Tentang Ta’aruf dan Khitbah


marriageSuatu kali ada seorang teman bertanya bahwa dia telah melakukan ta’aruf dengan seorang wanita, sebut saja namanya mbak Yu. Proses itu difasilitasi melalui perantara. Setelah itu mereka merasa cocok satu dengan lainnya. Namun kedua orangtua mereka belum mengetahui hal tersebut. Untuk itu, teman tadi diminta oleh orangtua si mbak Yu untuk datang ke rumahnya agar mereka lebih yakin. Akhirnya teman tadi datang juga menyampaikan niat dan rencananya. Namun dari situ muncul pertanyaan, apakah yang dia lakukan itu, dibolehkan oleh Agama atau tidak? (Dia berdialog langsung dengan orang tuanya). Kemudian apakah kedatangan dia itu sudah masuk kategori khitbah/pinangan (waktu itu dia datang sendiri tanpa wali).

Orangtua teman tadi pada dasarnya juga tidak keberatan dengan si Mbak Yu. Meski secara resmi belum dilakukan khitbah/pinangan, bolehkah si Mbak Yu dipertemukan dengan orangtuanya? (Karena orangtua teman saya tadi tidak cukup puas hanya dengan melihat fotonya). Kemudia muncul lagi pertanyaan dari beliau, apakah ada tuntunan secara syar’i jeda waktu antara ta’aruf dengan khitbah dan khitbah dengan akad nikah? Kalo ada berapa lama?

Karena yang ditanya tidak lebih mengetahui dari yang menanyakan, maka, sepakatlah kami menanyakan kepada seorang ustadz yang kami kira cukup mumpuni dalam masalah ini. Setelah bertemu maka kami menanyakan masalah ini, kemudian beliau menjawabnya begini, dalam masalah ini, teman saya tadi tidak dilarang untuk berdialog dengan orang tua si Mbak Yu, yang nantinya ingin dia nikahi. Baik dalam konteks sekadar kenalan atau silaturrahim, maupun dalam konteks sudah langsung mengajukan khitbah/pinangan. Keduanya boleh-boleh saja dia lakukan dan tidak ada larangannya secara hukum syariah.

Sang ustadzpun melanjutkan, apakah kedatangan teman tadi sudah termasuk kategori khitbah/pinangan atau bukan, itu tergantung materi pembicaraan yang dia lakukan dengan orang tua si Mbak Yu. Adakah kalimat-kalimat yang keluar dari mulutnya merupakan sebuah pernyataan maksud untuk menikahi, baik yang bersifat eksplisit (terbuka) maupun yang bersifat implisit (sindiran).

Kalau dia baru sekadar berkunjung, tanpa menyentuh sama sekali materi tentang keinginan untuk mengawini anak beliau, tentu saja tidak bisa dikatakan khitbah/pinangan. Dan secara syar’i, si Mbak Yu masih sangat dimungkinkan untuk menerima khitbah/pinangan dari laki-laki lain.

Namun bila dia sudah menyampaikan maksud dan keinginan untuk menikahi, lalu orang tuanya juga memberikan pernyataan persetujuannya atas lamaran teman saya tadi, barulah si Mbak Yu itu menjadi makhtubah (sudah dalam posisi dilamar), sehingga tidak boleh baginya menerima lagi lamaran dari pihak lain tanpa seizin dari si teman tadi atau dengan kata lain, teman saya tadi mengundurkan diri dari proses khitbah/pinangan. Seperti yang pernah disabdakan oleh Rasulullah SAW: Dan dari Abu Hurairah r.a., dari Nabi Saw. beliau bersabda, “Jangan hendaknya lelaki meminang wanita yang telah dipinang orang lain, sehingga orang itu melangsungkan perkawinan atau meninggalkannya (tidak jadi).” (HR Ahmad dan Muslim).

Adapun kebesertaan orang tuanya dalam masalah lamaran sama sekali tidak menjadi bagian syarat untuk sebuah pinangan. Bahkan hingga nanti akad nikah sekalipun, sebenarnya tidak ada keharusan bagi orang tua untuk hadir. Sebab yang dibutuhkan dalam sebuah lamaran dan akad nikah adalah wali dari pihak wanita. Tentunya, semua itu kalau kita bicarakan dari sudut pandang syariah. Adapun kalau kita melihat dari sudut pandang kebiasaan, adat istiadat, ‘urf atau kelayakan yang umumnya berlaku, tentunya sangat layak dan wajar bila teman tadi datang bersama dengan kedua orang tuanya atau dengan sanak famili terdekatnya. Sebab secara tidak langsung itu akan menunjukkan keseriusan dari pihak teman dan keluarganya. Sedangkan ide agar si Mbak Yu dipertemukan dengan orang tua teman saya tadi boleh-boleh saja. Asalkan dilaksanakan dan diatur dengan cara yang sebaik-baiknya.

Pada dasarnya tidak ada ketentuan yang baku tentang jeda waktu antara khitbah dan akad nikah. Bisa saja hal itu dilakukan secara singkat dan cepat. Namun tidak mengapa bila dilakukan secara perlahan sambil memberikan kesempatan kepada semua pihak untuk memberikan pertimbangan lebih matang.

Kiranya bahasan singkat ini dapat menjadi tambahan khazanah ilmu bagi kita semua yang ingin menggenapkan amalah setengah Dien ini. Mohon maaf bila ada kesalahan. Wallahu a’lam bish-shawab.

Dari Banyak sumber

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s