Titip Salam Rindu Buat Ustadzku


Dugaanku ternyata tak salah. Beng mendatangiku di Musholla kampus keesokan harinya. Wajahnya lebih banyak menunduk, atau sesekali melepas pandangannya ke arah lain. Kutegur dia dengan canda sambil menyindir, “tumben beng, lo mau ke Musholla, bisa banjir nih kampus kalo lo sampe masuk kesini”. “Ahh… lo usil aja”, jawabnya pelan. “Sorry bro, gue becanda doang, ada apaan?”, tanyaku. “Gue mau minta maaf dul, gue udah keterlaluan”, jawabnya lagi. “Ahh… udahlah, gue udah maafin lo sebelum lo minta maaf, lagiankan gue juga hafal sama lagu lo”, jawabku santai. “Ahh… gak dul, pokoknya gue minta maaf banget sama lo, gak seharusnya kemaren gue kayak gitu ke lo. Maafin gue ya?”, pintanya. “Ya kan gue bilang, udah gue maafin”, kataku lagi. Kami terdiam cukup lama, sambil kemudian, “ya dul, bener kata lo, gue udah terlalu lama marah sama Dia…, udah cukup lama gue ngejauh, semua yang jelek-jelek yang nimpa gue, gue salahin ke Dia. Gue mau minta maaf, toh sejauh-jauhnya gue pergi dari Dia, tetep aja semua tempat milik Dia, semua makhluk tetep dalam genggamanNya, jadi… kemana lagi gue mau lari dari Dia? Capek gue dul…”, katanya lirih. “Gue juga pernah beng, kayak lo gini. Semua orang pernah salah. Nabi aja juga pernah salah, cuma bedanya dia langsung ditegor kata-kata, jadi cepet benerin salahnya. Nah, kalo kita yang bukan siapa-siapa mau ditegor kayak apa? Nunggu masuk lobang dulu? Udah sono gih ambil wudhu, keburu Maghribnya abis”, jawabku. Bambang pun pergi mengambil wudhu. Alhamdulillah, mudah-mudahan bukan kesadaran sesaat. Kalo hati sedang panas, otak sedang panas, suasana memanas, kata Ustadzku, Ahmad Jazuli, ambil wudhu, masih panas, ambil wudhu lagi, terus sampai kita tenang. Ahh… jadi teringat lagi pada beliau. Rindu.

Ustadzku, seorang yang teramat amat sederhana, kalau tak bisa dikatakan kekurangan. Meski begitu, ia kaya, ruh dan jiwanya, kaya hatinya. Dia putra Betawi asli. Tinggal di sebuah rumah petak di kawasan Duri Kepa, Jakarta Barat. Beberapa kali rumah keluarganya kena gusur, tapi dia dan keluarganya selalu bangkit lagi dan bangkit lagi. Tinggal di tempat yang sedemikan sulit dan keras, tidak merubah sifatnya yang lembut, baik hati dan santun. Banyak kawan sebayanya yang terlibat dalam berbagai tindak kejahatan karena tekanan ekonomi dan kesulitan hidup. Tapi dia percaya setiap orang pasti dicoba dalam hidupnya, namun Tuhan pasti tidak akan mencoba hambanya yang baik diluar batas kemampuannya. Jika semua usaha terbaik sudah dilakukan, tinggallah doa yang menjadi harapan, menjadi senjata, menjadi pegangan. Hanya kepada Tuhan semuanya ditambatkan.

Dia kuliah di IKIP Rawamangun, Jakarta di Fakultas MIPA, jurusan Fisika. Dia bisa kuliah karena mendapat Beasiswa dari salah satu organisasi kemasyarakatan. Untuk membantu membiayai hidupnya, ia mengajar Matematika dan Fisika, sambil sesekali mengajar ngaji dan memberikan kajian pada anak didiknya, gratis. Aku, Bambang, Fajri, Heru, Yani, Anto dan  Syai’u adalah anak-anak didiknya. Kami dari banyak latar belakang yang berbeda-beda, dari yang berada, sederhana, sampai yang tak berpunya. Dari orang tua yang pejabat, pegawai biasa, pedagang sampai buruh harian, menjadi satu karena persahabatan di awal SMA dulu.

Beliau lebih dari sekadar guru, lebih dari sekadar ustadz bagi kami, beliau juga seorang kakak sekaligus sahabat tempat berbagi, beliau contoh kecil dalam hidup kami. Meski hidup sebagai orang “kecil” tapi prinsipnya, hati tak boleh “kerdil”. Beliau selalu merasa cukup dalam hidupnya. Ada satu pesannya, kalaupun misalnya kita harus menjadi orang yang tak berpunya, kita mesti bisa berbagi, walau itu hanya mendengar keluh kesah seorang kawan atau dengan doa. Yang berpunya menolong yang sedang kesulitan dengan hartanya, yang sulit membantu yang lain dengan tenaganya, jika itupun sulit, cukuplah doa dipanjatkan untuk kemaslahatan semuanya. Itulah nilai yang selalu mendasari persahabatan kami selama ini, saling menolong dengan cara yang paling baik sesuai dengan kemampuan kita.

Beliau juga teramat guyub pada lingkungannya. Dari orang tua, anak kecil, pedagang sampai preman bisa dengan mudah akrab dengannya. Kadang saking akrabnya, kami bisa bergaul seperti antar teman saja layaknya, tapi rasa hormat dan sayang kami diatas segalanya. Rasa ini yang selalu tertanam dalam hati kami, anak didiknya. Dimanapun, kapanpun, dan bagaimanapun situasinya, rasa sayang, kesetiakawanan, kepedulian harus dicurahkan pada semua orang di lingkungan kita. Walau aku sendiri menemui banyak kesulitan untuk menerapkannya.

Sudah lebih dari 10 tahun lamanya, kami telah kehilangan kontak dengannya. Aku kadang merasa bersalah, durhaka. Belum sempat juga sampai saat ini, mencari lagi kemana beliau saat ini. Maafkan aku ya Ustadz… Bukan aku hendak memutuskan tali silaturrahim, tapi terpaksalah aku menyalahkan lagi, mengkambinghitamkan lagi, waktu sebagai penyebabnya. Kami, atau aku terlalu sibuk, tenggelam dalam kesibukan yang tiada henti. Entah kapan, suatu saat nanti kita akan bertemu lagi. Tuhan titip salam rinduku buat beliau.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s