Sahabat Sejati


Sahabat Sejati

Fajar Wisesa

Suatu ketika ada dua orang sahabat yang sedang berlayar ke sebuah negeri. Untung tak dapat diraih, malang tak dapat ditolak. Di tengah perjalanan kapal mereka diterjang badai besar. Buritan kapal terbelah dua sehingga karamlah kapal tersebut. Alkisah, hanya kedua orang bersahabat itulah yang selamat dari semua penumpang kapal, mereka berdua berhasil berenang sampai ke sebuah pulau kecil.

Setelah menunggu sekian lama datangnya pertolongan yang tak juga kunjung tiba, maka mulai berputus asalah kedua orang tersebut. Salah seorang dari mereka kemudian mulai berdoa, “Ya Tuhan kami, Yang Maha Agung dan Perkasa, kasihanilah kami berdua. Berilah kami kesempatan untuk mengabdi kepadaMu lebih baik lagi bila kami selamat hari ini, dan dapat berkumpul kembali bersama keluarga kami. Ya Tuhan kami, Yang Maha Pemurah lagi maha Penyayang, sekiranya Kau berkehendak kirimkanlah kepada kami sebuah sampan kecil agar kami dapat sampai ke tempat dimana pertolongan lebih dekat kepada kami. Ya Tuhan kami, Yang Maha Mampu dan Memiliki, sesungguhnya apa-apa yang tak mungkin bagi kami, semua itu sangatlah mudah bagi-Mu, bila Kau berkehendak maka terbitlah matahari dari barat dan Kau tenggelamkan ia di timur, dan sesungguhnya semua itu mudah bagimu, maka kabulkanlah doa ini ya Tuhan kami. Amiin.”

Sedari tadi dia berdoa, ia melihat sahabatnya berdiam diri saja, tak ada suatu apapun yang dilakukannya. Ia melihat sahabatnya sedari tadi hanya berdiam diri saja layaknya orang termenung, maka timbullah rasa kesalnya. Sehingga dalam hatinya timbul rasa dengki dan ia berjanji bila nanti ada rakit ataupun sampan yang menepi ke pulau itu, maka ia akan meninggalkan sahabatnya sendirian di pulau itu.

Singkat cerita, ternyata ada sebuah sampan yang terdampar ke pulau itu. Maka segeralah sahabat yang berdoa tadi menaiki sampan tersebut dan ia mulai mendayung sampan itu, semakin lama semakin cepat hingga menjauhi pulau kecil itu dan meninggalkan sahabatnya disana. Ia bahkan tidak menoleh ke belakang untuk sekadar mengucapkan selamat tinggal pada sahabatnya. Dalam hatinya ia berkata, “ini semua tentulah karena doaku, si Bejo itu memang pantas tinggal sendiri di pulau karena ia malas dan tak mau berdoa. Ia bahkan tak meng-Amiin-kan doaku”.

Tak lama dia berkata begitu, dari langit terdengar suara menggelegar bertanya, “Hai Bedul mengapa kau tinggal sendiri sahabatmu si Bejo di pulau itu?” Sambil tergagap-gagap si Bedul menjawab, “Ya Tuhanku, hamba tinggalkan dia karena hanya hamba sendiri yang berusaha dan berdoa ketika kami dalam kesusahan, sedangkan ia hanya asyik berdiam diri tenggelam dalam lamunannya.” Lalu Tuhan bertanya lagi, “Hai Bedul, tahukah mengapa kukabulkan doamu dan kukirimkan kepada kalian sebuah sampan? Itu karena si Bejo dalam hatinya selalu berkata, “Ya Tuhan Kami, kabulkanlah apa-apa yang dimintakan Sahabat dan Saudaraku ini, Amiin.”

Intisari dari cerita diatas adalah, kecintaan seorang sahabat kepada sahabatnya yang lain kadang memang tak perlu ditunjukkan dengan kata-kata, kadang-kadang juga tak perlu diperlihatkan dengan tindakan. Seorang sahabat yang cinta dan sayang pada sahabatnya yang lain, mungkin memiliki keterbatasan untuk mengekspresikan rasa cintanya pada sahabat yang dicintainya, yang dikasihinya.

Ia mungkin tak pernah memberikan kebaikan, walaupun seringkali kita menawarkan padanya. Atau mungkin kita pernah merasa, bahwa ia hanya membalas kebaikan sebatas kebaikan yang pernah kita berikan, seimbang balasannya. Tapi mungkin itu semua hanya dilihat secara fisik belaka, kita tak pernah tahu apakah ia memang sahabat sejati atau bukan. Tapi bila kita mau berbaik sangka, mungkin, apa-apa yang berhasil kita raih hari ini dan di masa depan, bukan semata-mata karena hasil kerja keras dan doa kita sendiri, mungkin itu semua juga karena doa-doa sahabat kita, yang karena keterbatasannya tak mungkin mengekspresikannya secara fisik, tapi sesungguhnya mereka selalu dan terus menerus mendukung kita, dari mulutnya selalu mengalir doa-doa untuk para sahabatnya.

Dalam sebuah Hadist: “Abu Darda ra. telah mendengar Rasulullah SAW bersabda: Tiada seorang muslim yang mendoakan temannya tanpa diketahui oleh orang yang didoakan, melainkan disambut oleh malaikat: Dan untukmu juga seperti itu.” (HR. Muslim). Dalam hadist yang lain juga disebutkan: “Abu Darda ra. Berkata: Rasulullah SAW bersabda: Doa seorang muslim untuk seorang saudaranya di luar pengetahuan yang didoakan adalah doa yang mustajab, di kepala orang yang berdoa itu ada malaikat yang ditugaskan agar tiap ia berdoa untuk saudaranya itu disambut dengan, amiin walaka bimitslin (semoga diterima dan untukmu sendiri seperti itu).” (HR. Muslim)

Maka dari itu, selalulah bersangka baik pada sahabat-sahabat kita, boleh jadi ia tak sanggup mengatakan cinta dan rasa sayangnya kepada kita tetapi sesunguhnya ia adalah sahabat sejati, mungkin paling sejati yang pernah kita miliki. Dari dasar hatinya yang paling dalam, ia selalu memberikan dukungan kepada kita dan memanjatkan doa untuk kebahagian, keberhasilan dan kebarokahan kita semua.

Terima kasih sahabat, sungguh aku cinta dan sayang kepada kalian karena Allah semata. Dan semoga Allah mencintai kalian sebagaimana aku mencintai kalian karena Dia. Amiin. Wallahu a’lam bish shawab.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s