Nikmat Bernama Gagal


Kita selama ini telah terbiasa dengan kata berhasil. Terkadang untuk sampai ke sana, cara telah mengalahkan tujuan. Lihat saja bagaimana kata ‘berhasil’ selalu diidentikkan dengan kekayaan, kenikmatan hidup, kemerdekaan secara finansial, dan entah berapa kata lagi yang dapat diidentikkan dengan keberhasilan. Dan tak ada yang salah dengan itu semua, selama itu dilakukan dengan cara yang benar. Bahkan saking terobsesinya dengan kata berhasil banyak orang tua yang mengindetikkan calon menantunya berhasil bila memiliki ‘kriteria’ tertentu.  Tidak peduli bagaimana caranya, selama itu, secara hitung-hitungan dunia dapat membahagiakan anak gadisnya, It’s OK lah🙂. Demikianlah kata berhasil  banyak digambarkan, walau terkadang kita tak terlalu waspada keburukan-keburukan yang mungkin timbul untuk mencapai ‘keberhasilan’ dewasa ini.

Sebaliknya kata gagal adalah kata yang selalu dihindari, bahkan orang tak sadar bahwa kegagalan adalah juga nikmat yang diturunkan Allah, walau kadang –mungkin hampir- banyak orang mencibir, “ah, itu kan karena lo gak mampu aja, dasar sirik lo!”

Ada sebuah kisah terkenal dalam Islam, kisah tentang Rasul Allah, Musa As dan HambaNya, Nabi Khidir AS (atau di satu kisah terkenal dengan nama Bun-Ya). Kisah ini terkenal karena menggambarkan Musa AS yang terkenal temperamental -Musa pernah diceritakan menarik janggut saudara satu ibu dengannya, Harun As sampai menjadi putih beruban karena saking marahnya, ia mengira Harun membiarkan Samiri membuat kaumnya Bani Israil berjalan pada kesesatan dengan menyembah patung anak sapi yang terbuat dari emas- gagal menjadi murid yang baik bagi Nabi Khidir AS.

Diceritakan pada suatu ketika, saat Musa AS sedang berkhutbah di tengah kaumnya untuk menyembah Allah SWT dan menceritakan kepada mereka tentang kebenaran, ada pertanyaan yang muncul dari salah seorang jamaahnya. Orang itu bertanya, “Wahai Musa, adakah orang yang lebih pandai/alim darimu saat ini?” Kemudian Musa AS segera menjawab, “Tidak ada. Akulah yang paling pandai di atas bumi saat ini.” Namun Allah SWT kemudian menegur Musa AS, “Wahai Musa, tidakkah engkau mengetahui di mana Allah SWT meletakkan ilmu-Nya?.” Tentu saja Musa AS terkejut, ia terperanjat tetapi seorang Rasul tentu tunduk dan mengakui kekeliruannya di hadapan Tuhan, sambil kemudian ia bertanya, “Ya Tuhanku. dimanakah aku dapat bertemu hambaMu yang lebih pandai/alim dariku itu?” Kemudian Allah menjawab lagi, ”Sesungguhnya Allah SWT mempunyai seorang hamba yang berada di Majma’ al-Bahrain dan ia lebih pandai/alim daripada kamu.”

Bayangkan! Musa AS adalah seseorang yang diajak bebicara langsung oleh Allah SWT dan ia salah seorang ulul azmi dari para rasul. Beliau adalah pemilik mukjizat tongkat dan tangan yang bercahaya serta seorang Rasul yang Taurat diturunkan kepadanya tanpa melalui perantara. Namun dalam kisah ini, beliau menjadi seorang pencari ilmu yang sederhana dan harus belajar kepada seorang ‘guru’ dan menahan penderitaan di tengah-tengah belajarnya. Kemudian diceritakan Musa AS melakukan perjalanan menuju Majma’ al-Bahrain bersama salah seorang pengikutnya –di salah satu kisah disebutkan bernama Yusya- untuk berguru kepada Khidir AS. Dimana Majma’ al-Bahrain ini berada, tak pernah ada yang tahu bahkan ada yang menafsirkan nama tempat itu hanyalah khiasan. Majma’ al-Bahrain (pertemuan dua lautan) seperti dijelaskan kepada Musa AS memiliki ciri yaitu apabila ia membawa ikan yang telah mati (ikan laut) dalam keranjang dan jika sampai pada suatu tempat ikan tersebut menghilang dari tempatnya karena hidup kembali, maka disitulah tempat Khidir AS berada. Dan dalam satu kisah di tempat pertemuan dua lautan itulah terdapat Maul Hayat (sumber air kehidupan). Ada yang percaya bahwa kedua lautan itu adalah dua ilmu yang tidak saling melampaui, yaitu ilmu syarikat dan ilmu hakikat – tapi tentu saja kita tidak perlu membahas hal tersebut dalam tulisan ini.

“Maka tatkala mereka berjalan sampai ke pertemuan dua buah laut itu, maka mereka lalai akan ikannya, lalu ikan itu melompat mengambil jalannya ke laut itu. Tatkala mereka berjalan lebih jauh, berkatalah Musa kepada muridnya: ‘Bawalah ke rnari makanan kita, sesungguhnya kita merasa letih karena perjalanan kita ini.’ Muridnya menjawab: ‘Tahukah kamu ketika kita mencari tempat berlindung di batu tadi, maka sesungguhnya aku lupa (menceritakan tentang) ikan itu dan tidak adalah yang melupakan aku untuk menceritakannya kecuali setan dan ikan itu mengambil jalannya ke laut dengan cara yang aneh sekali.’ Musa berkata: ‘Itulah (tempat) yang kita cari; lalu keduanya kembali, mengikuti jejak mereka semula. Lalu mereka bertemu dengan seorang hamba di antara hamba-hamba Kami, yang telah Kami berikan kepadanya rahmat dari sisi Kami, dan yang telah Kami ajarkan kepadanya ilmu dari sisi Kami. ” (QS. al-Kahfi: 61-65)

Akhirnya sampailah waktunya Musa AS bertemu dengan Khidir AS. Ia berjalan bersama hamba yang menerima ilmunya dari Allah SWT tanpa sebab-sebab penerimaan ilmu yang biasa kita ketahui. Mula-mula Khidir AS menolak ditemani oleh Musa AS. Ia memberitahu Musa AS bahwa ia tidak akan mampu bersabar bersamanya. Namun akhirnya, Khidir AS mau ditemani oleh Musa AS tetapi dengan beberapa syarat, Musa AS tidak boleh bertanya tentang apapun yang dilakukan olehnya sampai ia sendiri yang menerangkannya kepada Musa AS. Khidir AS merupakan simbol ketenangan dan diam, ia tidak berbicara dan gerak-geriknya menimbulkan kegelisahan dan kebingungan dalam diri Musa AS. Sebagian tindakan yang dilakukan oleh Khidir AS jelas-jelas dianggap sebagai kejahatan di mata Musa AS, sebagian tindakannya yang lain dianggap Musa sebagai hal yang tidak memiliki arti apa pun, dan tindakan yang lainnya lagi justru membuat Musa AS bingung dan malahan menentangnya. Meskipun Musa AS memiliki ilmu yang tinggi dan kedudukan yang luar biasa namun beliau mendapati dirinya dalam keadaan kebingungan melihat perilaku hamba yang mendapatkan karunia ilmunya dari sisi Allah SWT.

Perhatikanlah firman Allah SWT dalam surah al-Kahfi: “Musa berkata kepadanya: ‘Bolehkah aku mengikutimu supaya kamu mengajarkan kepadaku ilmu yang benar di antara ilmu-ilmu yang telah diajarkan kepadamu?’ Dia menjawab: ‘Sesungguhnya kamu sekali-kali tidak akan sanggup sabar bersamaku. Dan bagaimana kamu dapat sabar atas sesuatu, yang kamu belum mempunyai pengetahuan yang cukup tentang hal itu?’ Musa berkata: ‘Insya Allah kamu akan mendapati aku sebagai orang yang sabar, dan aku tidak akan menentangmu dalam sesuatu urusan pun.’ Dia berkata: ‘Jika kamu mengikutiku, maka janganlah kamu menanyakan kepadaku tentang sesuatu pun, sampai aku sendiri menerangkannya kepadamu.'” (QS. al-Kahfi: 66-70)

Musa AS menyertai Khidir AS. Kemudian Khidir AS bertanya kepada Musa AS, “Musa apakah kamu mau saya beri tahu apa yang ada dalam hati kamu sekarang?” Musa berkata, “Ya… “ Khidir AS kemudian berkata lagi, “Hatimu saat ini berkata: Apa yang aku lakukan di sini? Mengapa aku berada di tempat ini dan menemani laki-laki ini? Mengapa aku tidak tinggal bersama Bani Israil dan membacakan Kitab Allah SWT sehingga mereka taat kepadaku?” kemudian Musa AS berkata, “Tepat, seperti apa yang saya katakan dalam hati.” Demikian Khidir AS dianugerahi Allah SWT bisa membaca/mendengar pembicaraan hati orang lain.

Mereka berjalan di tepi laut. Keduanya kemudian naik ke dalam perahu. Para pemilik perahu mengenal Khidir AS. Lalu mereka pun membawanya beserta Musa AS, tanpa dimintai ongkos sedikit pun kepada mereka. Ini sebagai bentuk penghormatan mereka kepada Khidir AS. Namun Musa AS dibuat terkejut ketika perahu itu baru saja berlabuh dan ditinggalkan oleh para pemiliknya, Khidir AS melubangi perahu itu dengan kapak sehingga airnya masuk kedalam perahu. Maka marahlah Musa AS. Ia tak sabar menghadapi tingkah  gurunya dan ia lupa tentang syarat yang telah diajukannya, agar ia tidak bertanya apa pun yang terjadi. Musa AS berkata: “Apakah engkau melubanginya agar para penumpangnya tenggelam? Kamu telah melakukan perbuatan yang tercela.” Mendengar pertanyaan Musa AS, hamba Allah SWT itu menoleh kepadanya dan menunjukkan bahwa usaha Musa AS  untuk belajar darinya menjadi sia-sia karena Musa AS tidak mampu lagi bersabar. Musa AS akhirnya meminta maaf kepada Khidir AS.

Kemudian mereka berdua berjalan melewati kebun yang dijadikan tempat bermain oleh anak-anak kecil. Ketika anak-anak kecil itu sudah letih bermain, salah seorang mereka yang berwajah tampan tampak bersandar di suatu pohon dan rasa kantuk telah menguasainya. Tiba-tiba, Musa AS dibuat terkejut ketika melihat hamba Allah SWT ini membunuh anak kecil itu. Musa AS naik pitam lagi, dengan lantangnya ia bertanya kepada Khidir AS tentang kejahatan yang baru saja dilakukannya, yaitu membunuh anak laki-laki yang tidak berdosa. Hamba Allah SWT itu kembali mengingatkan Musa bahwa ia tidak akan mampu bersabar bersamanya. Musa AS meminta maaf lagi karena ia benar-benar lupa. Ia berjanji tidak akan bertanya lagi. Musa AS berkata bahwa ini adalah kesempatan terakhirnya untuk menemani Khidir AS. Mereka pun pergi dan meneruskan perjalanan. Kali ini, mereka memasuki suatu desa yang sangat pelit. Musa AS tidak mengetahui mengapa mereka berdua pergi ke desa itu dan mengapa tinggal dan bermalam di sana. Makanan yang mereka bawa sudah habis, lalu mereka meminta makanan kepada penduduk desa itu, tetapi tak ada satupun penduduk di tempat itu yang mau memberi mereka makanan.

Waktu telah menjelang sore hari, kedua orang itu pun beristirahat di sebelah dinding yang hampir roboh. Musa AS dibuat terkejut ketika melihat hamba itu berusaha membangun kembali dinding yang nyaris roboh itu. Bahkan ia menghabiskan waktu malam untuk memperbaiki dinding itu dan membangunnya seperti baru. Musa sangat heran melihat tindakan gurunya. Bagi Musa AS, desa yang pelit itu seharusnya tidak layak untuk dibantu. Musa AS berkata: “Mengapa kamu membangun kembali dinding itu? Seandainya kamu mau, kamu bisa mendapat upah atas pekerjaanmu itu.” Mendengar perkataan Musa AS itu, hamba Allah SWT itu berkata kepadanya: “Ini adalah saatnya kita berpisah.” Hamba Allah SWT itu mengingatkan Musa AS tentang pertanyaan yang seharusnya tidak dilontarkan dan ia mengingatkannya bahwa pertanyaannya yang ketiga adalah akhir dari pertemuan mereka.

Sebelum berpisah Khidir AS menjelaskan kepada Musa AS bahwa setiap tindakannya —yang membuat Musa kebingungan— bukanlah atas kemauannya sendiri, ia hanya digerakkan oleh kehendak Yang Maha Tingi di mana kehendak yang tinggi ini menyiratkan suatu hikmah yang tersembunyi. Tindakan-tindakan yang secara lahiriah tampaknya kejam, keras namun pada hakikatnya adalah rahmat dan kasih sayang didalamnya. Demikianlah bahwa aspek lahiriah bertentangan dengan aspek batiniah.

Kemudian Khidir AS, mengungkapkan rahasia yang terkandung dalam peristiwa yang telah terjadi itu. “Maka berjalanlah heduanya, hingga tatkala keduanya menaiki perahu lalu Khidir melobanginya. Musa berkata: ‘Mengapa kamu melobangi perahu itu yang akibatnya hamu menenggelamkan penumpangnya? Sesungguhnya kamu telah berbuat sesuatu kesalahan yang besar.’ Dia (Khidir) berkata: ‘Bukankah aku telah berkata: ‘Sesungguhnya kamu sekali-kali tidak akan sabar bersama dengan aku.’ Musa berkata: ‘Janganlah kamu menghukum aku karena kelupaanku dan janganlah kamu membebani aku dengan sesuatu kesulitan dalam urusanku.’ Maka berjalanlah keduanya; hingga tatkala keduanya berjumpa dengan seorang anak, maka Khidir membunuhnya. Musa berkata: ‘Mengapa kamu membunuh jiwa yang bersih itu, bukan karena dia membunuh orang lain? Sesungguhnya kamu telah melakukan suatu yang mungkar.’ Khidir berkata: ‘Bukankah sudah kukatakan kepadamu, bahwa sesungguhnya kamu tidak akan sabar bersamaku?’ Musa berkata: ‘Jika aku bertanya kepadamu tentang sesuatu sesudah (kali) ini, maka janganlah engkau memperbolehkan aku menyertairnu, sesungguhnya kamu sudah cukup memberikan uzur kepadaku.’ Maka keduanya berjalan; hingga tatkala keduanya sampai kepada penduduk suatu negeri, mereka minta dijamu kepada penduduk negeri itu, tetapi penduduk negeri itu tidak mau menjamu mereka, kemudian keduanya mendapatkan dalam negeri itu dinding rumah yang hampir roboh, maka Khidir menegakkan dinding itu. Musa berkata: ‘Jikalau kamu mau, niscaya kamu mengambil upah untuk itu.’ Khidir berkata: ‘Inilah perpisahan antara aku dengan kamu. Aku akan memberitahukan kepadamu tujuan perbuatan-perbuatan yang kamu tidak dapat sabar terhadapnya. Adapun bahtera itu adalah kepunyaan orang-orang miskin yang bekerja di laut, dan aku bertujuan merusakkan bahtera itu, karena di hadapan mereka ada seorang raja yang merampas tiap-tiap bahtera. Dan adapun anak itu maka kedua orang tuanya adalah orang-orang mukmin dan kami khawatir bahwa dia ahan mendorong orang tuanya itu kepada kesesatan dan kekafiran. Dan kami menghendaki supaya Tuhan mereha mengganti bagi mereka dengan anak yang lebih baik kesuciannya dari anaknya itu dan lebih dalam dari hasih sayangnya (kepada ibu dan bapaknya). Adapun dinding rumah itu adalah kepunyaan anak yatim di kota itu, dan di bawahnya ada harta benda simpanan bagi mereka berdua, sedang ayahnya seseorang yang saleh, maka Tuhanmu menghendaki supaya mereka sampai kepada kedewasaannya dan mengeluarkan simpanannya itu, sebagai rahmat dari Tuhanmu; dan bukanlah aku melakuhannya itu menurut kemauanku sendvri. Demikian itu adalah tujuan perbuatan-perbuatan yang kamu tidak dapat sabar terhadapnya.'” (QS. al-Kahfi: 71-82)

Setelah Khidir As menjelaskan ketiga rahasia dibalik tiga peristiwa itu kepada Musa AS, maka sadarlah Musa AS bahwa dirinya masih harus banyak belajar untuk bersikap hidup, Musa AS mulai bisa menerima semua keputusan untuk berpisah dari Khidir AS. Namun sebelum berpisah Khidir AS mengungkapkan rahasia yang berhubungan dengan ketiga peristiwa yang baru saja dialami Musa AS dengan apa yang pernah ia alami dimasa lalunya.

Khidir AS berkata, “Wahai Musa, kamu telah mencela saya ketika saya merusak perahu, kamu takut para penumpang akan tenggelam, namun kamu lupa wahai Musa bahwa kamu pernah dilemparkan di sungai Nil oleh Ibumu, padahal saat itu kamu adalah bayi yang lemah. Wahai Musa, jika waktu itu ada ombak, maka kamu bisa tenggelam karena kamu bayi  yang lemah dan tak bisa membela diri, sedangkan jika perahu itu tenggelam, para penumpang masih bisa berenang untuk menyelamatkan diri. Sedangkan waktu itu kamu (Musa) selamat karena pertolongan Allah, mengapa kamu mencela saya?”

Selanjutnya Khidir AS berkata lagi, “Wahai Musa, engkau mencela saya waktu saya membunuh anak kecil tetapi kamu Musa, saat kamu muda dulu, kamu telah membunuh orang Qibty karena membela kaum Bani Israil, dikarenakan kamu membela Kaummu sendiri yang kamu sendiri belum meneliti benar ataupun salahnya”.

Khidir AS melanjutkan penjelasannya, “…. Wahai Musa, kamu telah mencela saya ketika saya mengajakmu mendirikan kembali dinding yang akan roboh. Tidak ada yang mau membayar mendirikan dinding! Begitu katamu. Tapi kamu lupa, waktu kamu menolong putri-putri Syuaib AS. Sedangkan ketika mereka itu tidak ada yang bisa mengambil air untuk memberi minum kambing-kambing mereka yang begitu banyak. Dan kamu menolong mereka itu tanpa diberi upah, mengapa kamu mau?”

Mendengar peringatan dari  Khidir As itu, Musa As terdiam membisu, karena ia merasa apa yang dijelaskan oleh Khidir AS semua benar adanya dan semua peristiwa itu telah dialami oleh Musa AS, namun ia sendiri telah lupa. Musa AS telah gagal menjadi murid yang baik untuk Khidir AS karena ia tidak sabar dan tak memahami hikmah dari setiap peristiwa yang dialaminya. Tapi ia telah berhasil mendapat pelajaran dari peristiwa tersebut. Musa AS telah belajar dari mereka dua hal: yaitu ia tidak merasa bangga dengan ilmunya dalam syariat karena di sana terdapat ilmu hakikat, dan ia tidak mempersoalkan musibah-musibah yang dialami oleh manusia karena di balik itu terdapat rahmat Allah SWT yang tersembunyi berupa kelembutan-Nya dan kasih sayang-Nya.

Hidup terkadang adalah episode yang terus diulang-ulang namun tentu saja dengan tingkat pemahaman dan tokoh yang berbeda-beda di dalamnya. Kegagalan sejatinya adalah hal yang biasa, tetapi terkadang kita lupa cara menghadapinya. Kita tidak perlu mempersoalkan kegagalan-kegagalan yang dialami oleh setiap kita karena dibalik itu terdapat rahmat Allah SWT yang tersembunyi berupa kelembutan-Nya dan kasih sayang-Nya. Ketika kita menghadapi kegagalan –dan selayaknya juga keberhasilan- kita sedang berhadapan dengan ilmu takdir, lautan ilmu yang tidak dapat kita jangkau dengan akal kita sebagai manusia biasa atau dapat kita cerna dengan logika biasa. Dan kegagalan bisa terjadi pada siapa saja.

Jadi ketika menghadapi kegagalan, berarti kita masih diberi nikmat, diberi kesempatan yang besar olehNya untuk bersabar dan belajar lagi, mengambil hikmah dari setiap kegagalan, dan bahwasannya Allah SWT memiliki rencana yang baik terhadap kita, karena dia cinta kepada kita. Keberhasilan di mata manusia bersifat nisbi dan seringkali, dan bahkan hari-hari ini, berhala ‘keberhasilan-keberhasilan’ dapat berubah menjadi kegagalan yang pasti. Dan tampaknya saya harus lebih fokus lagi untuk bersabar, belajar dan belajar lagi serta mengambil hikmah dalam hidup. Salam.

Satu pemikiran pada “Nikmat Bernama Gagal

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s