Aku Cinta Kamu


Akar cinta yang menjalar di dalam bumi kasihku akan terus dialiri sayang yang membasahi setiap sudut hati….

 

Biarkan ia menaungi dengan senyuman yang terpatri menghangatkan jiwa dan tatkala menghembus nafas bergetar jantung membalasnya…

 

Karena bila tiba waktu kudatang, ku mau kau disisiku mengucapkan cinta di telingaku agar aku ikhlas pergi dengan cintamu…

Perempuan Itu Bengkok Seperti Tulang Rusuk


download

الْمَرْأَةُ كَالضِّلَعِ إِنْ أَقَمْتَهَا كَسَرْتَهَا وَإِنِ اسْتَمْتَعْتَ بِهَا اسْتَمْتَعْتَ بِهَا وَفِيهَا عِوَجٌ (مُتَّفَقٌ عَلَيْه)

“Perempuan itu bengkok seperti tulang rusuk, apabila kamu berusaha meluruskannya maka ia akan patah. Namun bila kamu membiarkannya tetap bengkok maka kamu hanya ingin bersenang-senang dalam kebengkokannya”

Kesimpulannya

Memperlakukan perempuan itu seperti saat kita bernafas, saat kita menghirup udara tulang rusuk akan meregang sempit, bila kita menghembuskan napas maka ia akan mengembang mengikuti bentuk aslinya dan memberikan kelegaan.

Ada kalanya kita harus membimbing perempuan yang kita sayangi sesuai pada norma-norma yang ada agar hidup kita dan dia kelak dapat menghirup keselamatan tapi kadang perlu juga kita memberikan kelapangan jalan agar ia mengikuti kodrat dan nalurinya sebagai perempuan yang ingin dicintai dan disayang…

Quote dari Fajar Wisesa 

Menikahlah dengan Akuntan


Seorang pasien wanita baru saja menyelesaikan tes kesehatan menyeluruh. Kemudian setelah mengenakan pakaiannya, dokterpun menemuinya, “Nona, kabar baiknya Anda cantik sekali hari ini, tapi…”. “Tapi apa dok?” si wanita menyela. “Kabar buruknya… hidup Anda hanya tinggal 6 bulan lagi…”, katanya lirih. Si wanitapun mulai menangus histeris dan sang dokter mulai menenangkannya.

 

Suasana menjadi hening untuk beberapa saat. Setelah dapat menguasasi diri si wanita bertanya pada sang dokter, “dokter apa yang dapat saya lakukan?” Sang dokter merenung sebentar, kemudian jawabnya, “menikahlah dengan seorang Akuntan… Ya… menikahlah dengan seorang akuntan Nona!”, seketika mukanya mengisyaratkan kegembiraan penuh harapan pada si wanita. Sang wanitapun menjadi berseri-seri wajahnya, dengan antusias ia bertanya lagi, “Apa dengan begitu, sisa hidup saya akan bertambah, dokter?” Sang dokter terhenyak, sambil menjawab, “eh… enggak juga sih, tapi seenggaknya akan terasa lebih lama… :)”

 

Insinyur vs. Akuntan


Di siang hari yang cerah berdiri tiga akuntan senior dekat sebuah tiang yang tinggi, kemudian mereka mulai mereka-reka berapa kira-kira tinggi tiang tersebut. Akuntan pertama, seorang CPA mulai bicara, gw kira ga’ ada pedoman resmi tentang gimana cara ngukur tinggi tiang ini deh, lagian juga itu kan bukan kerjaannya akuntan kayak kita-kita gini. Selanjutnya Akuntan kedua, seorang Profesor di sebuah universitas negeri -gw rasa ini Profesornya program ekstension- mulai bicara juga, ah gw rasa, kalo kita bikin survey ke tempat-tempat yang kira-kira hampir sama kayak disini terus nanyain sama orang-orang, kira-kira berapa tinggi ‘ntu tiang, mungkin kita bisa ngebikin perkiraan berapa tinggi ‘ntu tiang coy, dan gw rasa  itu juga estimasi yang cukup bagus. Lalu akuntan yang ketiga -seorang profesor dari universitas terkenal- mulai menimpali. Ia dengan yakinnya berkata, kalo kita bisa ngukur bayangan tiang ini dalam berbagai kondisi, maka saya bisa membuat model regresi multivarian yang dapat memberikan kita estimasi yang bagus tentang berapa tinggi tiang ini.

Ketika percakapan itu berlangsung, seorang insinyur kebetulan lewat, ia berhenti kemudian bertanya pada ketiganya tentang apa yang sedang didiskusikan. Para akuntan itu kemudian bilang pada si insinyur, ah kamu ga’ mungkin ngerti deh soalnya ini rumit banget. Tetapi si insinyur tetap ingin tahu dan mulai mendengarkan persoalan apa yang sedang didiskusikan. Iapun tersenyum, lalu mengangkat tiang itu dari landasannya, meletakkannya di tanah, mengukurnya, dan ia berkata, “12 kaki dan 3 inchi,” dan kemudian meninggalkan ketiga akuntan itu. Para akuntan melihat ke arah si insinyur, menertawainya seraya mengejek dan dengan yakinnya berkata -“ah sial… begonya dia! Kita pengen tahu tingginya eh… dia malah ngasih tahu kita panjangnya.”

Kunci Sukses sebagai Akuntan (Kisah Nyata!)


Seorang rekanan senior yang sangat sukses di sebuah KAP “big 4” memiliki sebuah kebiasaan ganjil -aneh tepatnya. Sebelum bekerja ia selalu membuka laci di mejanya yang terkunci, lalu melihatnya sebentar ke dalam, kemudian ia mengunci kembali, lalu mulailah dia bekerja. Para junior-nya menjadi curiga dan mereka mengira kalau ia menyembunyikan “kunci kesuksesannya ” itu dalam laci mejanya, dan mereka menunggu kesempatan untuk mengungkap rahasianya.

Pada suatu ketika rekanan tersebut ditugaskan ke luar kota, maka para juniornya pun bersepakat saat itulah saat yang tepat untuk mengungkap rahasia si rekanan senior. Lalu akhirnya merekapun membobol laci mejanya, dengan perlahan-lahan mereka melihat ke dalamnya. Mereka melihat disitu hanya ada secarik kertas kecil dengan tulisan…

“Ingat-ingat, di kiri kolom debit, di kanan kolom kredit!”