masjidil Haram dibersihkan dari berhala-berhala. Saat itu pula Rasulullah SAW membacakan ayat, “Dan katakanlah, ‘Kebenaran telah datang dan yang batil telah lenyap’. Sungguh, yang batil itu pasti lenyap”. (Al-Isra’ 17: 81). Dari makam orang yang paling dicintainya itulah Rasulullah SAW akhirnya memenangkan peperangan dan membebaskan Mekah.

Pada riwayat yang lain, suatu ketika Rasulullah SAW sedang duduk dalam sebuah ruangan bersama Sayyiidatina Aisyah Ra. sambil memperbaiki sepatunya. Suasananya romantis sekali. Aisyah memandangi wajah Rasul yang yang selalu diberkahi dan dilihatnya bulir-bulir keringat nampak keluar dari dahinya. Aisyah merasa takjub dengan keagungan beliau sehingga ia pun menatapnya begitu lama hingga akhirnya Rasul menyadari akan hal itu. Tanyanya pada Aisyah, “Ada apa?”

Dia menjawab, “Jika Abu Bukair Al-Huthali, sang penyair, melihatmu, ia akan segera tahu bahwa puisi yang ditulisnya itu pasti untukmu.” Rasulullah SAW bertanya, “Apa yang dia katakan?” Aisyah menjawab, “Abu Bukair mengatakan bahwa jika kamu melihat keindahan rembulan, ia terang benderang dan menerangi dunia bagi semua orang yang melihatnya.”

Kemudian Rasulullah SAW bangkit dan berjalan menuju Aisyah, mengecup dahinya diantara mata, dan berkata, “Demi Allah ya Aisyah, demikian juga kamu, seperti itu bagiku dan bahkan lebih….” (Diriwayatkan dalam Al-Dala’el Nubuwa oleh Imam Abu Nu’aim dengan sana dari Imam Bukhari dan Imam Ibnu Khuzaina).

Rasulullah juga memberikan nama kesayangan pada Sayyidatina Aisyah, Ra. Hummaira (yang kemerah-merahan), namun selain itu ia nemiliki julukan yang tak kalah bagusnya seperti habibah habib Allah, “yang terkasih dari kekasih Allah” ataupun Shiddiqa bint Ash-Shiddiq, gelar yang diturunkan dari Ayahnya Abu Bakar Ash-Shiddiq.

Dari Ibnu ‘Assakir meriwayatkan Sayyidatina Aisyah Ra. berkata bahwa Rasulullah SAW mengatakan kepadanya. “Aku tidak takut untuk mati, (karena) tahu bahwa kamulah istriku di surga”.

Bayangkan emosi Aisyah saat itu, setelah mendengar kata-kata yang menjamin keamanan, cinta dan kedamaiannya dalam kehidupan ini dan di akhirat kelak.

Suatu ketika Sayyidatina Aisyah Ra. bertanya pada Rasulullah SAW, “Seperti apa cintamu untukku?” *Seperti simpul tali”, jawabnya -yang berarti bahwa cinta beliau pada Aisyah kuat dan aman.

Dalam banyak kesempatani setelah itu, Aisyah bertanya lagi padanya, “Bagaimana simpul talinya?” dan Rasulullah SAW pun selalu menjawab, “‘Ala haaliha! -masih sama seperti biasanya!”

Di beberapa negara Muslim, bahkan sampai saat ini, sepasang kekasih membuat simpul tali sebagai simbol dari cinta dan kesetiaan manakala mereka harus terpisah jarak dan waktu.

Anas bin Malik menceritakan, “Saya melihat Rasulullah SAW, membuatkan untuk istrinya (Safiyah) bantal dengan jubahnya untuk pelana (pada untanya). Beliau kemudian berlutut di samping untanya dan kemudian memberikan lututnya (yang lain) agar Safiyah memijakkan kakinya, supaya Safiyah dapat naik (ke atas unta)”. (Sahih Al-Bukhari)

Maka siapa lagi jika bukan Rasulullah SAW sebaik-baik contoh dàn tauladan dàlam mencinta bagi kita, umatnya?

Disarikan kembali oleh Fajar Wisesa dari berbagai sumber.

 

Ridwan Kamil itu Kerja


ridwan kamilDefinisi kerja sekarang berubah dengan cepat dalam kurun 2 tahun ini…

 

Kerja itu identik dengan…

Keluar masuk kemana-mana baik, kampung, pasar, instansi pemerintah, dll…
Menyasar ke got-got dan selokan…
Janji menciptakan produk nasional dan Swasembada serba segala…
Meningkatkan ekonomi kerakyatan…

Walaupun gak ada yang selesai…

 

Atau rajin tampil di media dengan berbagai gaya…
Kadang bisa sangat santai dan cengengesan…
atau kadang marah-marah dengan dengan kata yang sangat keras…

Walaupun sekali lagi… hasil kerja belum lagi kelihatan…
Semuanya masih tetap sama…

 

Dan yang lebih ironi lagi, kini tumbuh fans-fans berat yang lagi-lagi tergila-gila pada retorika dibanding hasil kerja…

 

Saya suka Kota Bandung…
Walikotanya santun…
Hasil kerjanya kelihatan dan nyata tanpa banyak retorika…
Dan yang lebih mangstab lagi…
5 Tahun itu hutang…
Dan kini dia berkata sedang “mencicil perubahan”…

Semoga mau pindah ke Jakarta…
Dan akhirnya Indonesia….

Maukah Kamu Dek?


11025783_10205812898418984_5711643432761845593_nSuami: “Dek… Kamu sudah Sholat Ashar?”

Istri: “Belum Mas…”

Suami: “Loh kenapa? Ini kan sudah masuk waktunya… Adzan sudah dari 10 menit yang lalu Dek…”

Istri: “Nanti Mas… Aku masih capek, kan baru pulang kantor ini… Aku mau tidur sebentar aja…”

Suami: “Yo wis…. Tapi jangan lupa sholat Asharnya… Jangan sampe kelewatan Maghribnya…”

Esoknya Si Suami pergi Dinas Luar, dan baru beberapa jam kemudian ia sampai ke tempat tugasnya. Sang Istri, seperti biasa menunggu teleponnya. Ia terus menunggu, tak ada telepon atau SMS untuknya kali itu, sampai akhirnya ia tak tahan lagi. Ia sangat terganggu dan rasa khawatirnya memuncak. Ia menghubungi sang suami lewat telepon genggamnya. 1 kali… 2 kali… 3 kali… tapi tetap saja tak ada jawaban dari Suaminya. Ia bertambah khawatir.

Setelah beberapa jam Si Suami menelepon Sang Istri.

istri: “Assalamu’alaikum Mas… Kamu gak kenapa-napa kan Sayang?”

Suami: “Wa’alaikumussalam Dek… Alhamdulillah, aku baik-baik saja…”

Istri: “Kamu nyampe disana jam berapa sih?”

Suami: “Kayaknya udah 4 jam-an deh…

Istri: (terkejut) Udah 4 jam?! Kamu koq gak nelpon aku?!

Suami: “Aku agak capek tadi… Terus ketiduran….”

Istri: “(Agak marah) Tapi kamu kan bisa nelpon aku sebentar! Kan cuma perlu berapa menit doang Mas! Kamu gak denger bunyi HP?!”

Suami: “(Santai) Denger sih….”

Istri: “Terus kenapa kamu gak jawab?! Kamu udah gak perhatian lagi…!”

Suami: “(Terdiam) Tapi kemarin kamu juga begitu… Gak perhatian juga… Padahal itu Adzan… Panggilan Allah….

Istri: “(Terdiam kelu, air matanya mulai mengembang dari matanya, lalu jatuh menetes menyusuri pipinya) Maafin aku ya Mas…”

Suami: “Jangan meminta maaf sama aku Dek… Minta maaflah pada Allah….Kamu tahu gak? Aku masih berharap kita berdua, bersama-sama menuju SurgaNya… Maukah kamu Dek?

Ibumu…


momIbumu akan selalu bersamamu. Dia adalah daun-daun berbisik yang selalu menyertai langkahmu. Dia adalah harumnya setiap masakan yang selalu menggugah seleramu, wanginya bunga yang kau petik, aroma dalam kehidupanmu.

Dia bagaikan tangan dingin yang diletakkan di keningmu saat kau demam. Dia adalah hembusan nafasmu saat kau menggigil kedinginan. Dia bagaikan irama hujan yang mengantarmu ke dalam buaian, indahnya pelangi, dia bagaikan pagi di hari raya.

Ibumu akan selalu hidup dalam setiap tawamu, dari dialah tempatmu berasal, rumah pertamamu, dan dialah atlas pertamamu dari setiap langkah yang akan kau jalani.

Dia adalah cinta pertamamu, sahabat pertamamu, bahkan juga mungkin musuh pertamamu, namun itu semua tak akan mampu memisahkanmu dengan dia, tidak juga ruang dan waktu… Dan tidak juga oleh kematian.

Dia Ibumu…

Bahkan (sebenarnya) Mereka itu Hidup, tetapi Kamu Tidak Menyadarinya…


gaza

 

Di Gaza, di antara puing-puing yang berserakan, seorang laki-laki mencari mereka yang selamat, sambil kemudia ia berteriak, “Tak ada yang hidup, mereka semua mati!” sampai beberapa saat kemudian ia menemukan ayat ini dari Quran yang tercabik,

وَلاَ تَقُولُواْ لِمَنْ يُقْتَلُ فِي سَبيلِ اللّهِ أَمْوَاتٌ بَلْ أَحْيَاء وَلَكِن لاَّ تَشْعُرُونَ

“Dan janganlah kamu mengatakan terhadap orang-orang yang gugur di jalan Allah, (bahwa mereka itu) mati; bahkan (sebenarnya) mereka itu hidup, tetapi kamu tidak menyadarinya”. QS. 2: 154.