Jangan Buka Pintu Lagi


Suatu ketika seorang akhwat datang dengan membawa masalah. Seorang laki-laki yang baik agamanya, begitu menurut akhwat tersebut, telah meminangnya dan dengan tangan terbuka diterima. Tetapi karena sesuatu dan lain hal (sekedar menirukan gaya panitia ketika menyampaikan kabar tentang pembicara yang tidak bisa datang), pernikahan belum bisa diselenggarakan segera. Masih perlu waktu untuk melengkapi keperluan nikah.

Dalam masa penantian, secara informal ada ikhwan lain datang dengan maksud untuk meminang. Ketika diberitahu bahwa telah ada yang meminang dan sekarang sedang dalam penantian, ikhwan kita ini mengatakan tak masalah. Bukankah belum ada akad nikah? Kalau nanti di tengah jalan ternyata peminang pertama jadi menikahi, maka dia akan mundur dengan senang hati. Karena itu, tak ada salahnya kan kalau mencoba-coba untuk menjajagi kemungkinan menikah? Toh, kalau peminang pertama memang serius bisa mundur sewaktu-waktu. Sementara kalau tidak jadi, dia bisa maju.

Tapi, mencabut perasaan dan keputusan ternyata tak semudah mencabut duri dalam daging. Sekarang keduanya berkeinginan untuk segera menikah dengan sahabat kita ini dan kedua-duanya siap untuk segera melangsungkan pernikahan. Persoalan ini semakin sulit dipecahkan karena sahabat kita merasa kedua-duanya baik. Selain itu, sangat tidak mudah untuk menyuruh salah satu mundur karena keduanya sudah melangkah agak jauh. Ikhwan yang pertama telah meminta dan orangtua kedua belah pihak telah saling mengadakan pembicaraan.

Pembaca,

Ketika persoalan ini dihadapkan kepada saya, tidak ada jalan keluar yang saya tawarkan kepada saudara kita ini. Saya berada dalam perasaan yang tidak jelas. Saya hanya teringat pesan Rasulullah shallaLlahu ‘alaihi wasallam agar tidak meminang wanita yang sedang berada dalam pinangan saudaranya. Perintah yang ada dalam hadis Nabi itu ditujukan kepada kaum laki-laki. Tetapi, saya rasa (ya, saya rasa) wanita pun perlu membantu saudaranya –yakni laki-laki Muslim– agar tak meminangnya ketika ia sedang berada dalam pinangan, terutama ketika pinangan itu telah positif dinyatakan diterima.

Marilah sejenak kita tengok hadis Nabi Saw. ini. Nabi kita yang mulia telah mengingatkan: Dari ‘Uqbah bin ‘Amir r.a. bahwa Rasulullah Saw. bersabda, “Orang mukmin adalah saudara orang mukmin yang lain. Maka tidak halal bagi seorang mukmin menjual barang yang sudah dibeli saudaranya, dan tidak halal pula meminang wanita yang sudah dipinang saudaranya, sehingga saudaranya itu meninggalkannya.” (HR Jama’ah). Rasulullah juga bersabda: Dan dari Abu Hurairah r.a., dari Nabi Saw. beliau bersabda, “Jangan hendaknya lelaki meminang wanita yang telah dipinang orang lain, sehingga orang itu melangsungkan perkawinan atau meninggalkannya (tidak jadi).” (HR Ahmad dan Muslim).

Apa arti pesan Rasulullah itu bagi kita? Jawaban pertama adalah wallahu A’lam bishawab. Saya tidak tahu apa-apa tentang soal ini. Sesudah itu, mari kita periksa apa hikmah di balik peringatan untuk tidak meminang pinangan saudaranya sesama Mukmin ini. Mari kita ingat perkataan Ummul Mukminin ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha mengenai pernikahan sebelum kita melangkah lebih dalam. Kata ‘Aisyah r.a., “Pernikahan itu sangat sensitif, dan tergantung kepada pribadi masing-masing untuk mendapatkan kemuliaannya.”

Pernikahan itu sangat sensitif. Hampir setiap hal yang bersangkutan dengan nikah sangat sensitif. Hampir setiap tahap dan proses peka terhadap munculnya sikap maupun perasaan-perasaan tertentu secara khusus, baik yang dinyatakan ataupun tidak. Apa saja yang ada dalam proses menuju pernikahan maupun fase-fase awal pernikahan, mudah membangkitkan perasaan yang kuat, negatif maupun positif. Padahal, lembaga pernikahan sangat agung. Lembaga pernikahan sangat mempengaruhi bagaimana orang-orang yang ada di dalamnya serta anak-anak yang dilahirkan kelak akan tumbuh. Secara umum, lembaga pernikahan sebagian besar masyarakat akan menentukan corak masyarakat yang terbentuk.

Kekecewaan dalam pernikahan, terutama proses-proses paling awal dari pernikahan, sangat mudah mempengaruhi sikap orang yang bersangkutan terhadap lawan jenis, ikatan pernikahan, kepercayaan terhadap sesama manusia, dan bahkan agama –khususnya dalam perkara mengimani prinsip-prinsip agama. Secara khusus, cacat dalam proses awal –di antaranya perasaan dilecehkan karena keluarga calon istri menerima pinangan dari orang lain– dapat mengakibatkan sikapnya kelak kepada istri dan anak-anaknya menjadi tidak baik. Sedangkan bagi peminang kedua — seandainya kelak menikah dengan peminang kedua– sikap keluarga/calon istri juga merupakan tanda yang yang tidak baik. Kepercayaan sulit dibangun. “Benar, saat ini saya yang menang. Tapi apa yang dapat menjamin bahwa istri saya ini nanti akan memiliki kesetiaan, sedangkan ludah yang sudah ditumpahkan saja ia masih mau menjilat kembali.”

Ini salah satu kemungkinan saja. Kemungkinan yang lain boleh jadi bukan sesuatu yang pasti buruk. Tuhan Sangat Kuasa untuk menentukan peristiwa yang sama sekali lain dibanding perhitungan-perhitungan ‘aqliyyah (akal) manusia. Hanya saja, sejauh yang mampu saya baca, itulah kemungkinan yang bisa terjadi.

Mudah-mudahan kejadiannya tidak sampai seperti itu. Pintu-pintu Allah masih terbuka, seandainya hati kita mampu mengetuk-Nya. Mudah-mudahan Allah memperbaiki keadaan kita dan menghapus kesalahan-kesalahan kita dengan memperjalankan diri kita beserta keturunan kita ke dalam golongan orang-orang yang suka berbuat baik. Mudah-mudahan Allah kelak mematikan kita, orangtua kita, teman hidup kita, saudara-saudara kita, sahabat-sahabat kita serta orang-orang yang dekat kita dalam keadaan memperoleh ampunan dan ridha Allah.

Setiap kita mempunyai kemungkinan untuk melakukan kesalahan, bahkan yang lebih besar lagi. Mudah-mudahan kita bisa merenungkan lebih dalam tentang urusan agama kita, setahap demi setahap.

Dinukil dari Kado Pernikahan untuk Istriku

NB.

Buat yang mau nikah coba perhatikan tulisan yang ditulis tebal, bahwa bukan hanya tugas lelaki saja untuk memperhatikan hal-hal yang berhubungan dengan pelaksanaan prosesi pinangan/lamaran tetapi juga tugas dan kewajiban perempuan untuk menyatakan dengan tegas, jelas dan lugas tetapi sopan bahwa ia telah menerima pinangan/lamaran atau istilahnya sedang dalam tahap proses “merger/akuisisi”.

Ini juga untuk mencegah anggapan bahwa dirinya seperti “iklan mini lowongan kerja”, banyak yang antri mau melamar tetapi pelamar tidak pernah mendapat kejelasan siapa yang akan diterima. Iklan model seperti ini tidak pernah jelas, kalau belum ada calon pelamar yang cocok mdengan kriteria maka iklan dipasang ulang kembali, terus seperti itu. Padahal dalam Islam bila ada yang melamar syarat paling utama “cuma” disuruh memperhatikan Agama dan Akhlaq calon suami. Maksudnya? Pernah, ada orang bertanya kepada Al-Hasan r.a. mengenai calon suami putrinya. Kemudian Al-Hasan r.a. menjawab, “Kamu harus memilih calon suami (putrimu) yang taat beragama. Sebab, jika dia mencintai putrimu, dia akan memuliakannya. Dan jika dia kurang menyukai (memarahinya), dia tidak akan menghinakannya.” Dalam sebuah hadits yang sangat terkenal, Rasulullah bersabda: “Jika datang kepada kalian (hai calon mertua) orang yang kalian sukai (ketaatan) agamanya dan akhlaknya, maka nikahkanlah dia (dengan putrimu). Sebab, jika kamu sekalian tidak melakukannya, akan lahir fitnah (bencana) dan akan berkembang kehancuran yang besar di muka bumi.” Kemudian ada yang bertanya, “Wahai Rasulullah, bagaimana jika orang (pemuda) itu mempunyai (cacat atau kekurangan-kekurangan)?” Maka, Rasulullah Saw. menjawab, (mengulangnya tiga kali) “Jika datang kepada kalian orang yang bagus agama dan akhlaknya, maka nikahkanlah dia (dengan putrimu)!” (HR Imam Tirmidzi dari Abu Hatim Al-Mazni).

Makanya bagi para perempuan jika terus menunda menerima pinangan/lamaran atau menerima tetapi juga tidak mengumumkan, sama saja dengan menjebak saudaranya ke dalam perbuatan tidak halal, toh itu kabar gembira dan bukan peristiwa memalukan, seharusnyalah dikabarkan. Selain itu juga bila terjadi kegagalan dalam proses pinangan/lamaran yang terus berulang, akhirnya dapat menimbulkan keengganan. Ibaratnya, “Liat iklan itu terus, jadi males gw mbacanya apalagi ngeliatnya, basi! Itu lagi-itu lagi, kayak MAXGAIN aja!

Buat para lelaki juga begitu halnya, jika punya calon tetapi karena sesuatu dan lain hal si calon dipinang/dilamar lebih dulu oleh saudaranya maka ia harus mengikhlaskannya. Ikhlas itu lebih baik dan disenangi Tuhan, kecuali pinangan/lamaran saudaranya batal. Maka ia baru boleh meminang/melamar si calon. Buat lelaki yang lamaran/pinangannya telah diterima maka ia harus mengumumkan pada saudaranya yang lain bahwa ia telah melamar si fulanah, sehingga saudaranya yang lain tidak terjebak kedalam perbuatan tidak halal karena kurangnya informasi yang diterima. Bila kemudian dia membatalkan pinangan/lamarannya hendaknya ia juga menginformasikan pada saudaranya yang lain sehingga tidak tertunda uzur –kepentingan, saudaranyanya.

Sekarang yang sudah terjadi, biar berlalu, jangan terlalu lama disesali. Jangan terlalu lelah memikirkan “pintu” yang tidak bisa/tidak mungkin lagi kita masuk kedalamnya -habis terbuang percuma energi kita buat memikirkan yang tidak jelas, begitu kata Aa’ makanya istrinya nambah lagi, mungkin prinsipnya lebih baik energinya dibuang buat istri, he…he… he… Lebih baik kita memikirkan “pintu-pintu” yang lain, yang lebih ramah penghuninya, gampang diketuknya, tidak berderit ketika dibuka dan kita dipermudah masuk ke dalamnya. Assalamu’alaikum… Wa ‘Alaikumussalam…

Jika masih sampai terlewat atau dilewati lagi, tenang… aja bro. Nanti kita bikin Asosiasi Jomblo Nyari Pintu Hati dan nyari ilmu sama si Aa’, gimana caranya bisa punya istri sampe 2, OK? He… he… he…

Tapi lebih afdhal lagi, baca aja buku Kado Pernikahan untuk Istriku, itu cukup koq memberi pencerahan.

Selamat melamar dan… Dilamar!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s