Khadijah – The True Love Story of Muhammad (Resensi)


BSMLLHRRHMNRRHM

Membaca buku ‘Khadijah – The True Love Story of Muhammad (Judul asli, Khadijah Ummul Mu’minin Nazharat Fi Isyraqi Fajril Islam karangan Abdul Mun’im Muhammad pada tahun 1994 dan diterbitkan oleh Al-Hai-ah al-Mishriyah), yang diterbitkan dalam bahasa Indonesia oleh Penerbit Pena dan dialih bahasakan oleh Ghozi M., membuat kita mengelana kembali, terbang menjelajah bersama ‘mesin waktu’ melihat kembali masa-masa awal perjuangan Rasulullah SAW menegakkan agama Islam di muka bumi sampai akhirnya berkembang pesat ke seluruh dunia. Walaupun buku ini pada sampulnya tertulis 100% untuk wanita tapi tak ada salahnya bagi para pria untuk juga membaca buku ini.

Usaha keras dan keberhasilan Rasulullah SAW untuk menyebarkan agama Islam di muka bumi, tak terlepas dari rasa cinta tanpa batas dan iman seorang wanita mulia, bahkan orang-orang Mekah sebelum agama Islam lahir, menjulukinya “wanita yang suci”, dialah Khadijah binti Khuwaillid, Ra. atau disini lebih dikenal dengan Siti Khadijah, ibundanya semua orang Mukmin.

Khadijah Binti Khuwaillid, Ra. adalah seorang wanita pengusaha yang mandiri dan independen. Kala itu ia telah menikah 2 kali –kedua suaminya terdahulu telah meninggal dunia- sebelum akhirnya menikah dengan Rasulullah SAW. Ia janda dengan 3 orang anak, 2 laki-laki dan 1 perempuan. Beliau adalah saudagar wanita paling diperhitungkan pada jamannya. Keputusannya menikahi –bahkan melamar Muhammad untuk dirinya sendiri, yang ketika itu berusia 25 tahun jauh lebih muda 15 tahun dari umurnya, bukanlah sebuah keputusan yang lazim bagi seorang wanita pada jaman Arab jahiliah, apalagi telah banyak pinangan dari para bangsawan Quraisy yang datang pada dirinya. Tetapi toh semua ditolaknya karena ia lebih memilih Muhammad seorang pemuda yang terkenal akan kejujuran dan terpercaya karena kesesuaian kata dan perbuatannya, akhlaqnya yang mulia, integritas moralnya yang baik serta kecerdasannya yang tinggi.

Karena keputusannya itulah pantas bila dikatakan Khadijah menjadi pelopor bagi upaya memberikan hak pada kaum perempuan untuk memilih teman hidup mereka sendiri. Khadijah berpendapat bahwa wanita juga berhak melakukan pendekatan kepada pria yang ia inginkan untuk menjadi suaminya.

Sikapnya yang mandiri dan independen selama menjanda, dengan mengelola sendiri urusan-urusan bisnis dan finansialnya, mengajarkannya untuk bersikap sabar dan tegas dalam mengambil keputusan. Pengalaman itu menjadikan Khadijah tidak pernah kehilangan semangat serta tak pernah ragu mengorbankan harta dan raganya untuk membela agama Islam. Ia tetap tegar menghadapi segala permusuhan dan intimidasi kaum kafir Quraisy. Imannya tidak pernah goyah. Dalam membantu Rasul melawan tipu daya mereka, ada kalanya Khadijah menjadi penasihat dengan pikirannya yang cerdik. Tetapi, ada kalanya juga ia menjadi kekasih dengan kasih sayang seorang ibu atau cinta seorang istri. Dihadapinya semua tantangan dengan keberanian dan keteguhan, tak pernah ia gentar maupun gusar. Ia selalu tenang dan setia.

Pria mana yang tak akan memberikan cintanya yang tulus, bila bertemu dengan seorang istri seperti Khadijah, istri yang memberikan kepercayaannya ketika semua orang meninggalkan dan mendustai suaminya, yang memberikan hartanya saat semua orang enggan memberi. Dan memberinya keturunan dengan sebaik-baik keturunan. Pada intinya cinta adalah kepercayaan, dan pria mana yang tidak merasa beruntung diberi kepercayaan oleh wanita yang mempercayainya, mencintainya dengan seluruh jiwa dan raganya? Lewat kepercayaan, tumbuh kekaguman. Dari kekaguman muncullah cinta, dari cinta lahirlah amal. Tak ada cinta yang lebih indah, dari cinta yang timbul karena rasa saling percaya.

Muhammad terlahir sebagai anak yatim. Kemudian beliau menjadi piatu ketika ibunya, Aminah binti Wahb, wafat saat usianya enam tahun. Sejak kecil beliau telah kehilangan kasih sayang ayah dan ibu. Kakeknya, Abdul Muththalib, dan pamannya, Abu Thalib, menggantikan peran ayah bagi Muhammad muda. Tetapi sepanjang hidupnya, Muhammad selalu merindukan sosok sang ibu. Ketika Muhammad beranjak dewasa, ia harus menghidupi dirinya dengan cara menggembala kambing milik beberapa kerabatnya yang kaya. Untuk mengganjal perutnya, seringkali Muhammad memakan buah-buahan yang ditemukannya di tempat penggembalaan. Pada saat yang sama, banyak pemuda sebayanya telah menikahi gadis-gadis terhormat dari kaum Quraisy setelah menyerahkan mahar dalam jumlah tertentu. Sementara Muhammad, hingga usianya mencapai 25 tahun, ia miskin, tidak memiliki harta untuk dijadikannya mahar.

Khadijah, dengan kecerdasan pikiran dan kejernihan perasaannya, yakin bahwa Muhammadlah orang yang diramalkan para rahib dan pendeta akan menjadi nabi akhir jaman. Khadijah percaya kepada saudara sepupunya, Waraqah ibn Naufal, yang menyatakan bahwa Muhammadlah nabi yang ditunggu-tunggu dari bangsa Arab. Atas dasar keyakinan itu, Khadijah memberanikan diri untuk mendobrak tradisi Jahiliah dengan meminang langsung Muhammad untuk dirinya sendiri. Keduanya pun menikah. Khadijah berperan sebagai seorang istri yang setia, sahabat yang penuh pengertian, sekaligus ibu yang penuh kasih sayang. Kehidupan rumah tangga Khadijah diliputi kebahagiaan serta dilandasi oleh sikap ikhlas dan prinsip saling menghormati. Muhammad pun hidup berkecukupan. Allah melukiskan hal itu dalam Al-Qur’an, “Dan Dia mendapatimu sebagai seorang yang kekurangan, lalu Dia memberikan kecukupan” (Adh-Dhuha 93: 8).

Muhammad merupakan pemuda yang teguh menjaga kehormatan dirinya. Ia tidak pernah mengenal wanita lain sebelum Khadijah. Ketika menikah, Muhammad berusia 25 tahun sementara Khadijah berusia 40 tahun. Ketika Muhammad kemudian diangkat menjadi rasul, Khadijahlah yang berperan penting dalam menghilangkan keraguan dan ketakutan dari diri Muhammad. Khadijah pula yang pertama kali mengimani dan mempercayainya. Di tengah kerasnya intimidasi dan tekanan kaum kafir Quraisy kepada Rasulullah SAW, Khadijah juga yang dengan setia mendampingi dan membelanya. Benarlah pernyataan bahwa “Muhammad tidak pernah menerima pengingkaran dan pendustaan yang menyakiti hatinya kecuali Allah meringankannya melalui Khadijah”.

Setelah menikah dengan Muhammad, Khadijah menyerahkan semua urusan bisnis dan finansial kepada suaminya yang terkenal cerdas dan jujur. Ia juga mendukung keputusan suaminya untuk bersedekah kepada fakir miskin dan membantu orang-orang yang tertimpa kemalangan. Khadijah memang sejak awal memiliki karakter yang mulia. Keputusan itu ternyata tidak salah, hartanya di tangan Muhammad selalu bertambah sebanyak jumlah yang ia sedekahkan. Tentu saja karakter dan keputusan Khadijah itu merupakan bagian dari rencana Allah yang Maha Agung.

Allah membimbing Khadijah untuk memberikan ketenangan dan cinta kasih di tengah-tengah rumah tangganya. Berbahagialah seluruh anggota keluarganya. Khadijah selalu berusaha agar perasaan Rasulullah SAW tidak pernah terganggu di rumahnya sendiri. Tidak pernah kondisi rumah tangga menjadi penghalang Rasulullah SAW untuk berdakwah. Khadijah merupakan istri dan sahabat ideal yang selalu setia mendampingi serta menghibur Rasulullah SAW dalam setiap kesulitan. Karena itulah Allah berkenan memberinya kabar gembira tentang sebuah rumah terbuat dari permata yang dibangun untuknya di surga. Rasulullah SAW bersabda, “Aku diperintahkan untuk memberi kabar gembira kepada Khadijah bahwa akan dibangun untuknya di surga sebuah rumah dari permata; tak ada hiruk pikuk dan rasa lelah di sana” (HR Bukhari, Muslim, dan Ahmad).

Khadijah menjalani peran amat penting itu selama 10 tahun -bahkan lebih, bila dihitung dari sejak mereka menikah- dalam masa kenabian Muhammad SAW, sejak ia berumur 55 tahun sampai ia wafat pada usia 65 tahun. Kekuatan fisik dan kecantikan Khadijah semakin lama pudar dimakan usia. Tetapi kekuatan spiritual dan kejernihan cintanya tidak pernah berubah. Ia selalu dan selamanya beriman kepada Allah serta meyakini kebenaran risalah suaminya. Itulah sebabnya mengapa Rasulullah SAW pada masa hidup Khadijah tidak pernah berpikir untuk menikah dengan wanita lain atau menjadikan hamba sahaya perempuan sebagai istrinya. Begitu berartinya peran Khadijah sampai-sampai Rasulullah SAW mengatakan bahwa tak ada seorang pun yang bisa menggantikan posisi Khadijah bahkan tidak juga Aisyah Ra. –istri beliau, putri dari Abu Bakar yang juga dicintainya. Seperti dalam sebuah riwayat diceritakan, Aisyah mengisahkan, “Rasulullah hampir tidak pernah keluar rumah tanpa menyebut dan memuji Khadijah. Hal itu membuatku cemburu. Kukatakan, `Bukankah ia hanya seorang wanita tua renta dan engkau telah diberi pengganti yang lebih baik daripadanya? Mendengar itu, beliau murka hingga bergetar bagian depan rambutnya. Beliau katakan, ‘Tidak. Demi Allah, aku tidak pernah mendapat pengganti yang lebih baik daripada Khadijah. la yang beriman kepadaku ketika semua orang ingkar. Ia yang mempercayaiku tatkala semua orang mendustakanku. Ia yang memberiku harta pada saat semua orang enggan memberi. Dan darinya aku memperoleh keturunan — sesuatu yang tidak kuperoleh dari istri-istriku yang lain.’ Maka aku berjanji dalam hati untuk tidak mengatakan sesuatu yang buruk tentangnya lagi”.

Rasulullah SAW sendiri sangat menghormati Khadijah. Jasanya bagi penyebaran Islam sungguh tidak terkira. Sehingga setelah sepeninggal Khadijahpun Rasulullah SAW tetap saja tidak bisa melupakan Khadijah. Beliau kerap memuji dan mendoakannya di depan istri-istri beliau yang lain. Aisyah, satu-satunya wanita yang dinikahi Rasulullah SAW dalam keadaan masih gadis, pernah merasa sangat cemburu. Ia bercerita, “Aku tidak pernah merasa cemburu kepada seorang wanita sebesar rasa cemburuku kepada Khadijah. Aku tidak pernah melihatnya. Tetapi Rasulullah sering menyebut dan mengingatnya. Ketika menyembelih seekor kambing, beliau selalu memotong sebagian dagingnya dan menghadiahkannya kepada sahabat-sahabat Khadijah. Aku pernah berkata pada Rasulullah, `Seperti tidak ada wanita lain di dunia ini selain Khadijah.’ Rasulullah menjawab, ‘Khadijah itu begini dan begitu, dan dari dialah aku memperoleh anak”. Pada saat yang lain, ketika Aisyah sedang cemburu kepada Khadijah, Rasulullah SAW pernah berkata, “Aku dikaruniai oleh Allah rasa cinta yang mendalam kepadanya”.

Di depan para sahabatnya, Rasulullah SAW sering menyebut Khadijah sebagai wanita yang paling utama di muka bumi. Ali ibn Abi Thalib pernah mendengar Rasulullah SAW bersabda, “Sebaik-baik wanita dunia adalah Maryam binti Imran. Sebaik-baik wanita dunia adalah Khadijah”. Dalam hadits lain yang diriwayatkan oleh Ibnu Abbas, Rasulullah SAW juga berkata, “Pemuka wanita dunia adalah Maryam, lalu Fatimah, lalu Khadijah, lalu Asiyah.” Pernyataan yang sama juga diriwayatkan oleh Anas. Rasulullah SAW bersabda, “Wanita-wanita terbaik sepanjang sejarah adalah Maryam binti Imran, Khadijah binti Khuwailid, Fatimah binti Muhammad, dan Asiyah, istri Fir’aun”. Ahmad dan Abu Hatim meriwayatkan dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Sebaik-baik wanita penghuni surga adalah Khadijah binti Khuwailid, Fatimah binti Muhammad, Maryam binti Imran, dan Asiyah binti Muzahim, istri Fir’aun”.

Salah satu contoh yang menunjukkan betapa berartinya Khadijah di hati Rasulullah SAW adalah peristiwa yang terjadi di tahun 8 Hijriah, 11 tahun setelah wafatnya Khadijah. Pada hari pembebasan Mekah (Futuh Makkah), Rasulullah SAW menunjuk Zubair ibn Awwam untuk memimpin sekelompok pasukan Muhajirin dan Anshar. Beliau menyerahkan panji pasukan dan memerintahkan Zubair untuk menancapkannya di Hujun, sebuah dataran tinggi di Mekah. Beliau berpesan, “Jangan tinggalkan tempat engkau tancapkan panji ini hingga aku mendatangimu”. Sesampainya di Hujun, Abbas ibn Abdil Muththalib berkata kepada Zubair, “Wahai Zubair, di sinilah Rasulullah memerintahkanmu untuk memancangkan panji pasukan”. Di Hujun itulah terletak makam Khadijah. Tempat itu yang dipilih Rasulullah SAW sebagai pusat komando dan pengawasan pasukan Islam pada perang pembebasan Mekah. Dari sana pula beliau memasuki kota Mekah, pada hari ketika kaum muslimin berhasil mengalahkan kaum kafir Quraisy, ketika orang-orang memeluk Islam secara berbondong-bondong, ketika agama tauhid menghancurkan kemusyrikan. Pada hari yang bersejarah itu, Ka’bah dan Masjidil Haram dibersihkan dari berhala-berhala. Saat itu pula Rasulullah SAW membacakan ayat, “Dan katakanlah, ‘Kebenaran telah datang dan yang batil telah lenyap’. Sungguh, yang batil itu pasti lenyap”. (Al-Isra’ 17: 81). Dari makam orang yang paling dicintainya itulah Rasulullah SAW akhirnya memenangkan peperangan dan membebaskan Mekah.

Tidak ada lagi kisah cinta yang paling indah, bukan kisah Romeo dan Juliet, tidak juga kisah Ayat-ayat Cinta, selain kisah cinta Khadijah dan Muhammad. Jika pun ada kisah yang hampir menandinginya, kiranya itu kisah cinta antara Fathimah Az-Zahra binti Muhammad dan Ali ibn Abu Thalib. Sesungguhnya Rasulullah SAW sebaik-baik panutan, sehingga kisah cinta siapa lagi yang paling indah yang mampu menandingi kisah cinta beliau, sebagai panutan kita? Maka mencintailah, seperti Khadijah mencintai Muhammad, seperti juga Muhammad mencintai Khadijah.

Bila kita mencintai seseorang, ada saat berjumpa, maka pasti juga ada saat berpisah. Ketika pertama kali berjumpa dengan kekasih, hati kita bahagia karena seseorang telah memberikan kepercayaan dengan sepenuh hatinya dan berharap agar kita juga memberikan hal yang sama padanya. Dan ketika datang saatnya berpisah. Ingatlah, air mata boleh mengalir, hati boleh bersedih, tapi lisan hanya boleh mengucap apa yang menjadi ridha Allah.

Dikisahkan kembali oleh Fajar Wisesa

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s