Katakan dengan Surat…


Kapan terakhir kali kita dapat surat yang sifatnya pribadi? kalo gw kapan ya? terakhir kali dapet surat panggilan dari mantan kantornya temen tapi itu sifatnya formal. Kalo non formal? Ya… barangkali waktu SMA, itu sekitar 17-18 tahun yang lalu… Kalo ga’ salah itu surat ucapan Selamat Idul Fitri… Dari temen, cewek. Sebetulnya ada yang aneh dengan surat itu, selain karena warnanya yang ungu, ternyata cuma gw yang dikirimin surat idul fitri saat itu… Dan sehari-harinya gw emang ga’ pernah negor cewek (maklum… aktivis ROHIS, ga’ boleh deket-deket ama cewek, takutnya mereka yang kabur kalo dideketin, soalnya kita belum kenal yang namanya MBK apalagi parfum… eh bukan deng… karena bisa menimbulkan fitnah gitu…).

Gw kenal dia waktu kelas satu (atau bahkan SMP) tapi dasarnya gw emang grogian kalo deket cewek atau malah dibilang terlalu cengengesan. Dan begitulah, momen tentang surat itu berlalu, ga’ ada bekas-bekasnya, selain itu juga karena fokus gw emang cuma satu orang di SMA 36 sana… (dari Pulomas ke Kompleks Perhubungan Rawamangun cuma berapa tombak aja…)

Oke, itu surat emang non formal dan bersifat pribadi tapi ada ga’ sih yang lebih jauh masuk ke relung hati (cailaaah…), baik itu gw yang ngirim ke orang laen atau orang laen yang ngirim ke gw? Sejujurnya, gw belum pernah dikirimin atau nerima surat yang kayak gitu (terlalu bloon and naif, waktu itu). Tapi dari beberapa orang yang pernah ngalamin masa-masa itu bilang, biasanya surat-surat jaman dulu bersifat sangat pribadi, isinya penuh kesantunan dan kedalaman perasaan dari sang penulis, ditulis dalam media yang sedehana, terkadang hanya dalam secarik kertas. Singkatnya, gak ada yang bisa nyaingin dahsyatnya surat dalam meninggalkan suatu kenangan.

Untuk beberapa orang, bukan cuma isi surat yang membekaskan kenangan, tapi proses pengiriman surat juga suatu yang romantis, bagaimana surat itu ditulis -bau tinta dari pena celup, disematkan ke dalam amplop -bau lem yang khas, dengan apa surat itu dikirim -sepeda ontel Pak Pos, surat sampai di tempat tujuan -berbunga-bunga nya hati si penerima surat, mendengar kring-kring sepeda Pak Pos. Kalo sekarang kasian deh Pak Pos, udah ganti motor juga tetep dicuekin.

Buat orang-orang jaman itu, kayaknya, mendapat surat dari orang terkasih, sudah seperti hadirnya sang kekasih ke depan muka mereka. Gak seperti sekarang, pada saat itu kenalanpun berawal dari surat, kemudian berlanjut dengan surat yang kedua, biasanya basa-basi tanya kabar, surat ketiga mulai menyatakan isi perut… eh, hati lah… mana mungkin perut ya ga’ Jack? Bila surat pertama berkesan maka langsung dibalas dan berlanjut dengan kirim-mengirim surat, bahkan sampai akhirnya berakhir di pelaminan. Bila awalnya aja sudah salah tulis, apa mau dikata sampai disini saja perkenalan kita… Makanya, belajar nulis dong… -Untung lahir jaman sekarang, mau kenalan tinggal SMS, E-mail, Chatting, dkk., gampang. Tapi gw tetep sreg nulis surat kayaknya, lebih romantis gitu….πŸ™‚

Berbeda dengan jaman Bo-Nyok kita saat itu (yang bapak ibunya pacaran pake surat-suratan), mana pernah kita mengalami era surat-suratan romantis macam begitu (eh… ada ya? Bapaknya Cui barangkali…). Paling sering kita lakuin saat ini, nelepon, email, YM atau paling banter SMS, atau KopDar betul ga’? Dalam media komunikasi yang serba elektronis, digital dan budaya yang instan betapa mudah dan tak berbobotnya kata cinta diucapkan seperti, love U, CU, muah.. muahhh. Sepertinya, berbobotnya suatu surat memang telah tergantikan dengan keserentakan (dan kegegabahan) serta kedangkalan SMS, tapi mungkin ga’ semuanya kali ya (buktinya ada HP yang bisa sampai 1000 karakter -bego-bego deh, tuh jempol)? Tapi cuma sekadar membandingkan lagi, kata orang yang pernah mengalami jaman-jaman surat berjaya, kata dia, “dia emang gak bilang I love you. Tapi dari kata-katanya, aku tahu maksud hatinya.”

Rosihan Anwar (wartawan senior- kalo profesor, beliau mungkin emeritus) menilai, kecanggihan alat komunikasi sekarang tidaklah disertai dengan kedalaman isi. “Alatnya canggih, cepat, tapi manusia menggunakannya secara dangkal. SMS kan paling cuma memuat kalimat-kalimat sederhana, kalau saya lihat orang ber-SMS sekarang, jauh sekali maknanya dengan berkomunikasi dengan surat menyurat dulu. Surat tradisional itu ada isinya, ada substansinya, ada bobotnya, sekalipun misalnya itu surat cinta….”

Contoh puisi Surat Cinta WS. Rendra pada calon istrinya, Narti…

Surat Cinta

Kutulis surat ini
kala hujan gerimis bagai bunyi tambur yang gaib,
Dan angin mendesah
mengeluh dan mendesah,
Wahai, dik Narti,
aku cinta kepadamu !

Kutulis surat ini
kala langit menangis
dan dua ekor belibis
bercintaan dalam kolam
bagai dua anak nakal
jenaka dan manis
mengibaskan ekor
serta menggetarkan bulu-bulunya,
Wahai, dik Narti,
kupinang kau menjadi istriku !

Kaki-kaki hujan yang runcing
menyentuhkan ujungnya di bumi,
Kaki-kaki cinta yang tegas
bagai logam berat gemerlapan
menempuh ke muka
dan tak kan kunjung diundurkan.

Selusin malaikat
telah turun
di kala hujan gerimis
Di muka kaca jendela
mereka berkaca dan mencuci rambutnya
untuk ke pesta.
Wahai, dik Narti
dengan pakaian pengantin yang anggun
bunga-bunga serta keris keramat
aku ingin membimbingmu ke altar
untuk dikawinkan
Aku melamarmu,
Kau tahu dari dulu :
tiada lebih buruk
dan tiada lebih baik
dari yang lain ……
penyair dari kehidupan sehari-hari,
orang yang bermula dari kata
kata yang bermula dari
kehidupan, pikir dan rasa.

Semangat kehidupan yang kuat
bagai berjuta-juta jarum alit
menusuki kulit langit :
kantong rejeki dan restu wingit
Lalu tumpahlah gerimis
Angin dan cinta
mendesah dalam gerimis.
Semangat cintaku yang kuta
batgai seribu tangan gaib
menyebarkan seribu jaring
menyergap hatimu
yang selalu tersenyum padaku.

Engkau adalah putri duyung
tawananku
Putri duyung dengan
suara merdu lembut
bagai angin laut,
mendesahlah bagiku !
Angin mendesah
selalu mendesah
dengan ratapnya yang merdu.
Engkau adalah putri duyung
tergolek lemas
mengejap-ngejapkan matanya yang indah
dalam jaringku
Wahai, putri duyung,
aku menjaringmu
aku melamarmu

Kutulis surat ini
kala hujan gerimis
kerna langit
gadis manja dan manis
menangis minta mainan.
Dua anak lelaki nakal
bersenda gurau dalam selokan
dan langit iri melihatnya
Wahai, Dik Narti
kuingin dikau
menjadi ibu anak-anakku!

Nah, katakan deh dengan surat…

Sumber: dari berbagai sumber

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s