Cerita Asli tentang Sir William Wallace (Braveheart) – Full Story


Waktunya nonton Braveheart. Beberapa Stasiun TV udah pernah nayangin Film epic kolosal ini 3 jam lamanya, potong iklan sana-sini mungkin cuma 2-2,5 jam(gimana nih KPI?). Braveheart dirilis 24 Mei 1995. Budgetnya sendiri sebesar 53 Juta USD dan mampu meraih pendapatan bersih sebesar USD. 210,409,945 dari seluruh dunia, untuk AS sendiri sebesar USD. 75,609,945. Film ini mengisahkan tentang Pahlawan Nasional Skotlandia Sir William Wallace of Elerslie.

Filmnya dibuka oleh suara narator, ”Saya akan menceritakanmu tentang William Wallace. Para sejarawan Inggris mungkin akan berkata saya adalah seorang penipu, tetapi sejarah ditulis oleh mereka -yang pahlawannya telah digantung.”

Pada adegan pertama, William Wallace muda melihat tubuh-tubuh orang dewasa dan anak-anak Skotlandia tergantung, mereka baru saja menemui perwakilan dari Edward I, yang lebih terkenal dengan sebutan Longshanks –si Jangkung. Edward I memerintah dengan kekejaman tanpa batas, yang memiliki obsesi menghancurkan populasi asli orang Skotlandia baik melalui perang maupun perkawinan. Ia menerapkan hukum kuno yaitu, primae noctis (“malam pertama”), yang membolehkan para bangsawan, tuan tanah dan sejenisnya untuk “memperawani” setiap gadis pada malam pernikahan mereka –alamaaak…

Dikisahkan ayah dan kakak William meninggalkan rumah untuk bertempur melawan serdadu Edward. Keduanya terbunuh, dan jasad mereka dikembalikan ke rumah si yatim piatu William. Setelah pemakaman, Paman William, Argyle, menjemput William dan membawanya dalam perjalanan melintasi Eropa selama 20 tahun, sebuah perjalanan yang merupakan pendidikan dan pembelajaran bagi William.

Ketika William kembali ke tanah kelahirannya, Anak Edward si Jangkung –yang homoseksual itu, telah menikahi Isabelle, seorang putri Perancis, yang secara politis -menurut Edward, akan meningkatkan hegemoninya atas Perancis. Sedangkan William sendiri berencana membangun kembali rumah ayahnya, menikah, dan membentuk keluarga. Ia bertemu kembali dengan cinta masa kecilnya, Murron, dan mereka menikah secara rahasia untuk menghindari hukum yang diterapkan si Jangkung, primae nocte. Namun masa bahagia itu kemudian berubah drastis ketika Murron hendak diperkosa oleh serdadu Inggris, William melawan mereka, lalu mundur untuk sembunyi. Sayangnya, Murron, tak dapat meloloskan diri, ia tertangkap dan kemudian dieksekusi mati secara brutal di depan umum oleh hakim setempat –anteknya Edward, sebagai contoh hukuman bagi para pembangkang, namun alih-alih hal itu malahan secara langsung membuat William menjadi terprovokasi dan mendendam.

William kembali ke desa dengan berkuda, ia berpura-pura akan menyerahkan diri namun pada saat-saat terakhir dia menyerang para serdadu Inggris, perlawanan seorang diri ini kemudian berlanjut dengan bergabungnya kawan karib william, Hamish, Campbell –ayah si Hamish, dan beberapa sahabat lainnnya di desa itu, dengan membunuhi setiap serdadu dalam benteng pengadilan tsb. Diikuti oleh rasa dendam yang amat sangat, William kemudian mengeksekusi mati hakim yang telah membunuh istrinya dengan cara yang kurang lebih sama –mata dibalas mata, nyawa dibalas nyawa. Tak lama kemudian William menganeksasi benteng Inggris yang lebih besar. Kekalahan untuk kedua kalinya menyebabkan Raja Edward marah dan mengirimkan para serdadunya untuk memerangi William namun berita telah cepat menyebar dan seluruh Highlander –sebutan untuk orang Skotlandia, bersatu untuk melawan invasi Inggris. William sebenarnya telah mengetahui hal tersebut dan ia yakin Edward akan mengirim seluruh serdadu Inggris di bagian utara, untuk memberangus rencananya.

Kemenangan pasukan William dalam peperangan ini terjadi pada peristiwa yang dikenal dengan, Battle of Stirling. William, memimpin pasukannya yang notabene kalah jumlah dari serdadu Inggris, menggugah rasa percaya diri pasukannya dengan pidatonya yang kharismatik. Mereka mengalahkan pasukan kavaleri –pasukan berkuda, dengan tombak panjang dan membantai pasukan infantri dan para jenderal Inggris yang tersisa.

Walaupun telah dianugerahi gelar sebagai “High Protector of Scotland” –Pelindung tinggi tanah Skotlandia, oleh para bangsawan, William tetap saja tak mampu meyakinkan para bangsawan untuk bersatu dan melawan Inggris untuk memastikan kemenangan mereka, sekaligus mengeyahkan Edward si Jangkung untuk selamanya dari tanah Skotlandia. Bangsawan Skotlandia berstrata tertingi, Robert the Bruce, calon penerus takhta kekuasaan di Skotlandia, berbicara pada William dan mengatakan bahwa segala upayanya tersebut lebih cenderung didorong oleh kemarahan dan dendam dibandingkan keinginan untuk melindungi tanah kelahirannya. William mengakui hal itu tetapi ia juga melihat bahwa Bruce adalah tipe pemimpin yang diperlukan bangsa Skotlandia dan ia berusaha menawarkan Bruce untuk menyatukan klan-klan yang ada.

William akhirnya, mengambil keputusan untuk menyerang Inggris dengan pasukannya sendiri, mereka berjalan beberapa ratus mil menuju kota York. Mereka berhasil menyerang dan melumpuhkan kota itu. Ketua hakim setempat dipenggal dan kepalanya dikirimkan ke London sebagai pesan utnuk si Jangkung.

Si Jangkung kemudian mengirim Putri Wales, Isabelle –jaman sekarangnya Lady Di juga ga’ kalah cantik, ke York menegosiasikan gencatan senjata dengan William. William bersedia bertemu dengan sang putri namun menolak memenuhi permintaan si Jangkung. Alasannya karena perlakuan si Jangkung yang kejam serta usahanya untuk melenyapkan –genocide, bangsa Skotlandia. Sang putri akhirnya kembali ke London dan mengetahui bahwa pertemuan tersebut -antara dia dan William, hanyalah strategi si Jangkung untuk mengalihkan perhatian William, yang secara diam-diam mengirimkan serdadunya ke Skotlandia untuk menyerang William. Isabelle kemudian mengirimkan kurir untuk menyampaikan berita tersebut. William kemudian mengumpulkan pasukannya dan kembali ke Skotlandia untuk menghadang pasukan Inggris di Falkirk. Selama peperangan, sekali lagi William membuktikan sebagai seorang pengatur taktik yang lebih jitu, ia menggunakan pasukan panah untuk menyalakan api di lapangan yang telah dipenuhi minyak tepat diantara pasukannya dan serdadu si Jangkung sedangkan pasukan kavaleri Inggris terperangkap di tengah lapangan yang penuh kobaran api itu. Selanjutnya dalam peperangan itu, pasukan Irlandia yang tadinya bergabung dengan serdadu si Jangkung membelot ke pasukan William sebagai hasil tipuan yang dilakukan oleh Steven –si Irlandia gila, yang juga merupakan sahabat William, hal ini menggandakan jumlah pasukan William secara instan. Namun, si jangkung telah berhasil mempengaruhi beberapa bangsawan Skotlandia dan pasukan kavalerinya. Hal ini menyebabkan kekosongan tenaga bantuan bagi William, mereka meninggalkan “sekutu“-nya menuju kematian. William lari dari ladang pembantaian dan mengejar si Jangkung. Tak lama kemudian, ia dihentikan oleh teman si Jangkung yang memakai helm, kemudian ia mengenalinya sebagai, Robert the Bruce. Robert membantu William lolos dari penangkapan dan kembali dengan selamat ke pasukannya. Sementara itu di kamp pasukan Skotlandia, Hamish melihat ayahnya wafat, William juga menyaksikannya. William menyadari betapa egonya yang terlalu tinggi menyebabkan kekalahan mereka.

Meskipun pasukannya kalah, William masih mampu mengumpulkan dukungan dari banyak highlander di tempat asalnya dan membentuk lagi pasukan baru. Ia juga melakukan balas dendam yang brutal atas pengkhianatan yang dilakukan oleh beberapa bangsawan, diantaranya membunuh Mornay di tempat tidurnya (sambil berkuda ia menghancurkan tengkorak Mornay dengan sebuah tongkat) dan kemudian Lochlan yang tubuhnya dilemparkan dari jendela ke meja makan Lord Craig setelah sebelumnya lehernya digorok terlebih dahulu. Si Jangkung segera menyadari bahwa William sekali lagi menjadi “tak tersentuh” dan kemudian merencanakan untuk membunuhnya, Sekali lagi dengan menggunakan sang putri –Isabelle sebagai bagian dari triknya. Namun sang putri malah memperingatkan William dan si pembunuh kemudian secara brutal dibunuh dengan cara dibakar oleh William, Hamish dan Steven –si orang Irlandia. William secara sembunyi-sembunyi menemui sang putri untuk mengucapkan terima kasih dan selanjutnya… mereka “ho’oh” berdua –kelamaan perang sih… jadi perlu peregangan yang tegang-tegang deh…

Beberapa bulan telah berlalu dan si Jangkung tetap berusaha untuk menjebak William secara halus. Kali ini Robert the Bruce sebagai umpannya, dengan memanggil William dalam suatu pertemuan untuk menegosiasikan gencatan senjata. William ditangkap di Edinburgh oleh serdadu Inggris dan para bangsawan Skotlandia yang mengkhianatinya untuk kali kedua. Ia kemudian dikirim ke London untuk di eksekusi di depan umum.

Putri Isabelle meminta William untuk memohon ampunan dari raja. William menolak, ia lebih memilih mati sebagai orang yang bebas. Akhirnya putri Isabelle sendiri yang memohon kepada raja untuk mengampuni William. Raja tak mampu berbicara karena suatu hal yang fatal, sakit yang misterius (tampaknya TBC, seperti terlihat batuk kencang yang dialaminya selama setengah bagian dari film), tetapi keputusannya tetap tidak berubah. Sambil kemudian, sang putri membisikkan ke kuping raja, Isabelle mengungkapkan bahwa ia tengah mengandung anak dari William dan keturunannya nanti yang akan mewarisi takhta Inggris. Rajanya Inggris sekarang turunan Skotlandia dan Perancis? Ah, yang bener aja…

Sementara pada waktu yang sama William dibawa ke lapangan, yang dipenuhi oleh masa, untuk dieksekusi. Ia ditawari ampunan (ini dapat diartikan dengan kematian yang cepat dengan cara dipenggal) dan sebagai gantinya ia harus mengumumkan bahwa dirinya setia pada raja. William menolak, ia kemudian diikat, pertama-tama lehernya, kemudian kedua pergelangan tangan dan kakinya. Kemudian diikat menyilang dan dikuliti hidup-hidup. Wiliam tetap menolak meneriakkan kesetiaan kepada raja yang ditawarkan oleh algojo, kata-kata terakhir yang diteriakkannya, “Merdeka…!” -Ini bukan film “Serangan Fajar” kan? Menyadari William tak akan menyerah, bahkan dengan siksaan yang sangat sadis sekalipun, si algojo kemudian memenggal lehernya. Sesaat sebelum kapak jatuh diayunkan, William melihat Murron tampak diantara kerumunan banyak orang. Potongan selendang (syal?) yang diberikan padanya oleh Murron sebagai hadiah pernikahan mereka, terjatuh dari tangannya… (Sumpah gw sampe keluar air mata waktu nonton adegan ini, biar ini cuma adegan ngibul tapi kenapa gw tetep suka ya?)

Di Skotlandia, beberapa waktu setelah eksekusi terhadap William dilakukan, Robert the Bruce memimpin sisa pasukan William menuju tanah lapang di Bannockburn untuk menerima takhta sebagai raja Skotlandia. Dengan memeganng potongan selendang (syal?) yang terjatuh dari tangan William di saat akhir hidupnya, Bruce memimpin pasukannya berperang melawan Inggris, banyak keraguan dari para bangsawan, yang berharap Bruce mau menerima takhtanya tanpa harus terlibat dalam suatu insiden. Di akhir cerita suara dari William/Mel Gibson menginformasikan pada kita –penonton, bahwa pada tahun 1314, Bangsa Skotlandia memenangkan perang tersebut dan tanah Skotlandia meraih kemedekaannya. Merdeka!!! Apaaaa coba…?

Heroik, romantis, dan kolosal. Tapi faktanya gimana?

Sir William Wallace of Elerslie

Pro Liberasi – Untuk Kemerdekaan

Kematian yang cepat dan perselisihan internal menjadi hal yang biasa pada saat itu. Alexander III (1249-1286) sedang bertikai dengan Edward si Jangkung, dan membentuk hubungan dengan raja Norwegia, Erik II dalam usahanya menjaga perdamaian. Istri Alexander, Margaret meiliki tiga anak, tampaknya calon penerus takhta adalah anak tertua yang juga dinamai Alexander. Namun sayangnya permaisuri keluarga kerajaan ini harus berpulang lebih awal. Margaret wafat di tahun 1275 pada umur 35 tahun, anak tertuanya Alexander (putra mahkota) menyusul kemudian di tahun 1284. Bahkan adiknya wafat 3 tahun sebelum ia meninggal dan hanya dua tahun setelah kematian Alexander muda kemudian disusul dengan cepat oleh kematian adik perempuannya -yang menikah dengan raja Eric II dari Norwegia di tahun 1281, jelas terlihat sebagai bagian dari usaha membuat suatu ikatan dan menjaga perdamaian. Ketika Alexander II mendengar berita kematian putrinya di Norwegia, ia menyadari bahwa ia tidak memiliki pewaris dan mengumumkan bahwa ia harus menikah lagi –sesegera mungkin.

Iapun menikahi Yolande, putri dari Count of Dreux di tahun 1284. Namun di tahun 1286 setelah pertemuan rutin konsul di istana Edinburgh, dan mungkin juga karena pengaruh beberapa cawan anggur Perancis, ia memutuskan pergi untuk menemui istri mudanya. Dalam perjalanan ke sana, ia menunggangi kudanya tanpa menghiraukan angin badai yang bertiup kencang dan akhirnya ia wafat karena terjatuh ke dalam jurang. Masa keemasan pemerintahan Alexander III yang panjang dan suksespun berakhir. Segera saja kabar kematiannya diumumkan, Yolande, istri mudanyapun membuat pengumuman bahwa dirinya tengah mengandung. Setelah beberapa bulan menunggu dengan sabarnya untuk melihat apakah yang dikatakannya benar, maka jelaslah bahwa Yolande tidak sedang dan tidak akan pernah mengandung dan karena itu tidak mungkin memberikan keturunan bagi Alexander III.

Anak Alexander III, Margaret, yang menikah dengan raja Norwegia ternyata memiliki seorang putri, yang cukup mengejutkan namanya juga Margaret. Keluarga Alexander yang berhasil selamat -yang juga dikenal sebagai ‘The Maid of Norway’, hanyalah seorang anak kecil. Umurnya baru 3 tahun ketika mahkota kerajaan jatuh ke tangan-(kepala?)-nya.

Situasi di Skotlandia dipenuhi keputusasaan. Ratu mereka adalah anak kecil berumur tiga tahun bernama Margaret, dan ia berada jauh, beratus-ratus mil jaraknya di Norwegia, tinggal bersama ayahnya -raja Norwegia- yang umurnya sendiri baru 16 tahun, gile bener… berarti 13/14 tahun udah “ho’oh”.

Ini adalah suatu masa di Skotlandia dimana para Pelindung Skotlandia mengambil alih kekuasaan. Keluarga Bruce dan Balliol keduanya mengklaim hak mereka atas takhta, keduanya mengatakan bahwa mereka adalah pewaris dari garis keturunan David I (1124 – 1153), anak dari Alexander I. Perang saudara di Skotlandia sedikit lagi segera terjadi, dan dua keluarga yang berkuasa, yaitu Bruce dan Balliol mulai menguasai benteng dan wilayah bernilai srategis.

Dan inilah kesempatan bagi si Jangkung untuk berkuasa lebih dari sebelumnya. Sangat jelas bahwa hanya ada satu orang saja yang memiliki otoritas dan kekuatan untuk menduduki takhta di Skotlandia. Siapa saja, baik itu Bruce ataupun Balliol, mendapatkan dukungan dari si Jangkung maka yang lain harus menghormati dan menerima aturan yang berlaku. Pertanyaannya adalah, keuntungan apa yang didapatkan si Jangkung? Dan apa yang akan menjadi keputusannya?

Si Jangkung dengan caranya yang licin dan terencana mempersiapkan rencana tersebut sesuai dengan persyaratan Inggris, Margaret ‘The Maid of Norway’ dan “Damsel of Scotland’ disetujui sebagai penerus tahkta sesuai dengan hak yang melekat padanya sejak lahir. Namun ada satu syarat bahwa ia harus menikahi anak si Jangkung, Edward. Skotlandia akan tetap independen dan sepenuhnya terpisah dari pemerintahan Inggris sesuai dengan perjanjian perikatan ini, bebas dan tak terikat. Semuanya tampak terlihat baik-baik saja, namun dengan dimasukkannya “antek-antek” si Jangkung membuat kecurigaan atas perjanjian tersebut -yang dapat merusak kemerdekaan Skotlandia.

Si Jangkung meyiapkan kapal dan mengirimkannya untuk menjemput Ratu Skotlandia -berumur 3 tahun, dari Norwegia. Ia juga menyiapkan putranya Edward, yang saat itu sendiri baru berumur 6 tahun, untuk menikah -6 tahun udah nikah berarti gua udah terlambat 29 tahun, susah ngejarnya… Kapal ini dimuati dengan daging segar, berbagai macam buah-buahan dan 14 kilo roti jahe yang dirancang agar si ratu –yang masih bayi itu, bahagia selama perjalanannya menuju Inggris. Satu bulan kemudian kapal itu kembali namun gagal menunaikan tugasnya untuk membawa bayi itu menyeberangi samudra. Erik II –raja Norwegia telah memutuskan cara yang terbaik untuk mengirim putrinya ke Skotlandia adalah melalui kepulauan Orkney dan Shetland (yang pada saat itu merupakan daerah kekuasaannya), namun sepanjang perjalanan yang panjang itu kesehatannya yang terus memburuk dan rapuh, tak dapat menahan ganasnya badai lautan dan akhirnya iapun wafat tanpa pernah sampai di Orkney – bahkan untuk menjejakkan kakinya di tanah Skotlandia –apa semua keluarganya dikutuk, kali ya?

Era keluarga Dunkeld yang panjang dan sukses, Dinasti keluarga kerajaan Skotlandia tertua yang berkuasa sejak Duncan I di tahun 1043 -garis keluarga diturunkan olehnya dengan membentuk keluarga kerajaan Skotlandia yang pertama, keluarga Alpin, akhirnya berakhir sudah.

Dengan kematian Margaret ‘Damsel of Scotland’ pada 26 September 1290, Ide dan prinsip-prinsip yang ditetapkan si Jangkung juga ikut berakhir –seorang raja baru bagi Skotlandia harus ditunjuk. Sebuah surat yang ditulis oleh Kardinal Fraser untuk si Jangkung menginformasikan kematian ratu muda Skotlandia tersebut, dan memintanya untuk datang ke Skotlandia dan menunjuk salah satu dari keluarga yang menjadi rival –baik itu Bruce ataupun Balliol. Surat itu juga menginformasikan bahwa John Balliol ingin bertemu dengannya, dan jika terpilih akan mengikuti aturan dewan yang ditunjuk si Jangkung dan membayar upeti: artinya ia akan memerintah Skotlandia dibawah kekuasaan Inggris. Namun surat itu juga memberikan petunjuk secara implisit pada si jangkung untuk mengawasi John Balliol secara sangat hati-hati dan jika ia menunjuk John Balliol untuk takhta Skotlandia dan memberikan dukungan terhadap klaimnya itu maka si Jangkung harus dapat membuat perjanjian yang menguntungkan kedua belah pihak, tidak hanya pada Balliol tetapi juga pada pihak yang dirugikan -Bruce, yang berpretensi hal itu pantas dibayar dengan cara berperang. Hal itu merupakan hal yang tersulit pada masa itu dan si Jangkung harus memastikan bahwa rencana barunya akan tetap memberikannya peluang untuk menyatukan Skotlandia dan Inggris dan Inggris sebagai pusat pemerintahan.

Antara tahun 1290 dan 1292 si Jangkung memainkan peran yang panjang dan penuh kehati-hatian. Periode dua tahun dari masa kevakuman tersebut merupakan nilai yang hebat bagi keluarga Dunkeld sebelumnya karena kedua keluarga siap meletakkan pedang dan bersepakat bahwa hal itu –perebutan hak takhta, dapat diselesaikan melalui jalan hukum di pengadilan. Kedua keluarga, baik Bruce dan Balliol, menyatakan bahwa mereka adalah keturunan dari garis anak-anak perempuan David I. Keluarga Balliol menyatakan mereka keturunan dari anak perempuan tertua David I, yang juga bernama Margaret – sedangkan keluarga Bruce menyatakan bahwa mereka keturunan dari anak perempuan kedua David I, yaitu Isabel.

Namun, sebagai harga dari mediasi antar dua keluarga yang berpengaruh tesebut, si Jangkung menempatkan dirinya sebagai ‘Overlord of the land of Scotland’ –Tuan tanah Skotlandia, menurut prinsip-prinsip hukum tertinggi yang berlaku. Si Jangkung, ‘Hammer of the Scots’ – Penguasa Skotlandia- di masa depan memastikan bahwa kedua keluarga yang mengajukan klaim hak-haknya terhadap takhta Skotlandia haruslah berpedoman pada peraturan-peraturan yang berlaku. Mereka harus menerima apapun keputusan dari pengadilan dan menerima si Jangkung sebagai majikan tertinggi mereka.

Langkah ini memberikan si Jangkung kekuasaan yang lebih besar lagi dari sebelumnya, seperti yang selama ini selalu ia rasakan bahwa ia memang pantas mendapatkannya, dan merupakan landasan penting bagi Inggris Raya-nya!

Bukti dokumentasi dari sejarah keluarga William Wallace terpecah dan membingungkan. Beberapa menyebutkan ia keturunan dari Richard the Welshman, melihat kembali ke masa awal William the Conqueror (sang Penakluk) –lainnya berkata ia merupakan keturunan keluarga yang cukup terkenal di Skotlandia yaitu Cragies.

William Wallace, adalah anak kedua Sir Malcolm Wallace dari tiga bersaudara yang lahir pada Januari 1272, (walupun banyak yang memperdebatkan, tahun kelahirannya diperkirakan jatuh pada tahun-tahun antara 1270 sampai dengan 1276 –tapi tampaknya tahun 1272-lah yang paling mendekati dari beberapa riset yang ada), di Skotlandia, tepatnya di kota Elerslie (yang sekarang disebut Elderslie).

Ayahnya, Sir Malcolm Wallace, walaupun memiliki gelar kesatriaan namun memiliki peringkat yang rendah dalam dunia perpolitikan dan kebangsawanan di Skotlandia. Ia memiliki sejumlah tanah atas gelarnya dan menjalani hidup yang relatif damai.

Skotlandia tempat William Wallace dibesarkan selama akhir tahun 1200-an adalah sebuah negara yang cukup makmur jauh dari gambaran bangsa pengemis seperti yang selama ini dilukiskan oleh para propagandais Inggris. Ini jelas terlihat dari keberadaan Katedral besar yang masih berdiri membujur mulai dari Glasgow di selatan sampai dengan ke utara di bagian Dornoch. Komplek biara dan kepasturan yang indah di Arbroath, Scone, Dunfermline dan Cambuskenneth, begitu juga dengan beberapa istana dan rumah-rumah besar di Paisley, Kilwinning, Crossraguel, New Abbey, Dundrennan, Holyrood, Kelso, Jedburgh, Dryburgh dan Melrose.

Sangat jelas bangunan-bangunan hebat tersebut hanya dapat didirikan di negeri yang memiliki kesejahteraan tinggi dan banyak sumber daya. Dipenuhi oleh beratus-ratus istana, kaum regal, baronial dan kesatria, rumah yang hebat untuk kaum berkelas: Inilah waktu bermunculannya kaum borjuis yang makmur.

Raja Alexander II yang hebat sedang bertakhta tidak hanya memiliki kemampuan bertahan tetapi juga mampu mengusir para agresor. Saat William dilahirkan, Raja Inggris selanjutnya, raja Henry III wafat dan digantikan oleh orang yang suatu hari nanti menjadi musuh yang paling mematikan bagi William – Edward I (si Jangkung). Pada 18 Agustus 1274 -671 tahun lebih 1 hari waktunya sebelum tanggal kemerdekaan RI, Edward menerima mahkotanya di Westminster. Ia berumur 35 tahun, tinggi, tubuh yang cukup seimbang dan malah dapat dikatakan tingginya diatas rata-rata, ia memang pantas mendapat julukan si Jangkung.

William Wallace juga tumbuh menjadi pemuda yang kuat dan tegap, dengan tinggi 6 kaki 7 inchi dan fisik yang seimbang, ia juga bagaikan raksasa. Seringkali hal ini diperdebatkan bahwa sangat tidak mungkin orang dapat setinggi itu. Namun, melihat dari baju dan senjata yang ada pada saat itu tak cuma si Jangkung yang memiliki tubuh setinggi itu, tetapi William Wallace juga sebanding dengannya.

Pada masa itu juga jelas, seseorang untuk dapat dikatakan “matang” pada umur sekitaran 20-25 tahun. Untuk menjadi pemimpin dan sukses dalam pertempuran, seseorang harus dilahirkan berdasarkan gelar, atau layaknya William dalam hal ini, mendapatkan derajatnya lewat kemampuannya berperang. Di masa dimana kekuatan, stamina, ketahanan, keberanian dan, di atas semua itu, kemampuan menggunakan pedang dan pisau dianggap sebagai puncak kehebatan dari seorang pemimpin –saat dimana kemampuan berperang sangat tergantung pada keteguhan pribadi  seseorang, sangat tidak mungkin untuk menyangsikan kemampuan yang dimiliki oleh William.

Sedangkan William saat itu belumlah dianggap sebagai pria yang memiliki kekuatan yang dapat diperhitungkan, dengan kata lain, mungkinkah anak kedua dari seorang kesatria biasa-biasa saja, yang baru saja melepas masa remajanya, apalagi tanpa bantuan dari bangsawan terhormat, dapat membangun dirinya, mampu memikat pengikut-pengikutnya, menanamkan rasa takut pada musuh-musuhnya ketika berhadapan langsung dalam peperangan, memupuk kebencian pada Edward Plantagenet I dari Inggris, dan menjadi pahlawan bangsa Skotlandia jika ia tidak memiliki cukup kekuatan fisik dan kemampuan berperang?

Namun, tidak hanya melulu karena keunggulan fisik yang membuat William Wallace menjadi pahlawan yang hebat, kemampuan mentalnya juga berpengaruh besar. Dimana dan kapan tepatnya William Wallace mendapatkan pendidikan, lebih tepat dikatakan sebagai cerita yang panjang dan dalam daripada sekadar dongeng. Nah, biar gak panjang-panjang kita singkat aja ya… Tepatnya sebelum penasbihan John Balliol. Bapaknya William, Sir Malcolm Wallace terlibat dalam pemberontakan yang dikenal sebagai ‘The revolt of the Turnberry Band’.

Ide pemberontakan itu sendiri muncul untuk mengumpulkan retribusi yang nantinya diharapkan dapat menggalang kekuatan untuk mendukung ‘House of Bruce’. William kira-kira baru berumur 14 tahun dan pastinya ia tinggal bersama ayahnya dan kakaknya, yang juga bernama Malcolm. Boleh jadi inilah pengalaman pertama baginya dalam aksi militer, tetapi pemberontakan itu –kalo boleh disebut begitu- bubar dengan sendirinya bahkan sebelum dimulai, damai dan tenang tetapi pertemuan pada September tahun 1286 itu punya peranan besar dalam masa depan William nantinya. Dalam masa tiga tahun yang sulit itu –masa tenang sebelum badai datang- dan seiring dimana pertemuan-pertemuan rahasia terjadi, William banyak menghabiskan waktunya di Dunipace, bagian timur Stirlingshire dimana ia tinggal dengan pamannya , yang bekerja sebagai pegawai di Komplek Kapel Cambuskenneth Abbey.

William menunjukkan kepandaiannya, dengan mudah ia menapaki karir di Gereja, yang juga merupakan aturan tradisi bagi anak laki-laki yang paling muda bangsawan biasa. Di umurnya yang ke 16 saat itu pendidikan mengarahkannya ke kedewasaan. Pamannya menempa moralnya dengan aturan-aturan latin yang ketat, dan mengenalkannya pada penulis-penulis klasik terkenal. Semangat dan kecintaan William akan kebebasan, kemerdekaan yang menjadi pijakan karirnya yang hebat tidak terlepas dari peran pamannya -yang pendeta itu- dalam menanamkan nilai-nilai dan dasar kebebasan dan kemerdekaan yang sangat baik dalam dirinya. Inilah yang menjadi pedoman baginya yang tertanam baik dalam diri William sampai pada akhir hayatnya.

William kini kembali bersatu dengan keluarganya, saat itu ia berumur 17 tahun, sebenarnya ada kejadian lain yang mendasari mengapa William diasuh dalam kehidupan Gereja. Selama masa pendidikanya (di usia 14 – 16 tahun), John Balliol telah diasingkan dan untuk mengembalikan Penjagaan Skotlandia ke tangan pemerintah Skotlandia kembali maka mereka harus membayar upeti kepada Si Jangkung. Penyerahan upeti berbentuk gandum ini bersifat memaksa, dan batas waktu penyerahannya pada saat itu adalah setiap bulan Juli.

Dan tanggung jawab dalam pengadministrasian gandum di  Ayrshire jatuh ke tangan Sir Ranald Craufurd, Kakek William –bapak dari ibunya. Siapapun yang tidak membayar upeti kepada Si Jangkung mendapat hukuman yang berat, dan ketika Sir Ranald tahu bahwa nama Sir Malcolm termasuk yang tidak membayar upeti, dan ia menyadari ancaman dari serdadu-serdadu Inggris, yang saat itu mengatur daerah Ayr dan Irvine (tempat mereka tinggal), pastinya akan mengejar Malcolm maka ia membawa anak perempuan dan cucunya dalam perlindungannya.

Sir Malcolm bersama anak laki-laki tertuanya pindah ke utara dan meninggalkan istrinya Margareth dan dua anak laki-lakinya yang lebih muda, William dan John. Setelah beberapa saat tinggal dengan Sir Ranald, ia mengirim seluruh keluarganya ke Kilspindie di Carse of Gowrie dimana mereka tinggal dengan Paman William yang lain –kemungkinan saudara laki-laki dari ibunya.

Seperti kebiasaan pada masa itu, saudara laki-laki yang lebih muda mengikuti pendidikan di Gereja, sedangkan yang lebih tua mewarisi tanah dan gelar kehormatan. Pamannya -yang kini ia tinggal bersamanya -adalah sorang pendeta di distrik itu dan disinilah, saat ia berumur antara 17 atau 18 tahun William meneruskan pendidikannya di Dundee, di sini juga ia bertemu dengan John Blair, yang segera setelah menjadi pendeta ordo Benedictine, selanjutnya ia meninggalkan biaranya untuk menemui  William dan  menjadi  penasehat spiritual serta kawan seperjuangan William.

Di sekolah Gereja ini William bertemu dan menjadi sahabat dari Duncan of Lorn dan Sir Neil Campbell of Lochawe, keduanya menyukai William dan memiliki peranan yang penting dalam pengalaman awal William. Mengapa seorang William muda yang memiliki kekuatan fisik bagus dan sempurna mau menjadi seorang pendeta, jawabannya sangat mudah. Sepeti telah dikatakan sebelumnya, ini adalah tradisi turun temurun dari keluarga William, baik dari garis bapak maupun ibunya , dan di masa yang penuh dengan ketidakpastian tersebut sangat bijak untuk menguasai banyak bahasa dan ilmu politik serta Gereja, karena Gereja memiliki kekuatan yang besar pada masa itu.

Dan karena sebab pelarian ayahnya dan kakaknya ke utara jugalah yang menjadi alasan mengapa William, yang memiliki tubuh yang besar dan kuat menjadi harapan untuk menjaga ibu dan adiknya John untuk tinggal disana.  Memang agak ganjil juga, Dundee merupakan salah satu daerah yang mengadakan perlawanan terhadap Inggris karena aneksasi  atas Skotlandia –dan William masih dapat tidur nyenyak terhindar dari segala kesulitan.

Di film Braveheart, baik penulis Randall Wallace dan sutradara Mel Gibson menggambarkan bahwa Ibu William telah meninggal. Mereka juga tidak menyinggung sekalipun tentang adiknya John, dan dalam setengah jam pertama mereka telah “membunuh” ayahnya dan kakaknya saat William seorang bocah. Tentu saja ini tidak benar –kalo bener pasti ngantuklah nontonnya. Tapi meski begitu, kalo dipikir lagi, jelaslah jika film ini dibuat sangat detail, pasti bisa-bisa durasinya lebih panjang dua kali lipat dan kita semua pasti sudah tidur pas adegan serunya baru aja dimulai :p.

Mereka boleh saja berkilah, dalam pandangan mereka, bahwa hal-hal diatas tidaklah signifikan dibandingkan dengan sosok dan keberanian William yang asli. Gw pikir gak perlu waktu panjang koq, untuk menjelaskan situasi di sekitar William saat dia mengecap pendidikan dan tentang keluarganya secara akurat  dan singkat. Dan gw pikir juga, justru penggambaran di film ketika dia pergi ke selatan bersama pamannya dan pertemuannya di pemakaman dengan Murron itu benar-benar fiktif. Tapi adegan itu malah bikin filmnya jadi bagus.

——————————————————————————————

Skotlandia dirundung perang saudara, perkelahian antar keluarga dan perang antar kota terus meningkat , begitu juga dengan perlawanan terhadap penjajahan Inggris. Perkelahian berubah menjadi kekacauan – kekacauan berubah menjadi penyerangan dan peperangan yang sporadis dimana-mana. Sir Malcolm Wallace baru saja kembali ke selatan bersama anak tertuanya ketika salah satu penyerangan terjadi di Loudoun Hill pada tahun 1921 yang menyebabkan ayah William tewas. Inilah awal dendam William terhadap Inggris yang selanjutnya menjadi kebencian yang amat sangat.

Sekarang umur William telah 19 tahun, ibunya tenggelam dalam kesedihan dan kakaknya kini adalah kepala keluarga Wallace. Sekarang saatnya bagi dia untuk melepaskan segala ikatan dengan Gereja dan menghunuskan pedang untuk pertama kalinya. Dia telah merasa “cukup” melihat orang-orang di sekitarnya (masyarakatnya) terpecah belah karena ulah Inggris. Kekejaman yang berlangsung atas negaranya, kesedihan yang teramat dalam bagi ibunya yang membuatnya terus mengurung diri, serta kematian ayahnya di tangan orang Inggris bernama Fenwick akibat keributan kecil di Irvine – semuanya dirasa sudah terlalu banyak kesedihan yang dia harus terima- buat anak berumur 19 tahun bertubuh raksasa ini.

Sepanjang hidupnya pada masa itu, tampaknya ia terlindung karena statusnya sebagai pelajar di Gereja dan dirinya juga tidak menjadi ‘buah bibir’ diantara teman-temannya, karena sebagian dari mereka juga memiliki ayah dan saudara laki-laki yang telah siap menghunus pedang untuk berperang, tentunya mereka juga siap membalas dendam. Sebagai seorang Skotlandia tentunya ia lebih dari sekadar siap bersama keluarganya untuk membela tanah air mereka. Apalagi jika mengingat bahwa pelajaran pertama yang telah tertanam dalam dirinya adalah dasar-dasar kebebasan dan hak-hak individu.

Tak heran jika waktu untuk William membalas dendam atas semua kegetiran yang dialami oleh keluarganya tak akan lebih lama lagi.

Benteng Dundeee saat itu dibawah pengawasan Inggris dan dikuasai oleh Brian Fitz-Alan of Bedale, dia menempatkan seorang pengawas bernama Selby, ia terkenal sebagai veteran yang tangguh dan ‘haus’ darah, terutama lagi darahnya orang Skotlandia. Selby memiliki seorang anak laki-laki yang sedikit lebih tua dari William. Pada Bulan Desember 1921 yang dingin, Selby muda melihat William, yang bukan sengaja terlihat dalam kerumunan sebagai orang yang pantas diajak berkelahi karena ukuran tubuhnya, tetapi juga karena baju hijau ‘norak’nya yang dia kenakan.

Selby muda yang ditemani beberapa teman Inggrisnya, menarik William dari kerumunan dan mulai mengomentari pakaian yang dikenakan William.  Katanya, “Hey, orang Skotlandia, berani-beraninya lo pake baju kayak homo gini? Pantesnya, lo tuh pake mantel Irlandia, bawa peso Skotlan diiket pinggang lo, terus pake sepatu jelek di kaki lo yang dekil itu”. Sambil berkata begitu sebenarnya Selby muda tertarik pada belati yang dibawa William di ikat pinggangnya. William merespon serangan itu dengan cepat dan dramatis, ia menarik kerah Selby muda, kemudian menghunus belati dan menancapkannya tepat di dada penyerangnya.

Teman-teman Selby muda tidak tinggal diam, mereka siap menyerang William, namun karena orang-orang mulai mengerumuni tubuh Selby muda yang telah menjadi mayat, membuat mereka kesulitan menghunus pedangnya masing-masing. Ini memberi kesempatan pada William untuk menyerang balik mereka dengan belatinya, ia membunuh atau melukai mereka dan segera kabur dari tempat itu.

William lari ke rumah pamannya dan disambut seorang pelayan wanita, William mengatakan padanya semua yang telah terjadi, kemudian pelayan itu mengenakan mantel berwarna merah dan menyembunyikan William di pojok ruangan yang dapat diputar (semacam ruangan rahasia). Sebentar kemudian ketika sepasukan Inggris menggeledah rumah pamannya, mereka segera meninggalkan rumah itu karena mereka hanya menemukan dua pelayan wanita tua. Pekerjaan yang sia-sia. Siang itu diumumkan surat perintah pencarian pembunuh Selby muda, jika warga kota itu tidak menyerahkan si pembunuh maka seluruh kota akan di-bumi hangus-kan termasuk orang-orang yang ada di dalamnya. Orang Inggris, emang kacau-kacau banget ya? Singit semua!  .

William berhasil sampai ke rumah ibunya, yang risau karena mendengar berita tentang pencariannya. Semua orang saat itu juga pasti tahu bahwa Williamlah yang dicari-cari oleh pihak Inggris karena tidak ada orang lain lagi yang cocok dengan gambaran orang tersebut.

William dan ibunya segera meninggalkan Dunfermline, tetapi William berkeras agar mereka kembali ke Elerslie tempat keluarga mereka berasal. Setelah pelarian yang cerdik dan perjalanan yg cukup menyulitkan ke Elerslie akhirnya mereka bertemu dengan Sir Ranald, kakek William. Sir Ranald menginfotmasikan bahwa berita kematian anak Selby telah tersebar luas dengan cepat, dan kepala William telah disayembarakan dan namanya telah ditasbihkan sebagai penjahat! Sir Ranald menyatakan bahwa dirinya tidak ingin mengalami kesulitan, ia dapat memberikan perlindungan pada Margaret tetapi tidak pada William, maka ia menyarankan sebaiknya mereka berpisah dan William tinggal bersama pamannya Sir Richard Wallace yang berada di Riccarton. Tak berapa lama William sampai di Riccarton pada bulan Pebruari 1292 dan tinggal disana sampai dengan bulan April.

Tampaknya Sir Richard Wallace inilah paman yang digambarkan dalam film ‘Braveheart’.  Paman ‘Argyle’ seperti yang kita ketahui di film, digambarkan setengah buta, pandai dalam banyak bahasa, terlatih dengan pedang dan secara umum digambarkan sebagai orang yang pandai dengan kemauan yang kuat. Inilah tampaknya “paman Argyle” yang digambarkan dalam film tersebut sebagai pamannya William. Dua pamannya telah mengajarkannya berbagai kepandaian di Gereja dan bahasa, dan paman dimana ia tinggal sekarang setelah insiden pembunuhan Selby muda, Sir Richard Wallace, digambarkan buta, cacat dan lemah karena beberapa pertempuran yang dialaminya dengan pihak Inggris.

Segalanya tampak tenang setelah itu dan William telah menemukan seorang teman pada dirinya pamannya. Diceritakan pada satu hari ketika William sedang memancing di Irvine, sepasukan serdadu Inggris melewatinya. Lima orang serdadu terakhir  tertarik dengan ikan tangkapan William dan bermaksud untuk memilikinya. Ketika William mengatakan bahwa ikan-ikan tersebut untuk seorang kesatria tua, serdadu-serdadu itu mengatakan bahwa merea memiliki hak untuk menyuruhnya terus memancing sampai mendapatkan ikan yang banyak. Semua tampak baik-baik saja sampai William meminta agar ia dapat membawa setengah dari tangkapan dan itu cukup ‘adil’ baginya, namun pemimpin dari 5 serdadu itu menjadi marah dalam percakapan dengan pemuda Skotladia tersebut. Ia menghunus pedangnya dan mengarahkannya pada dada William.

William menangkis serangan itu dengan pancingnya dan menyerang serdadu itu dengan kakinya dan menjatuhkan pedangnya. William segera memburu pedang itu untuk mempersenjatai dirinya, ia memenggal kepala serdadu tersebut dengan hantaman pedang yang keras mengarah  ke leher kemudian menyerang serdadu yang lainnya yang ada dan mencoba membantu rekannya yang terjatuh. William mulai terbakar amarahnya, ia mencekik leher salah satunya, kemudian menyerang lengan mereka dengan kekuatan yang hebat sehingga kedua pedang serdadu tersebut jatuh dari tangan mereka. Setelah menghabisi dua serdadu lainnya, William segera menghabisi serdadu yang tersisa dengan pedang mereka sendiri.

Sekembalinya pulang ke rumah pamannya, ia menjelaskan apa yang terjadi mengatakan pada pamanya bahwa ia harus segera meninggalkan rumah pamannya untuk menyelamatkan diri dari kejaran kemarahan pasukan Inggris yang akan segera datang. Ia segera mengumpulkan barang-barang miliknya, dan pergi menuju ke hutan di utara seperti yang dilakukan oleh ayah dan kakaknya beberapa tahun yang lalu.

Sementara itu, John Balliol akan segera dinobatkan dan perpecahan di Skotlandia mulai membayangi. William saat itu telah dikenal sebagai penjahat berdarah dingin. Dia seorang pelarian, penjahat dan orang yang kepalanya dihargai sanagat tinggi. Keluarganya tercerai berai di beberapa tempat di Skotlandia selatan, Ayahnya telah mati dan William tidak memiliki banyak pilihan kecuali berperang atau mati, hukuman atas segala perbuatannya adalah mati. Saat itu ia baru berumur 20 tahun.

——————————————————————————————

Untuk membandingkan antara film “Braveheart” dan riset James Mackay, dimana sumber informasi mengenai kisah ini banyak didapat, kita dapat mengatakan bahwa film itu menggambarkan William berubah dalam waktu yang singkat dari seorang petani biasa yang kemudian berubah menjadi Satria Pelindung Skotlandia.

Pertempuran Stirling Bridge, penghancuran di York, pertempuran di Falkirk dan eksekusi mati William, semuanya memakan waktu 8 tahun lamanya. Kita tahu bahwa ia ditangkap kemudian dieksekusi mati  pada tahun 1305, William saat itu berumur 33 tahun.

Kemenangan pertempuran di Stirling pada tahun 1927, dari sana ia mulai menginvasi Inggris dan menghancurkan banyak kota dan  benteng-benteng penjagaan. Pada 1928 ia mengalami kekalahan dan pengkhianatan di Falkirk tetapi ia sendiri tidak tertangkap sampai dengan tahun 1305. Ini meninggalkan kita dua halaman luas yang harus diisi. Pertama, waktu selama 7 tahun antara masa-masa ia dikhianati dan saat ia dieksekusi mati (yang kita akan kita ketahui di halaman-halaman akhir tulisan ini), dan juga masa di saat ia berumur 20 tahun dan kemudian bangkit menjadi pemimpin dalam pertempuran di Stirling Bridge yang saat itu mungkin usianya 25 tahun. Apa yang terjadi, dan apa yang William lakukan selama masa 5 tahun sebelum peristiwa di Stirling?

Setelah William meninggalkan rumah pamannya menuju hutan di utara, Ia menghabiskan waktunya disana selama 5 tahun dan mencari cara membalaskan dendam keluarganya. Kita harus tahu bahwa pada masa itu di abad ke -13, sangatlah umum untuk ‘main hakim’ sendiri, dan pembalasan dendam, bahkan untuk hal sekecil seperti misalnya, pencurian ternak dapat dikenai hukuman dalam bentuk apapun yang dirasa cocok oleh mereka yang menjadi korban. Orang Inggris emang ‘rada’ gila aslinya, pantesan penyakit sapi gila asalnya dari sono :p .

Kalo kita pernah baca cerita Robin Hood pasti kita tahu ada ‘kemiripan’ antara cerita William Wallace dengan cerita Legenda Inggris tersebut. Pihak Inggris telah menetapkan William Wallace sebagai ‘orang mati’ apabila dia berani menunjukkan batang hidungnya.  Sedangkan William sendiri jelas ia merasa tidak ada ruginya dengan hal itu, jika ia menyerahkan diri dia pasti dipenggal atau diikat kemudian ditarik dengan tali sampai mati. Tampaknya ia sendiri telah mnganggap dirinya ‘mati’, yang di masa-masa mendatang menggambarkan bagaimana sulitnya menaklukkan perlawanan gerilyanya, dan dengan mudah menjadi senjata yang mematikan. Jadi cukup mungkin jika William Wallace punya pemikiran ‘kalo dia harus mati paling nggak dia bisa ngajak banyak musuhnya untuk ikut bareng dia’. Hebat!!!.

Dari huniannya di dalam hutan itulah, Ia mulai menyerang dan menjebak apapun yang berbau Inggris secara brutal dan tanpa mpun. Tentu saja semua itu tidak dilakukannya sendiri. Ia sebelumnya telah memikirkan cara untuk memperoleh dukungan dan bantuan dari kerabat Wallace dari Auchencruive, dan menemukan tempat perlindungan di dalam Hutan Leglen di tepi Sungai Ayr, ini adalah salah satu tempat yang paling disenanginya untuk bersembunyi, dan di tahun-tahun kemudian hutan itu sering dikunjungi oleh penyair Robert Burns yang datang menyambangi mereka pada setiap Minggu sore untuk menghormati teman-teman Skotlan-nya dan orang-orang yang sangat ia kagumi.

Gambaran William dan kaum kerabatnya yang mengamuk di sekitar hutan dataran rendah Skotlandia yang menyerang segala yang beratribut Inggris, yang pada masa itu lebih dibenci oleh tiap-tiap daerah dan pada kenyataanya bahkan di tiap-tiap kota, membuat William nampak seperti semacam percampuran malaikat pembalas dendam yang marah dengan pembunuh serial yang baik hati. Ia melakukan penyerangan sesuka hati dan tanpa provokasi di banyak tempat yang berbeda di dataran rendah Skotlandia, dari sinilah ia  memperoleh reputasi sebagai prajurit besar dari orang-orang Skotlandia dan menimbulkan ketakutan dan desas-desus sebagai musuh nomer 1 pasukan Inggris. Tak seorangpun pernah mengetahui dimana dan kapan dia akan melakukan penyerangan berikutnya. Selentingan tentang ‘Raksasa’ ini segera menyebar dan kemahirannya menggunakan senjata tidak hanya belati dan pedang tetapi juga panah dan busur belakangan semakin cepat tersiar.

Selama periode 3 tahun di masa penyerangan dan pengumpulan dukungan lokal kepadanya, dan pertempuran mereka, William telah dengan mudah mengumpulkan pemahaman dan pengetahuan tentang siapa yang musuh-musuhnya itu dan bagaimana mereka mempersiapkan taktik dan rencana pertempuran melawan taktik gerilyanya, sesuatu yang belum pernah dilakukan sebelumnya. Sampai pada William Wallace, tak seorangpun yang pernah menangani musuh sedemikian rupa -William menemukan bakat baru dalam menyerang dan memukul kekuatan dan pasukan dalam jumlah yang lebih besar dari jumlah pasukannya sendiri.

Bertempur dan bersembunyi dalam hutan seluas Selkirk yang besar, pasti kita tidak dapat membayangkan bagaimana orang sebesar itu dapat mudah bersembunyi di dalamnya. Tentu ini bukanlah suatu pemikiran yang mudah untuk untuk mengatakan bahwa ia dapat dengan mudah menyembunyikan, membungkukkan dirinya dan membuka jalan sampai ke pasar yang penuh sesak untuk memperoleh persediaan dan mengumpulkan dukungan. Tetapi Ia telah sukses melakukan itu semua sejak ia masih muda!

Satu kesaksian menceritakan bahwa ia tidak dapat menahan diri untuk menerima tantangan dari orang Inggris yang tak sopan -yang memiliki cukup reputasi dalam olah raga angkat besi. Untuk empat penny ia akan membiarkan orang tersebut memukul punggungnya dengan tongkat keras yang ia bawa. William menawarkan orang tersebut 3 kali seperti biasanya untuk perlakuan khusus, dan sesudah itu ia memukul orang tersebut dengan kekuatannya yang besar untuk mematahkan punggungnya. Seorang prajurit lain datang mencoba untuk menundukkan William tetapi ia melumpuhkannya dengan tongkat dan mematahkan leher yang lainnya, kemudian menghunus pedangnya, menjatuhkan prajurit yang ketiga dan memotong sampai ketiak baju besi prajurit keempat. Termasuk orang yang tak sopan itu. William telah membunuh lima orang Inggris dalam kesempatan yang singkat namun berdarah ini sebelum akhirnya ia melompat ke atas kuda terdekat dan melarikan diri kembali ke Hutan Leglen tempat persembunyiannya.

Kesaksian yang lain membuat gambaran publik terhadap William menjadi abadi. Dalam suatu percobaan untuk membantu seorang pemuda yang tertangkap oleh pasukan Inggris, ia menyerang pasukan yang banyak namun ia terlambat menyadari bahwa dirinya tersudut dan akhirnya dapat dikalahkan. Ia dijatuhkan, diikat dan dimasukkan kedalam penjara. Pada waktu itu ia hanya dianggap sebagai seorang penjahat biasa dan Si Jangkung tak terlalu mempedulikannya dan hanya pasukan Inggris setempat yang menginginkan kematiannya. Ia dilemparkan ke dalam penjara dan dibiarkan untuk mati. Sipir diperintahkan untuk memberi makan dia hanya dengan roti dan ikan haring busuk, setelah beberapa lama, mingu ke minggu dan kelaparan mereka salah mengira bahwa William telah mati setelah ia mengalami koma. Berita itu kemudian tersebar bahwa William Wallace sudah mati dan tubuhnya dilemparkan ke atas tumpukan rabuk dan dibiarkan membusuk.

Mendengar kabar kematiannya seoran kawan lama, yakni perawat pertamanya, mendatangi penjara dan meminta agar dia dapat membawa jenazah Wiiliam untuk kemudian menguburkannya secara layak. Tentu saja dengan keadaan William yang telah mati dan luar biasa itu nampaknya cukup aman bagi pihak keamanan yang sedang bersuka cita dengan membiarkannya menguburkan William.

Dia mengambil tubuh William kembali ke rumahnya dan mulai membersihkan dan merapikan tubuhnya untuk penguburan yang pantas baginya. Namun, saat ia membersihkan tubuh William ia melihat tanda-tanda kehidupan kemudian ia mulai menyuapkan makanan, bahkan putrinya, yang memiliki bayi berumur  duabelas minggu, menyusui William muda dan bersama-sama mereka keduanya membawa William dari jurang kematian. Adalah sesuatu yang luar biasa mememukan kasus koma seperti ini yang masih menunjukkan tanda-tanda kehidupan, refleks alami.

Pada waktu itu Sir Thomas Rymour Ercildoune mendengar tentang berita kematian William dan dengan segera mengirim seorang pelayan untuk mengetahui apa yang telah terjadi. Ketika pelayannya kembali dengan berita yang menyatakan William masih hidup dan telah menantang kematian langsung di mana nampaknya ia telah benar-benar kembali dari kuburnya, Sir Thomas Rymour, sebagaimana dikenal oleh kita yang mengenalnya sebagai ‘Thomas the Rhymer (Thomas si Penyair)”, menyatakan:

For sooth, ere he decease (Untuk sooth, disini ia mati),

Shall many thousands in the field make end (Akan banyak ribuan di lapangan yang berakhir).

From Scotland he shall forth the Southron send (Dari Skotlandia ia akan menghadapi kiriman Southron),

And Scotland thrice he shall bring to peace (Dan Scotland tiga kali akan dibawanya menuju damai).

So good of hand again shall ne’er be kenned

Thomas Rhymer, telah meramalkan kematian Alexander III dan secara luas ia dihormati di sepanjang hidupnya seperti dukun dan nabi. Sejak William ditempatkan di dalam lingkaran mistis dan kebatinan yang sama dengan Alexander III, tidak hanya pihak Inggris yang jauh di selatan seperti London yang memasang telinga mereka, tetapi juga William dengan sendirinya telah merasa bahwa ia adalah seseorang yang spesial apalagi dengan –takdir yang telah diramalkan, apakah tak ada hal yang tak dapat ia lakukan? Ia telah menantang kematian di hadapan wajahnya dan memenangkannya. Dengan takdir di depannya, hal itu tak seberapa lama sebelum  kerabatnya dan dan temannya sesame orang Skotlandia mengumpulkan dukungan baginya.

Saat itu juga adalah masa dimana masa ia merasakan bahwa perasaannya pada gadis-gadis muda dapat membawanya pada kesulitan besar. Bermain-main cinta dengan gadis-gadis muda telah membuktikannya menjadi sebuah pemainan yang mengakibatkan banyak orang kabur dari pertempuran dan seringkali menempatkan dirinya dalam posisi kompromi yang mengakibatkan dirinya hampir sering ditangkap- lagi. Dasar playboy cap topi miring… Geblek!

Sampai akhirnya ia berjumpa dengan Marion Braidfute, gadis berumur delapan belas tahun, ahli waris dan putri dari Hugh Braidfute of Lamington dimana hatinya tertembus oleh panah cinta. William dan Marion tidak pernah menikah sama halnya seperti William percaya peperangan dan cinta tidak dapat dicampur, namun begitu, ia sering menemui Marion secara diam-diam di rumahnya. Pada saat itulah Marion melahirkan putri William. Banyak sejarawan akan menyangkal bahwa tak ada bukti apapun yang menyatakan bahwa William memiliki keturunan, dan jika ia memang telah menikahinya maka pastinya telah banyak buku sejarah yang merekam peristiwa itu. Marion dibunuh tidak lama sesudah kelahiran bayinya dan ini yang makin mendorong William ke dalam tindakan yang lebih jauh.

Selama waktu itu juga ia bergabung dengan kawan lamanya Thomas Halliday dan Edward Little yang yang lebih dari senang melihat William, menurut kabar angin, tidak mati. Kawan lama lainnya yang bergabung dalam kelompok itu adalah John Blair, Jika kita mengacu pada bagian sebelumnya mengenai pendidikan William, kita akan mengingat bahwa John Blair adalah biarawan ordo Benedictine yang meninggalkan biaranya untuk bergabung dengan William. Ia menghabiskan sisa waktunya dengan William dan mencatat tiap aksi yang mereka buat.

Jadi coba kita ikhtisarkan secara cepat. Kita memiliki cerita penjelajahan sekelompok pria yang membuat serangan mendadak pada pasukan dan garnisun Inggris. William, pemimpin, Marion sang nyonya dan, sekaligus, sekitar 15 orang skotlandia, salah satu dari mereka bernama Little (Edward Little), dan ditambah satu persamaan yaitu biarawan ordo Benedictine. Kedengarannya ada kesamaan ya?

Mesin propaganda sejarah Inggriskah?

William Wallace: I have been given nothing. God makes men what they are

Dikisahkan kembali oleh Fajar Wisesa, disarikan dari berbagai sumber.

5 pemikiran pada “Cerita Asli tentang Sir William Wallace (Braveheart) – Full Story

  1. Scotlandia memang menjadi salah satu “anggota” persemakmuran Inggris Raya, tapi dia adalah negara didaratan Britania Raya yang tidak pernah bisa di kalahkan oleh penjajah Inggris (England)

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s