Asal ‘Goblek’


Pernah ada yang ikut kuliah manajemen Stratejik?. Kalo kelas lain disuruh bikin analisis SWOT pake data perusahaan-perusahaan gede, sementara kelas gw malah disuruh bikin pake data industri kecil dan menengah.

Sebenernya, menurut gw data industri kecil dan menengah jauh lebih sulit dapetnya daripada industri atau perusahaan gede. Akhirnya untuk menyiasati, gw bikinlah rekayasa nilai. Kenapa MAJIK ga’ ada ujian finalnya? Menurut gw karena strategi setiap orang bisa jadi berbeda dan itu sah-sah aja. Perusahaan yang hampir kolaps bisa aja menerapkan strategi yang ekspansif/agresif daripada bertahan, selama si strategic planner bisa mempertanggungjawabkan rencananya, tentunya juga dengan batasan-batasan yang jelas. Satu lagi, MAJIK menurut gw masalah yang subyektif jadi ga’ ada yang pasti, contoh paling jelas bisa dilihat di sepak bola. Apalagi sepakbolanya Indonesia, bayangin PERSIJA sama PERSIK? Widiiii…! PERSIJA bergelimang dana dan pemain tapi nyatanya, mbelgedes. PERSIK, juara udah 2 kali tapi pas menjuarai LI beberapa tahun lalu, habis juara langsung degradasi… Biar manajernya jago MAJIK juga, kayaknya tetep harus belajar juga MAGIC.

Ngomong-ngomong MAJIK, pernah ada tugas ajaib. Disuruh nulis 76 halaman tentang “Saya dalam 10 tahu mendatang”. Format terserah! Gw yang saat itu repot dan kedesek ama urusan tahunan, bulan Maret sampe Agustus, terpaksa deh nulis cerita yang gambarin kisah gw dari kecil ampe gede, tambah bumbu sedikit khayalan 10 tahun mendatang. Nukilannya ada dibawah, walaupun ga’ gw tampilin secara keseluruhan. Walhasil, karena perintahnya format terserah terpaksa deh font-nya gw pilih Times New Roman 36/40 (gede banget kan?), biar dosen males bacanya tapi gw juga ga’ nyalahin aturan, bad strategy but good plan. Pas kita ngumpulin, beliau minta tambah sepuluh halaman lagi terpaksa gw gedein lagi aja jadi font 48😀, isi tetep aja ga’ berubah. Namanya juga strategi orang kepepet….

AKU DALAM 10 TAHUN MENDATANG

Akan menjadi apa aku dalam 10 tahun mendatang? Jika saja masih memiliki mimpi, pasti mudah bagiku menuliskannya. Aku telah berhenti melakukannya sejak setahun yang lalu. Aku melihat hidup ini bagaikan sekumpulan pilihan, terlepas dari masalah tepat atau tidaknya pilihan yang akan diambil. Aku mulai berubah dalam melihat hidup ini, hidup adalah apa yang aku lihat bukan yang aku kira.

Dalam melihat hidup, aku termasuk terlambat untuk melihat, mengerti. Aku kira bahkan terlalu amat terlambat. Aku bukan tipe orang yang akan berjuang bila aku menemui kesulitan atau hambatan, artinya aku tidak akan menciptakan sebuah pilihan, terobosan, peluang atau kesempatan baru agar aku cepat lepas terbebas dari hambatan yang ada. Aku hanya akan memilih atau menjalankan pilihan terbaik dari semua pilihan terburuk yang ada. Aku tahu semua orang pasti menemui banyak kesulitan atau hambatan dalam hidup bahkan mungkin lebih sulit lagi dari yang aku alami. Tetapi aku selalu merasa bahwa aku dalam posisi yang salah, baik waktu, tempat dan keadaan. Aku sering berkata bila saja aku anak si Anu yang yang kaya dan hebat itu, pasti dengan mudahnya aku membuat pilihan dan menentukan jalan hidupku -aku termasuk yang tidak neko-neko dalam menjalankan hidup- tapi nyatanya aku hidup dan tinggal dengan bapak – pensiunan pegawai negeri- dan mama -seorang ibu rumah tangga, walau sebanyak apapun usaha yang mereka lakukan, tampaknya tidak terlalu banyak berpengaruh padaku. Aku terlalu asyik dengan hidupku sendiri.

Lahir 30 tahun yang lalu dari keluarga sederhana -kalau tidak bisa dibilang kurang. Rumah kami selalu kebanjiran saat musim hujan dan biasanya bapak segera membeli tahi gergaji -limbah hasil potongan kayu- agar lantai rumah yang tanah ketika itu tidak becek setelah banjir. Lahir dengan gangguan Ashma saat itu sangat membuat mama selalu cemas. Aku menghabiskan 300 bungkus puyer, tulis bapak dalam buku catatannya. Akhir tahun 70-an bapak membeli rumah yang kami kontrak dari pemiliknya karena mereka akan pindah bertransmigrasi ke Sulawesi. Bapak selalu ingin memberi pendidikan yang terbaik bagi aku dan adik-adikku -semampu yang dia bisa, beliau mendidik kami dengan gaya yang keras -militeristik. Bila tidak juga bisa mengerti pada satu soal, baik membaca atau berhitung maka rotan di tangan sudah siap menghajar pantat dan betis. Umur 5 tahun aku sudah bisa membaca koran dan buku bacaan, walau tidak banyak saat itu.

Setelah meminjam uang dari seorang sahabat baiknya, bapak menyekolahkan aku di tempat yang -dalam hitungan ekonomi saat itu- tidak mungkin sanggup dibayar olehnya. TK tempat anak-anak pegawai PERTAMINA, TK Patra I namanya. Saat itu TK tidak berorientasi playgroup seperti sekarang tetapi memang belajar berhitung, membaca dan bermain.

Menginjak SD bapak selalu memberikan hadiah bila kami mencapai prestasi yang sekiranya bagus meski itu cuma makan bakso atau bakmi di restoran “Cahaya Timur” atau ke toko buku “Aksara” membeli komik Superman, Batman (DC Comics) atau Spiderman dan Captain Marvel (Marvel Comics). Di rumah, aku selalu berkompetisi dengan adikku walau tak pernah dapat juara pertama di sekolah tetapi aku lebih banyak dapat juara, aku selalu merasa pelajaran yang aku terima terlalu mudah bahkan dengan waktu belajar yang kurang aku masih sering dapat nilai bagus.

Kelas 3 aku mulai bosan dengan semua itu, aku jadi bandel dan ujungnya mama dipanggil ke sekolah dan pulangnya aku dihajar bapak, kecewa karena prestasi turun dan aku mulai bandel. Setelah kejadian itu aku kembali dalam jalur yang benar -setidaknya begitu menurut bapak dan mama.
TV di rumahku masih hitam putih saat itu, sedang teman-temanku banyak dari kalangan berpunya, TV-nya tentu berwarna. Sebagai perbandingan, dari TK sampai kelas 2 SD aku selalu naik becak pak Amin langgananku, sedangkan teman-teman banyak diantar naik mobil sendiri atau jemputan. Saat aku naik ke kelas 3, akhirnya mama memutuskan berhenti berlangganan becak dengan alasan anaknya sudah pintar ke sekolah sendiri -belakangan aku baru tahu kalau uang langganan becak dipakai untuk menutup uang belanja dapur yang tidak cukup- aku menangis berdua dengan adikku karena tidak akan naik becak pak Amin lagi.

Gara-gara TV berwarna ini juga aku jadi pulang sekolah terlambat karena nonton video Voltus 5 di rumah teman. Walau temanku banyak anak orang berpunya tetapi mereka tidak pernah membedakan dalam bermain atau berteman. Kelas 5, aku ingat, itulah saat pertama kali aku mengenal komputer di rumah temanku yang orang Bali, I Made Joni namanya, meski cuma main helicopter dengan layar berwarna hijau monochrom dan latar belakang warna hitam tapi itu sudah cukup membuatku terkagum-kagum. Komputer dengan merek Garuda, floppy disk ukuran 5 seperempat inchi, entah kapan bapak bisa membelikan aku komputer seperti itu.

Lulus kelas 6 aku masuk SMP favorit di Rawamangun saat itu -SMPN 74. Aku terkejut-kejut dengan pelajaran bahasa Inggris, nilai bahasa Indonesia saja paling bagus 7 bagaimana lagi dengan bahasa baru ini? Nilaiku jeblok, dapat 6 tetapi aku tidak panik. Bapak kemudian menyuruhku mengambil kursus bahasa Inggris di EEC, di daerah Pisangan Lama, bukan karena bagus tetapi karena biayanya murah. Sejak kursus, nilai bahasa Inggrisku lumayan dapat 7. Beberapa lama kemudian aku baru tahu bahwa guru bahasa Inggris di SMP-ku, ternyata mengajar juga di tempat kursus itu walau aku tak pernah diajar dia selama ditempat yursus itu. Pak Priyo, mungkin adalah guru yang paling tepat disebut pendidik, guru -digugu dan ditiru. Tak pernah sekalipun beliau menghardik, marah, tuturnya selalu baik dan jelas. Bila memberi pujian karena si penerima pujian memang pantas dipuji, bila memberi hukuman, bukan untuk menghukum tetapi agar siswanya lebih mencintai lagi pelajaran itu. Tak pernah kami -siswanya, mengganti uang fotokopi, semua bahan pelajaran gratis -padahal di sekolahku banyak anak dari kalangan orang berada. Sayangnya dari sekian banyak
guru cuma satu yang seperti dia. Aku tak pernah menyelesaikan dan mengambil ijazah kursus bahasa Inggris di EEC karena aku memang tak pernah percaya pada angka diatas kertas.

Di SMP tidak ada pelajaran yang menonjol yang bisa aku banggakan. Aku kehilangan arah karena bapak tidak terlalu mengerti pelajaran SMP. Aku memang tak pernah dapat angka merah tetapi nilaiku pas-pasan. Aku tidak pernah punya ketakutan pada pelajaran apapun hanya saja aku juga tidak pandai berkomunikasi untuk mengutarakan apa yang menjadi kesulitanku karena aku sadar walaupun meminta pasti tidak langsung atau mungkin bahkan tak pernah terkabulkan. Saat itu mata pelajaran yang paling bagus dan paling kukuasai adalah Keterampilan dan Olahraga. Dari Keterampilan aku bisa buat radio sendiri. Olahraga, aku senang lari karena itu membuatku terbebas dari Ashma, sebetulnya ada 2 olah raga yang dapat membantu mengurangi Ashma, pertama renang dan kedua lari. Berenang sepertinya aku tak punya bakat di olah raga itu, buktinya sudah 2 tahun aku ikut renang, tetap saja aku cuma asyik di pinggir kolam. Lari, jelas aku lebih senang lari jarak jauh daripada lari cepat, walau pernah ikut mewakili sekolah tetapi tak pernah jadi juara.

Ada cerita konyol saat ikut lomba lari, saat itu pemusatan latihan dikurangi untuk sementara karena bertepatan dengan bulan puasa. Kami latihan hanya mendekati maghrib, entah mengapa dan keterbatasan informasi yang ada karena merasa perlu suplemen tambahan (dopping) aku terpengaruh pada iklan obat suplemen tambahan “sarapan kedua”. Kupikir karena waktu latihan bulan puasa menjelang maghrib aku perlu mengkonsumsi obat itu agar stamina tetap terjaga (Iklan banget!). Alih-alih mendapat kondisi yang prima, tubuhku malah melar, naik 8 Kg. setelah lebaran. Pelatih memang sering bertanya, mengapa tubuhku tambah besar (ke  samping), aku jelas menjawab tidak tahu karena aku latihan dengan porsi yang lebih. Semakin aku lelah setelah latihan, semakin banyak aku makan apalagi saat berbuka. Mama saja terheran-heran karena kami berbuka dengan lauk pauk seadanya tetapi aku bisa menghabiskan 5 piring. Jadi, seringkali aku sholat maghrib dengan perut yang terlalu penuh dan sesak. Usai lebaran, lomba lari sudah dekat dan menjelang hari H beratku terus naik sampai 12 Kg. Pelatih sebenarnya tidak ingin menurunkan aku, hanya saja namaku sudah tercantum dalam daftar peserta lomba. Akhirnya bisa ditebak, lomba lari jarak 1.500 meter, aku lari bagaikan badut, terengah-engah dan tercecer diurutan belakang meski bukan paling buntut.

Selepas SMP, aku masuk SMA Negeri depan arena pacuan kuda Pulomas. Kelasku dipenuhi lulusan SMP labs school (IKIP). Di kelas, tak banyak temanku dari satu SMP dulu, jadilah kelas baru itu arena silaturahmi, berkenal-kenalan lagi. Seminggu setelah sekolah dimulai, SMAN 81 memberikan pengumuman bahwa lulusan dari SMP labs school dapat memilih antara tetap bersekolah di Pulomas atau kembali sekolah di sana. Tentu saja hal ini menyebabkan eksodus besar-besaran, kelasku yang tadinya berjumlah 48 orang menyusut menjadi 38 orang, itupun satu orang bertahan dengan alasan rumahnya lebih dekat Pulomas. Kelasku lebih banyak perempuan daripada prianya, aku dan teman-temanku (kami 10 orang siswa pria) membuat kelompok yang duduk langsung berhadapan dengan meja guru. Kami tidak membentuk geng karena memang tak pernah membuat nama resmi, tetapi sering kali kami beranekdot dengan diri sendiri kami adalah kelompok “No Future in 21”, selain karena sekolah yang bernomor 21, lalu kejadian eksodus itu, juga karena mendekati awal abad 21. Kami tak pernah bandel sampai memalukan orang tua, cuma sebatas kenakalan seperti, tak ikut upacara, datang terlambat, bolos sekolah bareng-bareng untuk nonton film “Cross Road”-nya Ralph DiMacchio dan Steve Vai di RCTI. Semua kami lakukan karena semata kami tak pernah bandel waktu di SMP. Tak lama kemudian, kami dikumpulkan oleh kakak kelas untuk membentuk kelompok pengajian, sebenarnya hal itu seperti blessing in disguise buatku karena sebetulnya yang diundang hanya 1 orang saja, namun karena temanku bingung maka diajak ke-10 orang bandel ini.

Akhirnya ditetapkan pengajian bekeliling di rumah 10 orang ini, aku minder karena rumahku masih gubuk tetapi rupanya punya teman macam begini memang tak kenal batasan kaya atau miskin, temanku datang semua ke rumah, mengaji, dan makan santapan seadanya. Aku bahagia karena disini aku tak melihat ada batasan/sekat sosial ataupun ekonomi yang sebagian besar dibentuk pikiran picik lingkungan kita. Aku seperti kembali ke masa kecilku. Pantas bila orang bilang masa terindah adalah masa SMA. Lagi-lagi selama di SMA prestasiku termasuk yang biasa-biasa saja. Temanku terbagi tiga jurusan di kelas 2. Sebagian di A1, sebagian lagi di A3 sedang aku dan beberapa teman di A2. Kegiatan yang paling banyak diikuti di SMA tentu saja ROHIS, walau hampir dari kami semua -10 orang tersebut- lebih sering jadi pelaksana dari pada jadi pimpinan acara. Hampir semua orang tahu, kelas angkatan ’92 memang diisi oleh orang-orang dengan otak brilian, pencetus ide, konseptor andal. Sedangkan kami angkatan ’93 kebanyakan hanya pelaksana -lebah pekerja, proletar kata temanku- yang hampir tak punya keinginan untuk memimpin tetapi kami bisa diandalkan. Kalau ingat jaman SMA, memang sungguh beruntung aku tak sampai kenal NARKOBA, padahal dari SMP sampai SMA, yang namanya ganja sampai pil BK sudah berseliweran di sudut-sudut sekolah, di warung dan tempat-tempat permainan dingdong. Mungkin juga aku harus bersyukur karena lahir dalam keluarga yang sederhana, punya bapak yang berwatak keras sehingga aku tidak berani mencoba-coba, apalagi sampai bergaul dengan penjual atau pemakai. Tetapi itu juga sekaligus menjadi bentuk kekuranganku yang tak berani ambil resiko, safety player.

Bagi teman seangkatanku, mungkin aku memang terbilang agak aneh, biasanya mudah (kelihatannya) bagi mereka untuk mengungkapkan perasaan kepada teman lawan jenis, tetapi aku perlu waktu 8 tahun setelah lulus SMA untuk mengatakannya. Tentu saja, jawaban yang diberikan adalah “terima kasih” karena dia akan segera menikah. 6 bulan kemudian, dia memang benar-benar menikah. Aku ingat butuh waktu hampir setengah jam untuk mengutarakan perasaanku di HP, walau aku tahu bila kuucapkan 8 tahun yang lalu ataupun saat itu, jawabannya akan tetap sama, “terima kasih”. Terima kasih Anda belum beruntung, coba lagi… Aku tidak menyesal mengucapkannya, ada perasaan lega setelah itu. Beban perasaan yang kubawa lebih dari 13 tahun seperti lepas. Walau agak tercekat ketika pertama kali menyapanya namun setelah itu mengalir begitu saja. Aku memang berharap ada keajaiban disana. Tapi, hey, ini bukan Hollywood Movie man!, this is my life!, and of course… this is real!. Aku memang mencintainya tetapi tak pernah percaya pada konsep hubungan “pacaran”. Nikah dulu, baru pacaran. Selalu begitu yang kuucapkan pada teman-temanku. Hidup memang tak selalu (bahkan tak pernah) begitu indah, namun begitu hidup kan’ harus terus berjalan. Datang ke resepsi pernikahannya, coba lihat dimatanya apakah dia memiliki perasaan yang sama… Tak ada…, dan aku sadar memang tak pernah ada. Kubulatkan tekadku, kalau ia bahagia maka aku juga ikut dan jadi orang yang paling bahagia untuknya. Jadi ingat bait lagunya Ebiet G. Ade, “dan kusandarkan harapanku.”. KDL!

Hampir lulus SMA, aku ikut bimbingan belajar di jalan Kenari, NF (Nurul Fikri) is the best, 2 dari 5 mahasiswa UI pernah ikut bimbingan belajar NF, kira-kira begitu (kalau tidak salah) slogannya. Wow, hebat! dan aku percaya itu bahkan sampai sekarang. Tahun 1993 ikut UMPTN ’93, ujian STAN, Poltek UI semua tidak lolos. Tahun 1994 ikut program Ronin NF ikut UMPTN ’94, ujian STAN tidak lolos, disaat hampir penuh keputus-asaanku, hasil ujian Poltek UI lulus. Bapak dan mama bahagia tetapi terus terang aku tak terlalu berharap, tetapi kembali lagi, hidup harus selalu mengalir.

Poltek semester 1, tiga sahabatku di bangku belakang pojok kanan kelas, DO semua karena nilai pengantar akuntansi dapat E, aku beruntung dapat 1 nilai diatas mereka. Tapi dua dari ketiga temanku itu justru lulus UMPTN di tahun berikutnya. Aku kurang dapat beradaptasi dengan lingkungan Poltek yang katanya hampir sama dengan lingkungan kerja, 8 ke 4 (saat itu). Semester 3, bersama sahabat SMA-ku Yusuf, yang sudah semester 5 di Poltek, kuliah di jurusan Telekomunikasi. Agar tidak terlalu lelah dan mudah dalam menulis tugas akhir, dia mengajakku kos di daerah bilangan jalan Kober, Wisma Asri. Kos-kosan mahasiswa pria yang tidak seasri namanya itu ditinggali oleh 2 kelompok besar yaitu, dari FISIP -Mas Endang (lurah kos), Mas Heri ASDOS (ada 2), Mas Aan Arifin, Mas Eman Sulaeman Nasyim (eks-ketua SMUI), Mas Desrates dan Mas Wisnu. Sedang dari Teknik, Mas Dennis, Mas Bagyo, Mas Ilham, Mas Tatang, Anto, dan Jajang. aku, mas Yudhi, Yusuf dan, Roy dari Poltek. Sesekali kos-kosan ini selalu didatangi orang-orang hebat dari UI, semisal personel SNADA ataupun Bang Ade Armando (Anggota KPI).

Di tahun itu juga, akhirnya aku ikut Aikido setelah sekian lama mencari informasi olah raga beladiri khas Jepang ini. Banyak orang tertarik Aikido karena menonton Steven Seagal. Aku sendiri tahu beladiri ini jauh sebelum “Above The Law” muncul di bioskop, sumber informasinya tentu saja dari TVRI. Olah raga ini unik, keras tetapi dengan cara yang lembut, meredam tanpa membuat dendam. Melihat “Embukai” Aikido yang diperagakan para Sensei Jepang (minimal Sandan -Dan 3) itu serasa melihat orang menari dengan pasangan yang berganti-ganti, indah. Jurus mereka mengalir (nagare) begitu saja dan keringat yang keluarpun hanya sedikit, mengalahkan dengan tenaga lawan. Membanting dan mengunci adalah jurus andalan dalam Aikido. Pukulan dan tendangan dalam Aikido hanya semacam variasasi dalam pertahanan dan untuk mengalihkan perhatian lawan saja. Gaya kuda-kuda (segitiga sama kaki) yang cenderung santai dan natural dibandingkan beladiri lain menjadi daya tarik sendiri dalam seni beladiri ini.

Gasing yang dinamis, begitu seorang akidoka diibaratkan, tidak hanya dalam pertarungan sesungguhnya mereka diharapkan seperti itu tetapi juga pada hidup keseharian dalam menghadapi tantangan kehidupan. Bentuk gerak pertahanan yang selalu bergerak melingkar membuat alur gerakan seperti air, bila berhadapan dengan lawan yang kuat jangan menahan tetapi alirkan, gunakan tenaganya yang besar untuk meredam serangan. Bila berhadapan dengan lawan yang lemah, redam dengan cepat tanpa harus banyak menyakiti karena rasa sakit yang amat sangat dapat menimbulkan dendam, hormati lawan setelah usai dalam pertarungan (mushubi)
agar hilang rasa dendam dan menimbulkan rasa saling menghormati.

Dalam sejarahnya semua beladiri Jepang berasal dari Shorinji Kempo (Shaolin Kungfu -orang Jepang kesulitan menyebutkan hurul l). Selanjutnya beladiri ini terpecah dua menjadi dua aliran Goho (pukulan dan tinju, beraliran keras seperti Karate) dan Juho (bantingan dan kuncian, beraliran lembut seperti Jujutsu dan Judo). Morihei Ueshiba, pendiri Aikido melihat adanya kekurangan pada beladiri Jujutsu yang diikutinya, gerakan Jujutsu yang mantap kurang diimbangi dengan gerakan yang dinamis. Bilaberhadapan satu lawan satu, mungkin memang unggul tetapi bila berhadapan dengan 2 atau 3 orang sekaligus (keroyokan), situasinya bisa jadi berbeda, terlalu statis, defensif dan tidak efektif. Pada dasarnya Aikido adalah percampuran dari beladiri Jujutsu, Yarijutsu (tombak) dan Kenjutsu (pedang). Jurus membanting dan mengunci berasal dari Jujutsu, sedangkan gerakan tangan dan kaki mengadopsi gerakan beladiri tombak dan pedang. Walaupun sudah cukup lama absen latihan Aikido tetapi aku tak pernah benar-benar bisa melupakannya. Ini seperti jatuh cinta untuk pertama kali. Seperti melihat AC Milan. Seperti kuliah di UI. Seperti merakit komputer dengan AMD, ASUS dan Kingston. Seperti makan Pizza dan minum Lemon Squash di Pizza Hut, dan seperti ketika pertamakali melihat dia… Aku adalah orang yang selalu mencintai (fanatik) satu hal dalam setiap subyek yang berbeda, namun asalkan bukan hal yang prinsipil aku masih dapat berubah. Abdi hoyong, hoyong tepang, patepang-patepang deui…

Catatan: Asal ‘Goblek’

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s