Dahsyatnya Surat


Dari beberapa orang yang pernah mengalami masa-masa surat berjaya sebagai salah satu alat komunikasi mengatakan, biasanya surat-surat jaman dulu bersifat sangat pribadi, isinya penuh kesantunan dan kedalaman perasaan dari sang penulis, ditulis dalam media yang sedehana, terkadang hanya dalam secarik kertas. Singkatnya, tak ada yang bisa menyaingi dahsyatnya surat dalam meninggalkan suatu kenangan.

Untuk beberapa orang, bukan cuma isi surat saja yang dapat membekaskan kenangan, tapi proses pengiriman surat juga suatu yang romantis, bagaimana surat itu ditulis -bau tinta dari pena celup, disematkan ke dalam amplop -bau lem yang khas, dengan apa surat itu dikirim -sepeda ontel Pak Pos, surat sampai di tempat tujuan -berbunga-bunga nya hati si penerima surat, mendengar krang-kring sepeda Pak Pos.

Untuk orang-orang jaman itu, sepertinya, mendapat surat dari orang terkasih, sudah seperti hadirnya sang kekasih ke hadapan mereka. Tidak seperti sekarang, pada saat itu berkenalanpun berawal dari surat, kemudian berlanjut dengan surat yang kedua, biasanya berbasa-basi menanyakan kabar, dan pada surat ketiga mulai menyatakan isi hati. Bila surat pertama berkesan maka langsung dibalas dan berlanjut dengan kirim-mengirim surat, bahkan sampai akhirnya berakhir di pelaminan.

Berbeda dengan jaman orang tua kita saat itu, mana pernah kita mengalami era bersurat romantis macam begitu, yang paling sering dilakukan saat ini, menelepon, BBM, YM atau paling sering SMS, ataupun KopDar.

Dalam media komunikasi yang serba elektronis, digital dan budaya yang instan betapa mudah dan tak berbobotnya kata cinta diucapkan seperti, love U, CU, muah.. muahhh. Sepertinya, berbobotnya suatu surat memang telah tergantikan dengan keserentakan (dan kegegabahan) serta kedangkalan SMS, tapi mungkin tak semuanya juga begitu. Tapi hanya sekadar membandingkan lagi, buat mereka yang pernah mengalami jaman-jaman surat berjaya, sering berkata, “…dia memang tak mengatakan cinta secara gamblang. Tapi dari kata-katanya, aku tahu maksud hatinya…”

Almarhum Rosihan Anwar (wartawan senior- jika beliau seorang profesor, mungkin sudah bergelar emeritus) menilai, kecanggihan alat komunikasi sekarang tidaklah disertai dengan kedalaman isi. “Alatnya canggih, cepat, tapi manusia menggunakannya secara dangkal. SMS kan paling cuma memuat kalimat-kalimat sederhana, kalau saya lihat orang ber-SMS sekarang, jauh sekali maknanya dengan berkomunikasi dengan surat menyurat dulu. Surat tradisional itu ada isinya, ada substansinya, ada bobotnya, sekalipun misalnya itu surat cinta….”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s