Bercermin pada Umar dan Pemerintahannya


__umar_ibn_al_khattab_by_kaela16-d4tk0tyUmar adalah Khalifah Islam pertama yang memiliki daerah taklukan paling luas namun begitu hal tersebut tidak mengubah gaya hidupnya yang sederhana dan bersahaja, karena dalam pandangannya masalah di dunia ini adalah hal yang remeh.

Untuk mencukupi kebutuhan diri dan keluarganya, kaum muslimin telah menetapkan haknya dari Baitul Maal yang notabene bisa dikatakan hanya cukup untuk dia dan keluarganya, jika tidak bisa dikatakan pas-pasan. Hal ini memang telah berlangsung dari masa Abu Bakar sewaktu menjadi Khalifah sebelumnya.

Harta Ghonimah (rampasan perang) yang diperoleh Umar tidak lebih dari yang juga diterima orang lain, meskipun ia seorang Khalifah -seorang yang memiliki jabatan setara dengan Presiden pada saat ini (kata orang dungu yang tidak bisa membedakan antara khalifah dengan Presiden)- namun ia tidak melihat bahwa dengan menjadi Khalifah ia harus mendapatkan hak yang lebih dari yang lain.

Suatu saat ia pernah ditanya tentang harta atas karunia Allah apa yang diperbolehkan untuk dirinya, maka jawabnya, “Jawabanku pada kalian, yang dianggap boleh dari harta itu untuk diriku adalah dua pasang. Sepasang untuk musim dingin dan sepasang lagi untuk musim panas. Dan itu yang aku gunakan untuk menunaikan ibadah haji dan umrah. Yang aku dan keluargaku makan, seperti yang biasa dimakan oleh keluarga-keluarga Quraisy, bukan dari mereka yang terkaya namun juga bukan dari mereka yang termiskin. Selain itu, aku juga sama seperti dengan Muslimin yang lain, apa yang aku peroleh sama dengan yang mereka peroleh.”

Pada kali yang lain ia pernah juga berkata, “Aku menempatkan harta Allah seperti aku memperlakukan harta anak-anak yatim. Jika sudah terasa cukup bagiku, maka saya cukupkan (berhenti). Jika terasa kurang maka aku gunakan selayaknya (hemat).” Umar selalu berusaha menghindari apa yang ada di Baitul Maal yang terkadang hal tersebut membuat hidupnya dalam keadaan serba sulit.

Umar pernah mengeluh, kemudian ia ditawari madu, kebetulan di Baitul Maal masih ada satu pasu madu. Ia pun naik ke atas mimbar seraya berkata, ”Jika kalian semua mengijinkan… Madu ini untukku, jika tidak, berarti haram madu ini untukku”. Maka segenap mereka yang ada disitu mengijinkannya untuk meminum madu tersebut. Kaum Muslimin sering kali mendapati Umar begitu ketat terhadap dirinya sendiri, sampai-sampai mereka mendatangi putrinya Hafshah dan mengatakan, “Umar begitu ketat pada dirinya. Padahal Allah telah melimpahkan rizqi-Nya, hendaklah ia menikmati hasil rampasan perang itu sesuka ia. Sesungguhnya jama’ah telah memberikan keleluasaan baginya.” Kemudian Hafshah menyampaikan hal itu pada ayahnya. Berkata Umar, “Ya Hafshah, putrinya Umar, engkau nasihati mereka yang mau menipu ayahmu ini. Katakan! Keluargaku hanya berhak atas diri dan hartaku, namun TIDAK untuk agama dan amanah yang diberikan padaku!”

Umar termasuk yang tidak ingin membeda-bedakan dirinya dengan kaum Muslimin yang lain. Pada kesempatan lain dikisahkan ia mendapat kiriman bahan pakaian Burd dari Yaman. Kemudian ia membagi-bagikannya kepada setiap kaum muslimin. Setiap orang mendapat bagian sehelai, dan ia pun mendapatkan sehelai. Saat bahan pakaian yang telah dipotongnya menjadi kemeja, kemudian ia menyeru pada kaum muslimin untuk berjihad, namun pada saat itu ada seseorang yang menyela perkataannya, “Aku tak perlu menaati seruanmu wahai Umar!” “Mengapa?”, tanyanya. Orang itu menjawab, “Karena engkau lebih mementingkan dirimu daripada kami. Sehelai burd Yaman ini tidak cukup untuk membuat sebuah kemeja, apalagi dengan perawakan tubuhmu yang tinggi. Lalu mengapa engkau dapat membuatnya menjadi sebuah kemeja?” Umar kemudian menoleh kepada putranya Abdullah seraya berkata, “Abdullah, jawablah!” Abdullah berkata, “Aku memberikan burdku untuk ayahku agar ia cukup membuat sebuah kemeja.” Lalu orang itupun berkata, “Jika begitu sekarang saya taat padamu.”

Umar tidak pernah memiliki ambisi untuk menjadi Khalifah karena dirinya sendiri, namun ia menganggap bahwa dirinya adalah pengawal harta kaum Muslimin, persatuan dan kemerdekaan yang jujur. Hal ini membuatnya dekat dengan semua orang dan dicintai, dan lebih-lebih lagi kaum muslimin mencintainya karena kedudukannya sebagai Khalifah yang juga sebagai ayah bagi mereka, yang harus memikul semua tanggung jawab dan kewajiban terhadap kaum Muslimin, seperti kewajiban ayah pada anak-anaknya. Rasa kasih sayang dan kerelaan berkorban merupakan sifat kebapakan yang paling suci dan mulia. Umar adalah orang yang penuh dengan kasih sayang dan memberikan pengabdian yang lebih bagi mereka yang memerlukan kasih sayang. Menurut Umar, kasih sayang dan pengabdian adalah salah satu kewajiban pemerintah, sama halnya dengan menegakkan keadilan dan memelihara perdamaian dan keamanan.

Kiranya kisah-kisah berikut menggambarkan betapa mulianya Umar sebagai pemimpin umat dan negara. Suatu malam Umar berjalan ke pinggiran kota ditemani pembantunya, Aslam (ini bukan blusukan model pencitraan yang dikampanyekan oleh petugas partai itu :p). Ketika itu mereka sampai di sebuah rumah berbilik bulu domba. Dari luar terdengar suara erangan seorang perempuan, ternyata ia hendak melahirkan. Ketika ditanya keadaannya, perempuan itu menjawab, “Kami musafir disini dan tak memiliki apa-apa”. Umar segera kembali pulang. Sesampainya dirumah ia berkata pada istrinya Ummu Kultsum, “ya Ummu Kultsum putrinya Ali bin Abi Thalb, maukah engkau diberikan pahala yang diberikan Allah langsung kepadamu?” Lalu diceritakanlah kejadian itu. “Ya”, jawab Ummu Kultsum. Umar kemudian membawa sekarung tepung dan lemak yang ia pikul sendiri di atas punggungnya, sedang Ummu Kaultsum membawa semua yang diperlukan untuk persalinan. Sementara Ummu Kultsum membantu persalinan perempuan itu, Umar berbincang-bincang dengan suaminya, yang tidak mengenal bahwa orang yang sedang berbincang-bincang dengannya adalah seorang Khalifah! Akhirnya persalinan selesai. Perempuan itu melahirkan seorang putra. Kemudian Ummu Kultsum berkata, “Amirul mukminin, beri selamat pada saudaramu, istinya melahirkan seorang putra. Mendengar hal tersebut, lelaki itu merasa apa yang telah dilakukan seorang Umar terlalu besar bagi dirinya yang bukan apa-apa, ia pun segera meminta maaf. “Tidak mengapa!”, kata Umar. Setelah memberikan semua yang diperlukan pasangan itu, Umar dan Ummu Kultsumpun pergi.

Pada malam yang lain Umar mendengar suara tangis bayi. Ia datang ke arah sumber suara tersebut. Kemudian ia mendatangi ibu bayi tersebut, katanya “Takutlah kepada Allah. Kasihanilah bayimu!” Tak lama ia melangkah pergi, bayi itu menangis lagi. Ia pun mengulangi apa yang ia katakan sebelumnya kepada ibu bayi itu. Sesudah lewat tengah malam terdengar lagi tangis bayi itu. Lalu Umar mendatanginya, katanya, “Engkau ini ibu yang jahat! Mengapa sepanjang malam bayimu tak pernah berhenti menangis?” “Ya Hamba Allah”, kata ibu si bayi. “Aku sudah berusaha membuatnya berhenti menangis dengan memberikannya makan, tapi ia tak mau berhenti menangis.” “Mengapa?”, tanya Umar. “Karena Umar menentukan pemberian (tunjangan hidup) hanya kepada mereka yang bayinya sudah disapih”, jawabnya. “Berapa umur bayimu?”, tanya Umar lagi. Sekian dan dan sekian bulan kata ibu bayi itu. “Celaka!”, kata Umar. “Janganlah engkau cepat-cepat menyapih bayimu”, kata Umar lagi. Selepas Sholat Shubuh Umar menyeruak ke tengah-tengah orang banyak, katanya, “Celakalah Umar! Sudah berapa banyak bayi-bayi Muslimin yang mati?!” Kemudian ia memerintahkan disebarkan dan diumumkan ke khalayak ramai, perintahnya, “Janganlah cepat-cepat menyapih bayi kalian. Pemberian (tunjangan hidup) akan diberikan pada semua bayi yang dilahirkan dalam wilayah Islam.” Setelah itu perintah tersebut diformalkan dan disebarkan seluruh penjuru negeri.

Sepertinya tak ada orang yang tak tahu kisah paling terkenal dari Umar yang satu ini. Suatu malam saat ia sedang berjalan ke pinggiran kota, ia mendapati seorang perempuan yang anak-anaknya sedang menangis meraung-raung di sekeliling kuali yang sedang dijerang di atas api. Umar bertanya pada perempuan itu, “mengapa anak-anakmu menangis meraung-raung seperti itu?” “Mereka lapar”, kata perempuan itu. “Apa yang kau jerang dalam kuali itu?”, tanya Umar lagi. “Air… Untuk menghibur mereka supaya mereka cepat tertidur… Antara kami dan Umar hanyalah Allah…”, kata perempuan itu. Dengan tergopoh-gopoh Umar pergi ke gudang tepung, diambilnya sekantung lemak dan sekarung tepung, diangkatnya sendiri ke atas punggunggungnya dan dibawa segera ke tempat perempuan yang malang itu. Umar segera memasukkan tepung dan lemak ke dalam kuali tersebut dan dia juga yang meniup untuk mengatur perapian di tungku. Selesai dimasak kemudia ia segera menyuguhkan pada anak-anak yag malang itu. Mereka makan sampai kenyang dan kemudian tertidur. Umar kemudian pergi meninggalkan perempuan yang memang tidak mengenalnya itu seraya berkata, ”Rasa lapar itulah yang membuat mereka tidak bisa tidur dan menangis”. Lihatlah betapa Umar begitu ketat pada dirinya sendiri padahal ia seorang Khalifah,! Bayangkan dan bandingkan dengan Petugas Partai eh… Presiden kita yang sering kali blusukan gak jelas… :p

Itulah mengapa Pemerintahan Umar dicintai orang karena pemerintahannya mendahulukan kasih sayang dan pengabdian untuk umatnya, warga negaranya. Mereka melihat Umar, sang Khalifah, sebagai ayah bagi kaum dhuafa –setiap orang yang lemah/yang terpinggirkan- bagi setiap anak yatim dan setiap orang yang tak berpunya. Mereka mencintai “Al-faruq” ( yang berarti orang yang dapat memisahkan antara kebenaran dan kebatilan) karena sifat adilnya yang telah menjadi naluri dan bersemayam dalam alam bawah sadarnya, karena kecintaannya pada kebebasan dan persamaan, dan ia menempatkan juga dirinya sebagai orang yang lemah dan miskin.

Dalam pidato pertamanya sebagai Khalifah ia berkata, “Di mataku, tak ada seorangpun dari kalian, orang yang lebih kuat dari orang yang lemah diantara kalian, sebelum aku berikan haknya, dan tak ada orang yang lebih lemah dari orang yang kuat sebelum aku cabut haknya –semua orang berkedudukan sama.” Pada lain waktu ia berkata, ”Aku tak pernah mengangkat pejabat-pejabat untuk menghilangkan kesenangan kalian, untuk mencemarkan kehormatan ataupun untuk mengambil harta kalian. Namun aku mengangkat mereka untuk mengajarkan Kitabullah dan Sunnah Rasul-Nya. Barang siapa diperlakukan tidak adil, aku tak akan mengijinkan menyampaikan pengaduan kepadaku sebelum aku menjatuhkan hukuman yang setimpal.” Pada panglima pasukannya ia menulis, “janganlah kalian memukul anggota pasukan Muslimin karena itu berarti kalian merendahkan mereka, jangan menghilangkan hak-hak mereka lalu menuduh mereka kafir, janganlah mengurung mereka lalu menyiksa mereka dan jangan pula menempatkan mereka di hutan-hutan yang akan membuat mereka tersesat.” Dia menulis surat kepada para panglimanya jika ia tak dapat melakukannya sendiri apa yang seharusnya ia lakukan, namun jika ia mampu melakukannya sendiri, ia tak akan mewakilkannya kepada yang lain. Itulah Umar, landasan pemerintahannya kasih sayang dan pengabdian bagi umatnya, warganya.

Disarikan oleh Fajar Wisesa dari berbagai sumber

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s