Dongeng Mbah Putri


Sekitar Jam 3 sore beberapa waktu yang lalu, gw sama temen cabut dari rumahnya setelah ngoprek restore point di laptopnya. Kita makan Sate di Warung Sate Barokah di bilangan Bintara. Bener kata dia, satenya jauh lebih enak daripada sate Tegal deket Jakarta Theatre.

Habis hujan, pesen sate 20 tusuk, gulai babat, teh poci 2, gulanya gula batu -tehnya teh wangi cap gantungan apa gandulan ya?, gw lupa, uenaaak tenaaan… dan mantap kali. Sambil lalu, kita ngobrol tentang kerak di poci teh yang nutupin sekeliling tutup poci, baunya yang harum, rasanya yang segar… hangat-hangat nikmat. Dari ngomongin kerak itu gw jadi inget sama si mbah putri, waktu kecil si Mbah gw itu punya cerita yang salah satunya seperti ini (waktu gw cerita ama temen versinya lebih pendek dan singkat),

Suatu ketika Mbahnya si Mbah atau siapa gitu -gw agak lupa, sedang duduk sendiri. Dalam kesendirian itu dia mendengar suara seperti orang yang sedang merintih, lebih tepatnya seperti orang yang menggumam karena menggigil kedinginan. Dia mencari-cari di sekeliling rumah tapi tetep ga’ keliatan orangnya, padahal suaranya sangat dekat. Sampai akhirnya kemudian si empunya suara bilang, “aku disini kang!”, “disini dimana?” bales si Mbah. “Disini, disampingmu”. Sadar bahwa yang datang bukan manusia, si Mbah nyoba tetep tenang, sambil kemudian bertanya, “Kamu kenapa kang?” “Aku.. aku sakit kang… sakit pathekan (sejenis lepra).” “Terus kamu mau apa? aku kan bukan dukun…”, tanya si mbah lagi. “Tolong aku kang…” , pinta si empunya suara. Si mbah yang tak tahu harus bagaimana, berpikir keras. Saat itu, dia tinggal di suatu tempat dimana orang-orang Cina biasa merokok opium dengan pipa yang panjang (mirip di film-film China, begitu ya nulisnya?). Kemudian si mbah membawa satu pipa, yang di ujung tempat menaruh opiumnya banyak terdapat kerak dari abu opium, kemudian ia memberikannya pada si Gendheruwo untuk dimakan (menurut banyak cerita makhluk begini, makanannya berbentuk partikel-partikel kecil seperti gas atau debu/abu). Singkat cerita, dengan ajaibnya dalam beberapa hari si Gendheruwo sembuh dan akhirnya iapun berterima kasih pada si Mbah dan ia berpesan, “Kang, kalo suatu ketika kamu butuh pertolonganku, kamu cukup pukul kenthongan yang ada di depan rumah itu satu kali saja, aku pasti akan datang membantu kamu”, kemudian iapun menghilang.

Lama setelah kejadian itu, si Mbah punya hajat tapi karena tidak ada yang bisa dimintai tolong, ia teringat pada pesan si Gendhruwo. Akhirnya ia pun memukul kenthongan satu kali. Tunggu punya tunggu ternyata si Gendheruwo tak datang-datang, sampai akhirnya ia tertidur. Ketika bangun di pagi harinya si Mbah terkaget-kaget melihat kenthongannya dipenuhi uang, yang kalo menurut si empunya cerita -mbah putri gw, itu lebih dari cukup untuk memenuhi kebutuhan dalam beberapa bulan. Maka kemudian ritual memukul kenthongan itupun biasa terjadi bila si Mbah mengalami kesulitan keuangan (si Mbah ini ga’ rakus tiap hari mukulin kenthongan).

Suatu ketika di tempat itu terjadi malapetaka -entah kebakaran, kemalingan atau apa. Di desa, biasanya bila terjadi suatu kejadian maka tanda bahaya pertama kali adalah pukul kenthongan. Karena situasi yang begitu chaos-nya si Mbah sampai memukul kenthongan berkali-kali. Setelah selesai memukul kenthongan, si Mbah kemudian didatangi lagi oleh suara yang pernah di kenalnya, kali ini si empunya suara datang dengan nafas memburu dan suara yang terengah-engah, “sudah… sudah… kang, ampuun… jangan pukul lagi kenthongannya, aku minta ampun karena tidak bisa memenuhi permintaanmu yang banyak sekali itu. Mulai saat ini, aku tidak akan datang lagi kemari…”. Begitulah akhirnya, sejak saat itu si Gendheruwo tak pernah lagi mampir ke tempat si Mbah. Dan si Mbah (mbahnya mbah gw) juga setengah menyesal, mengapa ia sampai memukul kenthongan itu berkali-kali.

Hikmahnya, kata Mbah gw kalo kita mau menolong itu ya… jangan berharap pamrih. Kalo kita berharap pamrih, suatu ketika yang berhutang budi, pasti akan meninggalkan kita karena sudah dianggap impas. Biarkan amal yang sudah dibuat menjadi tabungan di hari akhir kelak.

Si Mbah putri yang lahir di kampung, ga’ pernah sekolah, bisa begitu banyak punya cerita. Temen gw juga cerita bahwa Mbah putrinya bisa buat wayang dari kardus -waktu dia kecil, punya banyak cerita wayang. Mengapa perempuan renta yang tak berpendidikan begitu, banyak punya warisan cerita yang mendidik buat cucu-cucunya, terus kita yang sekolah tinggi-tinggi punya cerita apa buat diceritain? -minimal buat anak kita.

Gw rindu didongengin Mbah gw, tapi ya… suatu hari kita pasti ngumpul lagi… suatu saat… yang pasti bukan di Warung Sate Barokah… tapi pasti sambil minum teh poci pake gula batu… di sono kali ye…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s