Kuda, Gajah dan Semut


Ini ada cerita basi dari masa ribuan tahun yang lalu tapi kayaknya masih enak dibaca, begini ceritanya:

Menurut alkisah (ini off the record lho… kabarnya!), sewaktu jaman Nabi Nuh dulu, saat ada banjir besar yang melanda dunia karena kemurkaan Tuhan. Nabi Nuh kemudian mengumpulkan hewan berpasang-pasangan dalam perahu besarnya.

Karena yang dikumpulkan cukup banyak, dikhawatirkan hewan-hewan itu akan bertambah populasinya (maklum ga’ pake celana) maka diperintahkan seluruh hewan jantan melepas “alat”-nya untuk sementara waktu sampai banjir reda (kabarnya banjirnya 40 hari 40 malam bahkan ada yang bilang tahunan!). Perintah ini – berlaku bagi semua hewan dari yang paling besar gajah sampai yang terkecil semut kecuali untuk manusia (ini lebih off the record lagi… saya belum dapat berita lagi dari Boss besar tentang kisah yang ini) – dibuat karena dikhawatirkan perahu akan tenggelam karena tidak mampu menampung jumlah populasi yang akan terus bertambah.

Hewan-hewan itupun mulai melepas dan mengumpulkan “alat”-nya masing-masing dan disimpan dalam sebuah peti. Setelah lama sekali dalam perahu, akhirnya banjirpun surut dan mereka berlabuh di sekitar Pegunungan Ararat, yang melintasi Turki, Iran dan Armenia sana. Maka hewan-hewan itupun kemudian mulai lari berhamburan keluar bersama pasangannya masing-masing. Setelah beberapa lama merekapun (hewan jantan) tersadar bahwa ada yang lupa terbawa (maklum sudah lama tidak ganti oli), maka hewan-hewan jantan kembali ke dalam perahu untuk mengambil “alat” mereka masing-masing.

Si Kuda adalah hewan pertama yang sampai, ketika itu perahu sudah sepi, sesampainya disana ia lalu membuka peti dilihatnya “alat” yang paling besar milik Si Gajah, tengok punya tengok keadaan aman dan terkendali maka diambilah “alat” Si Gajah lalu dipakainya, iapun lari kegirangan dan berdiri bangga (maka dari sejak itu Si Kuda selalu berjingkrak sambil tertawa meringkik dan memamerkan “alat”nya -Kayak itu lho lambangnya Ferrari).

Setelah itu beberapa hewan datang dan mengambil “alat”-nya masing-masing, sampai akhirnya Si Gajah datang dilihatnya peti tempat menyimpan “alat”, alangkah kagetnya Si Gajah karena “alat” yang tersisa bukan miliknya karena bentuk yang kecil dan pendek. Apadaya, untung tak dapat diraih,malang tak dapat ditolak, terpaksalah diambinya “alat” yang tersisa itu. Si Gajah keluar dengan langkah yang gontai sambil kepalanya tertunduk menggeleng ke kanan dan ke kiri, menyesali nasibnya (ini menjelaskan mengapa Si Gajah selalu terlihat berjalan dengan langkah yang gontai, kepala tertunduk sambil terus menggeleng-geleng, pikirnya, “Sial.. sial… kenapa bisa dapet kecil begini? Sial… sial…”).

Namun Si Gajah bukanlah yang paling menderita karena peristiwa itu,ketika keadaan sudah sangat sepi, datanglah Si Semut. Ia melihat keadaaan kapal yang banyak debu dan acak-acakan, kemudia matanya diarahkan ke peti tempat menyimpan “alat”-nya, peti sudah dalam keadaan kosong dan rusak berat, tanda terjadinya chaos dalam perebutan mengambil “alat” dan tak ia temui miliknya. Sejenak Si Semut tersadar ternyata sudah lama ia meninggalkan perahu itu, tapi dasar Si Semut ini selalu optimis dan selalu berbaik sangka pikirnya, “Ah, mungkin karena terlalu kecil “alat” itu tertiup angin!” Dengan penciuman yang tajam kemudian ia mulai mencari, (red. ia masih dapat mencium sisa-sisa bau “alat”nya saat itu) di sekitar peti, tidak ketemu, di dalam dan di luar perahu, tidak ketemu juga. Akhirnya ia memutuskan mulai mencari jejak “alat” tersebut sambil mengendus tanah dan akan bertanya kepada setiap makhluk yang ditemuinya (dan sejak saat itu juga Si Semut terlihat selalu mengendus tanah/dinding/dsb. dan setiap bertemu dengan sesamanya mereka selalu saling bertanya, “hai, sudah ketemu belum?”).

Setelah membaca cerita ini, lain waktu kalo lo-lo ketemu sama Si Semut untuk mengurangi deritanya dan selalu memompakan semangat padanya, usahakan Anda selalu menyapa mereka terlebih dahulu, “Hai, sudah ketemu belum?”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s