Keburukan


Ditulis oleh CHARLIE pada tanggal 5 Mei 2012, dalam NOTEBOOK (http://www.howtobeadad.com/2012/10353/ugliness)

Saya tidak percaya akan mengatakan hal ini dengan sangat keras…

Sudah terlalu banyak orang tua yang buruk di dunia ini.

Ya, ini memang terasa menghakimi. Dan ya, ini memang hal yang mengerikan untuk disampaikan dan saya tidak bermaksud menunjuk “batang hidung” seseorang, tetapi saya lelah berpura-pura bahwa mereka tidak pernah ada. Mungkin selama saya tinggal di LA,kotaini telah ‘menghanguskan sekering’ saya. Tetaplah bersama saya –dalam tulisan ini, jika Anda mampu -meneruskan membaca tulisan ini.

Saat itu saya sedang duduk di taman sambil mengawasi anak saya yang sedang membuat istana pasir (lebih tepatnya, gundukan pasir) dan tatapan saya terpaku pada hal yang tak sedap dipandang mata. Saya tak tahan lagi jadi saya menuliskannya disini… di telepon genggam saya. Saya sedang melihat seorang ayah. Dia –ayah, paling jelek yang pernah saya lihat. Aneh!

Dan anaknya, disadari olehnya atau tidak, sama mengerikannya. Apa ini karena faktor genetika? Apakah dia “berusaha keras” agar semuanya jadi seperti itu? Apakah dia tumbuh tanpa peduli bagaimana dia akan dipandang? Mungkin ini alasan mengapa anaknya jadi terlalu sering menangis karena memiliki seorang ayah yang menjijikkan.

Ayah yang buruk seperti dia, mereka berkeliling dan menyebarkan keburukan mereka. Saya jadi bertanya-tanya apakah mereka sadar akan hal itu. Menjadi buruk tanpa pernah mengetahuinya adalah satu hal, namun orang ini bertindak sepertinya dia tahu betul bagaimana kelakuannya dan dia sama sekali tidak peduli dengan hal itu.

Jadi, saya tertegun di di bangku ini, pikiran saya dipenuhi perdebatan bagaimana mengatakan pada orang ini betapa dia, ayah yang buruk. Tapi hati nurani atau rasa kesopanan saya atau apapun namanya, atau kita sebut saja “dugaan” saya, berkata. ”Hei Charlie… Siapa sih lo sampe mau ngetok palu?” Beberapa orang mungkin akan terhibur sementara yang lain takut melihat hal itu. Seperti saya juga sedikit takut ketika melihat orang yang tidak begitu saya kenal. Benar sekali, ini bukan tempatnya dan bukan tanggungjwab saya -untuk mengatakannya. Lapisan sosial masyarakat telah membuat saya ‘terpenjara’ untuk saat ini.

Pikiran saya sekejap saja timbul, “mudah-mudahan dia tidak akan pernah  memiliki anak lagi’ karena kita semua tahu dia hanya akan mewariskan sifat buruk kepada anak-anaknya. Dan anak-anak itu kemudian akan tumbuh dengan keburukan itu dan begitu juga dengan anak-anak mereka. Dan ini tidak akan pernah berakhir.

Orang ini telah merampok keindahan dunia, ya.. begitu saja, dengan keberadaannya. Itu yang terjadi kepada saya dan itu yang menjadi alasan kebencian saya –terhadapnya, mungkin adalah identifikasi secara tidaksadar atas keburukan yang ada dalam diri saya sendiri. Itu boleh jadi benar adanya. Saya juga punya bekas luka dan keburukan. Tapi orang ini punya tempat tersendiri -dalam keburukannya.

Saya tak dapat menahan diri lagi. Saya berjalan ke arahnya, jauh dari pendengaran anak-anaknya. Dia berdiri sambil ber-SMS, mungkin beberapa hal menjijikkan pada orang yang menjijikkan pula, sambil bersandar pada dinding. Bau badannya sungguh tidak enak. Wajahnya yang buruk membuat kita ingin muntah, mengeluarkan kata yang buruk pula, “Kenapa… huh?”

“Berhenti mukulin anak lo boy. Hati-hati, gua ngeliatin lo.”

Anda akan mengenali mereka dengan keburukan dan tindakan mereka.

 

Diterjemahkan oleh Fajar Wisesa

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s