Cinta yang Memerdekakan


Mengapa begitu banyak pasangan berpisah dengan mudahnya saat ini? Entah itu dari kalangan orang terkenal atau orang biasa. Banyak alasan dikemukakan dari mulai masalah seperti kekerasan dalam rumah tangga, perselingkuhan dengan orang ketiga, ekonomi bahkan ada yang sampai ke masalah politik. Perceraian juga bagian dari cinta tetapi tentu saja peristiwa itu adalah episode dimana saat cinta berakhir namun ia tidak memerdekakan melainkan memutuskan, lepas dari semua hubungan yang pernah dibangun.

Sebenarnya apa yang ada dalam benak mereka ketika menyatakan dan menerima cinta pada calon pasangannya? Apakah memang benar cinta, perhitungan dari sisi ekonomi, atau hitung-hitungan politis atau mungkin hanya karena pengaruh hormonal?

Cinta seharusnya memerdekakan setiap orang, menumbuhkan kasih sayang, mengukuhkan tali persaudaraan yang renggang, melengkapi perbedaan menjadi suatu persamaan, mencukupi dan melengkapi kekurangan. Cinta selalu berangkat dari kekurangan, menonjolkan kelebihan bukan cinta tetapi nafsu. Mengikhlaskan adalah cinta, menguasai adalah sebaliknya. Cinta tidak buta tetapi nafsu yang membutakan. Cinta melibatkan nafsu tetapi nafsu sudah pasti bukanlah cinta. Mencintai bukan saja saling menerima apa yang menjadi kekurangan dari yang dicintai tetapi juga usaha di setiap waktu untuk mencoba saling memahami apa yang diinginkan.

Cinta berasal dari yang Maha Satu, dari cintaNya maka dibentuklah semua yang menjadi perlambang keberadaanNya dalam bilangan satu yang tunggal, unik. Alam semesta yang satu, seorang manusia seutuhnya adalah dalam wujud yang satu, tak kan’ ada yang menyamainya, bahkan bagi anak kembar identik sekalipun. Semua di dunia ini direpresentasikan dengan bilangan satu. Jika saya memiliki satu kue di piring, kemudian saya potong dan memakan setengahnya, berapa yang tersisa? Setengah? Untuk Anda yang memakannya mungkin akan berkata setengah, tetapi itu bukan setengah, yang tersisa tetaplah satu. Bila kemudian Anda potong lagi setengah, potong lagi setengahnya, seterusnya sampai tak terhingga apakah kue itu akan menjadi nol atau habis? Tidak, yang tersisa adalah tetap satu. Oleh karena itu jangan pernah merasa kehilangan dan mudah menghilangkan cinta, karena cinta milik Dia yang Maha Satu dan cinta selalu ada dalam setiap kita.

Mengatakan kata “cinta” sungguh suatu yang mudah saat ini. Sulit membedakan mana kata cinta yang ada dalam roman-roman picisan atau, sms 50 rupiah-an dengan cinta yang diungkapkan dengan kepasrahan sepenuh hati. Kata cinta tak ubahnya seperti bumbu masak yang bermacam-macam merek pada satu hidangan. Cinta sendiri bukan dan tidak lagi menjadi hidangannya. Lucu! Tidak percaya? Andaikan saja cinta itu adalah seekor Kepiting. Sekarang kita akan memasak Kepiting Saos Padang, kedengarannya lazim, membayangkannya saja juga sudah lezat. Nah, kemudian bagaimana bila hidangan itu disajikan dengan judul yang terbalik, Saos Padang Kepiting? Apa yang ada dibenak Anda? Jika saya membayangkannya tentu lucu jadinya, pertama Anda memasak bumbu Saos Padang yang lamanya kira-kira sama dengan waktu menggoreng Kepiting, setelah selesai memasak bumbu kemudian dimasukkanlah Kepiting, dimasak dengan waktu yang sama dengan menggoreng bumbu. Walhasil, bila Anda pernah melihat hidangan ini pasti ada yang berbeda, Saos Padangnya menjadi hitam kecoklatan karena dimasak terlalu lama, sedangkan Kepitingnya masih berbau amis karena dimasak terlalu sebentar. Sedangkan rasanya, Anda pasti tak akan mau membayangkannya.

Intinya, saat ini banyak cinta dinyatakan terlalu cepat, sehingga saking cepatnya cinta itu hilang sebelum sempat dimulai atau bahkan baru dimulai. Banyak orang terlalu sibuk berlama-lama memikirkan pernak-pernik penghias cinta, sedangkan cintanya sendiri terabaikan. Misalnya, ada seseorang yang terlalu sibuk bekerja untuk mengejar kemapanan, dikiranya dengan uang cinta akan dapat bertahan. Alih-alih uang urung didapat keluarga malah berantakan.

Cinta adalah komunikasi baik verbal dan bathin, tak mungkin ada dan tumbuh cinta bila hanya salah satu pihak yang mengusakan komunikasi. Cinta memerlukan perhatian dan pengelolaan. Bila cinta mengapa harus bosan? Bila cinta mengapa hidup menjadi hambar? Banyak pasangan setelah begitu lama hidup bersama hubungan mereka bukan lagi layaknya suami dan istri, mungkin ada yang seperti kakak dan adik, atau bahkan teman kos-kosan. Tak ada lagi kemesraan tetapi kemarahanpun tak nampak. Dingin, datar dan biasa-biasa saja. Tak adakah cara untuk selalu menjaga cinta selalu hidup dalam hati mereka berdua? Apakah mereka lupa bagaimana pertama kali mereka bertemu?

Lupakah sang Abang, bagaimana si Gadis dengan wajah tertunduk malu tersipu-sipu, wajahnya ditutupi riap-riap rambut yang merendai poninya, merah warna pipinya bersemu, berbinar-binar kedua bola matanya, senyum yang tersungging di kedua sudut bibirnya menambah ayu paras wajahnya. Gerak tubuhnya yang canggung berguncang-guncang sambil memainkan ujung rambutnya yang jatuh tergerai di pundaknya, ketika dia nyatakan cinta? Lupakah si Gadis pada sang Abang bagaimana wajahnya yang ganteng berubah menjadi pucat pasi, desah nafas yang tercekat, tertahan tersendat-sendat, hidungnya kembang kempis tak beraturan, suara keluhan yang berulang-ulang dari mulutnya, berbulir-bulir keringat jatuh mengalir di dahinya, membuat tatanan rambut yang klimis oleh minyak rambut menjadi mirip orang yang baru keluar dari hujan lebat, badannya yang tegap menjadi kikuk dan limbung, gemetar seperti baru tekena serangan demam malaria, wajahnya dipenuhi kecemasan, saat sang Abang menyatakan cintanya?

Lupakah mereka berdua saat cinta saling ditautkan, si Gadis mengatakan “ya” dan sang Abangpun melonjak-lonjak gembira hatinya sambil seraya memeluk erat-erat tiang rumah yang ada disampingnya, seolah-olah yang dipeluknya saat itu adalah si Gadis. Hari itu, “Harap-harap cemas” lenyap sudah. Ada kelegaan hati, ada rasa “plong” di hati. Ada kemerdekaan.

Lalu, lupakah mereka berdua saat akad nikah dilafalkan, janji kepada Tuhan dan UtusanNya untuk selalu seiya sekata, baik disaat suka dan duka sampai maut memisahkan mereka berdua. Janji menciptakan keluarga yang sakinah mawaddah wa rohmah. Salam hormat kepada kedua orang tua yang mengharu-birukan suasana dikedua keluarga mempelai, yang kini telah resmi menjadi satu keluarga.

Lalu, lupakah mereka berapa banyak orang yang menyaksikan ikatan yang indah itu dalam suatu pesta yang meriah sebagai kabar gembira dan tauladan bahwa ikatan kasih yang paling indah itu hanya dapat diwujudkan dalam suatu pernikahan. Pernikahan adalah suatu ikatan kasih yang mengikat erat namun juga membebaskan lepas, lega, memerdekakan. Menikah sering diibaratkan seperti ketika menemui lampu lalu lintas di jalan, saat lampu hijau menyala kita bebas berjalan. Sedangkan hubungan bentuk lainnya lebih mirip seperti kita melalui lampu lalu lintas saat lampu merah menyala, celaka!

Lalu, lupakah mereka ketika harus memulai mengelola rumah tangga yang baru, begitu banyak rintangan dan cobaan mereka lalui berdua dalam sujud, do’a dan tangis yang sama. Begitu juga ketika mulai banyak rejeki dilimpahkan olehNya untuk mereka, banyak waktu pula dilewati berdua dalam sujud syukur berjama’ah. Lupakah mereka bagaimana melewati waktu ketika si Buyung dan Upik lahir ke dunia ini, si Ibu harus mengandung anak dalam perutnya selama 9 bulan, berdo’a sepanjang waktu agar calon jabang bayi mereka lahir dengan selamat dan sempurna, kemudian bersalin sambil mempertaruhkan nyawa agar si Buyung dan Upik bisa lahir ke dunia ini. Si Bapak berikhtiar, bekerja keras agar ia dapat membiayai persalinan istrinya dan anaknya dapat lahir dengan selamat serta tak lupa selalu berdo’a agar keluarganya selalu diberi rahmat dan keselamatan.

Bila kita selalu mengingat momen-momen diatas, rasanya tak mungkin cinta menjadi luntur atau bahkan hilang. Tak mungkin rasa bosan meraja di dalam hati tetapi kembali lagi, memang siapa yang dapat menebak jalannya hati yang kadang kala bercampur nafsu? Bila mulai tergoda dengan yang lain, ingatlah kembali bagaimana ayunya si Gadis saat dia menerima cinta sang Abang atau bagaimana lucunya sang Abang saat dia mendengar cintanya diterima si Gadis. Bila itu belum cukup, ingatlah janji yang diucapkan dalam akad nikah, janji kepada Tuhan dan UtusanNya, janji kepada orang tua dan mertua, dan janji kepada para saksi. Bila itu belum cukup juga, ingatlah bagaimana masa-masa suka dan duka yang telah dilewati bersama dan terlebih lagi ingatlah pada anak-anak. Anak-anak selalu memerlukan bimbingan, contoh, tauladan, didikan, dukungan dan do’a dari Bapak dan Ibunya.

Kadang saya selalu bertanya mengapa kadar cinta dapat naik dan turun seperti juga iman? Cinta paling tinggi adalah kepada Tuhan, sifatnya absolut, kadarnya tak mungkin lebih rendah daripada mencintai makhlukNya. Namun setelah itu, tentu saja kita dapat membagi cinta yang tersisa kepada orang tua, teman dan kekasih. Memberikan pujian dan peringatan dengan cara yang tidak berlebihan pada orang-orang terkasih dekat kita juga merupakan bentuk pengelolaan dan komunikasi dalam cinta. Namun dengan seiring berjalannya waktu, akankah saya terus melakukan itu? Saya ingin hubungan cinta tidak menjadi bersifat formal seperti banyak pasangan, yang diluar kelihatan hangat namun dingin dalam kenyataannya, mati! Akankah saya terus memiliki rasa rindu, rasa yang sulit digambarkan setiap kali bertemu dengan kekasih, seperti perasaan pertama kali berjumpa, cinta pada pandangan pertama? Akankah saya selalu ingat bahwa ada orang yang selalu menunggu saya dengan sabar di rumah, setiap kali pergi? Akankah saya selalu dapat melegakan, membesarkan, dan memerdekakan hatinya bahwa saya akan selalu mencintainya? Atau akankah dia selalu mencintai saya dengan kadar yang sama?

Ingatkah ataukah pernahkah mendengar kata-kata mesra dan indah yang meluncur keluar dari mulut Khadijah r.a. ketika Muhammad SAW. menerima wahyu pertama, wajahnya yang pucat pasi, tubuhnya yang gemetar berguncang hebat seperti demam, keringat yang mengucur deras dari seluruh tubuhnya, suara giginya yang gemeretak saat dia memasuki pintu rumah mereka. Khadijah r.a. bersegera datang menyambutnya, sambil kemudian menyelimuti tubuh orang yang paling dicintainya. Lalu, berkatalah dia dengan suara yang lembut, “Wahai kekasihku, kekasihku. Gerangan apa yang terjadi? Katakanlah padaku…” Khadijah r.a. saat itu telah berumur kurang lebih 55 tahun, tentu wajahnya sudah seperti nenek-nenek. Tetapi kata-kata yang diucapkannya untuk memanggil orang yang paling dikasihinya, Muhammad SAW. yang juga sudah tak lagi muda saat itu, begitu mesranya, menentramkan hati bagi yang mendengarnya, obat penawar bagi kecemasan yang sedang melanda jiwa, mencerminkan akhlak lisan dan perbuatannya, serta cintanya yang begitu dalam, tak lekang dimakan waktu. Jika saya boleh membayangkan, mungkin dan memang hanya mungkin, dalam pandangan kedua hamba yang paling dikasihi Tuhan ini dalam cinta tak kenal adanya bosan, tua, keriput, peyot, dan jelek. Fisik hanyalah pembatas sementara di dunia, di akhirat nanti toh’ tak ada lagi kakek dan nenek, semua kembali dalam keadaan muda dan sempurna.

Muhammad SAW. pun tak lebih dan tak kurang cintanya pada Khadijah r.a., suatu ketika Aisyah r.a., istrinya setelah Khadijah r.a. wafat, menjadi cemburu karena setiap kali Muhammad SAW. mengenang Khadijah r.a. maka selalu mengalirlah air matanya. Aisyah r.a. pun mengeluh dan Muhammad SAW. menjadi agak marah, beliau mengingatkannya karena bagaimanapun, Khadijah r.a. adalah cinta pertamanya yang mampu mengisi hidupnya saat ia kehilangan figur-figur orang yang dicintai, orang yang selalu pertama-tama mendukungnya, memberinya semangat ketika keputus-asaan melanda, orang yang paling percaya pada setiap kata dan perbuatannya, orang yang paling dicintainya, wanita yang memerdekakan hatinya dari kekurangan akan cinta. Muhammad SAW. juga tak hanya cinta pada keluarganya tetapi juga umatnya, saat beliau akan wafat, bahkan kata atau pesan terakhir yang disampaikannya adalah “umatku, umatku, umatku.”, beliau ingin agar umatnya terhindar dari siksa akhirat dan mengingatkan untuk selalu menjalankan perintah Tuhan dan menjauhi laranganNya dengan disertai keikhlasan dan cinta dalam naungan Islam.

Peristiwa Isra’ Mi’raj pun adalah bukti kecintaan Muhammad SAW. pada umatnya. Jumlah waktu sholat yang tadinya begitu banyak kemudian dimintakan discount oleh beliau sehingga saat ini hanya 5 waktu saja yang dikerjakan, artinya beliau turut memberikan bukti bahwa cinta adalah memerdekakan dan bukan memutuskan.

Jadi sudah sepantasnyalah, dalam kesempatan menyambut Isra’ Mi’raj, kita perbarui lagi konsep cinta dan iman kita, cinta adalah sajian utama dalam hidup, tak perlu lagi memusingkannya dengan menambah riak-riak kecil dalam hidup yang hanya akan melunturkan cinta kita. Bila kita benar-benar hidup dalam cinta seharusnyalah cinta memerdekakan setiap kita. Teriring salam dan doa’ buat orang-orang yang saya cintai. Wassalam.

Fajar Wisesa

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s