Kisah tentang Seorang Muslimah yang Ditahan oleh Orang Romawi


Al-Mu'tasimKejadian ini terjadi pada masa Kekhalifahan Islam pada tahun 837 M.

Seorang Muslimah ditahan oleh orang Romawi di sebuah kota bernama ‘Amuriyyah (Amorium). Ia hanya diserang, tidak sampai tidak diperkosa, tidak sampai dibunuh, tidak sampai dibinasakan. Bahkan tidak sampai disembelih seperti Saudari-saudari Muslimah di Irak, Palestina, Kashmir ataupun Bosnia. Perutnya tidak sampai disayat hidup-hidup, kemudian bayinya diambil secara paksa, dan ditinggalkan mati begitu saja seperti Saudari-saudari Muslimah di Bosnia, Gujarat dan Suriah. Tidak sampai seperti itu. Dia hanya disiksa dan dipenjarakan tanpa alasan yang jelas. Dalam keadaan ketakutan dan sendirian yang bisa dilakukannya adalah memanggil nama Sang Khalifah, Ya… Al-Mu’tasim.

Seorang pria menyaksikan kejadian ini dan ia bergegas menemui Sang Khalifah, ia menginformasikan kepadanya tentang apa yang terjadi. Saat ia mendengar nasib Muslimah ini, dia menjawab dengan berani, “Labbaik” (Saya siap atas panggilanmu). Kemudian ia segera menyiapkan pasukan dalam jumlah besar dan berangkat berperang untuk menyelamatkan Muslimah tersebut. Bala tentara Al-Mu’tasim akhirnya dapat mengalahkan musuh dan memasuki Kota ‘Amuriyyah. Setelah menghancurkan benteng musuh, mereka akhirnya membebaskan Muslimah tersebut.

Ketika berita ini pertama kali sampai kepada Khalifah Al-Mu’tasim Billah (Abu Ishaq ‘Abbas al-Mu’tasim ibn Harun al-Rashid, أبو إسحاق عباس بن هارون الرشيد, ia segera mengumandangkan panggilan Adzan sebanyak 6 kali di masjid-masjid dan segera seluruh Muslim di negeri itu berkumpul. Dan mereka bertanya, “Apa yang terjadi?” Dia berkata, “Aku telah mendapat laporan bahwa seorang saudari Muslimah kita ditahan dalam sebuh kota milik Roma”. Dia berkata lagi, “Wallahi” (Aku bersumpah demi Allah), Aku akan mengirim tentara yang begitu besar bahkan jika pasukan terdepan mencapai kota itu maka pasukan terakhir baru akan meninggalkan baraknya. Beritahukan kepadaku kota terkuat Roma ini dan aku akan mengirim tentara ke kota itu”. Ini adalah respon yang cepat dan tepat dari Sang Khalifah ketika kehormatan seorang Muslimah diganggu.

Ketika tentara Al-Mu’tasim menaklukkan kota milik Roma tersebut, dia bersikeras membuka sendiri penjara Muslimah itu dan dia memang melakukannya. Dan ketika Muslimah itu melihat Sang Khalifah, dia kagum dan terkejut. Sang Khalifah tersenyum dan berkata “Aku mendengar panggilanmu, Saudariku.”

Khalifah Al-Mu’tasim mengirimkan seluruh bala tentaranya dalam menanggapi panggilan untuk membantu seorang Muslimah, yang ditahan oleh orang Romawi, dan menyelamatkannya. Dia adalah contoh penguasa Muslim yang patut dikenang dalam membela Islam dan caranya menghormati Muslimin dan dan Muslimah. Apakah kita melihat hal ini dalam diri “penguasa-penguasa boneka” pada hari ini? Mereka semua buta, tuli dan diam pada semua kekejaman yang dilakukan terhadap saudara-saudari kita.

Semoga Allah SWT memberikan umat ini penguasa sekaliber Khalifah Al-Mu’tasim Billah.

Aamiin

Disunting dari catatan Imam ibn Atsir dalam Kisah ‘Kamil’

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s